BNI Rampungkan Buyback, Serap 16,3 Juta Saham

1 day ago 12

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mengumumkan telah menyelesaikan transaksi pembelian kembali atau buyback saham. BNI telah menyerap 16,37 juta saham dalam rangka buyback.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (22/2/2026), PT Bank Negara Indonesia Tbk menyebutkan telah menyelesaikan buyback saham sebanyak 16.377.700 saham.

Perseroan menyampaikan berdasarkan keterbukaan informasi 4 Februari 2025 dan 17 Februari 2025 serta keputusan RUPS Tahunan Perseroan 26 Maret 2025, dan RUPS telah menyetujui buyback saham perseroan yang telah dikeluarkan dan tercatat di BEI maksimal Rp 1,5 triliun. Hal ini termasuk biaya-biaya terkait buyback saham dengan memperhatikan perizinan serta ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Sehubungan dengan hal dimaksud, memperhatikan kondisi makro ekonomi, kondisi market, dan kebutuhan pelaksanaan pengalihan saham sesuai Keputusan RUPS Tahunan tanggal 26 Maret 2025 tersebut di atas, maka melalui Keterbukaan Informasi ini kami laporkan bahwa Perseroan telah menyelesaikan periode buyback dengan total saham yang telah dibeli kembali sebanyak 16.377.700 lembar saham,”

Perseroan menyatakan pelaksanaan buyback tidak memengaruhi kegiatan usaha dan pertumbuhan perseroan seiring memiliki modal dan cash flow yang baik untuk melakukan seluruh kegiatan usaha, kegiatan pengembangan usaha, termasuk buyback.

Buyback juga tidak mengurangi kepercayaan investor kepada Perseroan. Hal tersebut tercermin dari terjaganya valuasi saham perseroan dengan price to book value (PBV) yang meningkat dari 0,98x pada 26 Maret 2025 saat Perseroan mendapatkan persetujuan pelaksanaan buyback di Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, menjadi 1,01x pada 4 Februari 2026. Pada posisi yang sama, harga saham Perseroan meningkat dari Rp 4.250 per lembar menjadi Rp 4.630 per lembar.

Seiring buyback itu, pengalihan saham hasil buyback itu disimpan sebagai saham treasuri atau treasury stock.

RUPS Tahunan pada 26 Maret 2025 telah menyetujui tujuan pengalihan saham hasil buyback yang disimpan sebagai saham treasuri (treasury stock) melalui: Program kepemilikan saham pegawai; Program kepemilikan saham Direksi dan/atau Dewan Komisaris; dan/atau Pengalihan lainnya sesuai dengan persetujuan OJK.

Kinerja 2025

Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan laba bersih konsolidasi Rp 20 triliun sepanjang 2025. Dengan pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan (Year on Year/YoY), ditopang ekspansi ke sektor produktif.

Meski menghadapi tekanan eksternal tersebut, BNI mampu menjaga pertumbuhan kredit yang solid dan seimbang, memperkuat struktur pendanaan, serta mencatatkan perbaikan kualitas aset yang konsisten.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.

"Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," ujar Putrama di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Putrama menegaskan, transformasi BNI tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tetapi mencakup penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas. Upaya tersebut dijalankan melalui peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, optimalisasi jaringan kantor dan pemanfaatan data analytics, serta penguatan platform digital guna meningkatkan kualitas layanan dan customer experience secara berkelanjutan.

BNI juga secara aktif mencermati perkembangan makroekonomi serta menerapkan langkah mitigasi yang terukur untuk memastikan kebijakan strategis berjalan optimal dan mendukung kesinambungan pertumbuhan jangka panjang.

Rincian Kinerja

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, pertumbuhan kredit sebesar 15,9% di 2025, mencerminkan kinerja intermediasi yang tetap solid di tengah tantangan ekonomi global.

"Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Paolo.

Pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis CASA.

Hingga akhir 2025, pertumbuhan kredit sebesar 15,9% sepenuhnya didanai dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9%, ditopang pertumbuhan giro 43,8% dan tabungan yang tumbuh 11,2%. 

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko.

Kualitas Aset

Di kuartal IV 2025, perusahaan membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp 9,4 triliun. Pencapaian PPOP ini tertinggi dibandingkan dengan tiga kuartal sebelumnya. Akselerasi PPOP di kuartal IV ini disupport dari pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).

Adapun NII dibukukan sebesar Rp 40,3 triliun di 2025, dengan loan yield yang tertekan sebagai dampak penurunan suku bunga acuan. Sementara pendapatan non bunga tumbuh 5,2% menjadi Rp 24,6 triliun, didorong peningkatan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.

Dari sisi kualitas aset, tercatat adanya perbaikan berkelanjutan yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR). NPL bruto tercatat sebesar 1,9% atau membaik 10bps, sementara Loan at Risk (LaR) 8,5% atau membaik 1,8%, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio mencapai 46,9%, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.

"Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," jelas Paolo.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |