Bermula dari Tradisi Keluarga, UMKM Yoga Djaya Berjuang Mengembalikan Kejayaan Rempah Indonesia

5 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Hingga saat ini, Santi Wijaya Hesti Utami (47) masih memelihara tradisi minum rempah yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Secangkir minuman rempah hangat seperti jahe, kayu manis, kapulaga, serai, hingga cengkeh menjadi bagian dari budaya keluarga yang diwariskan antar generasi.

Bagi sebagian orang, tradisi ini tersebut mungkin terlihat tidak biasa karena lazimnya yang diminum setiap hari adalah teh ataupun kopi. Namun bagi Santi, kebiasaan inilah yang justru membentuk pandangannya tentang kekayaan rempah Indonesia. Di tengah menjamurnya berbagai minuman modern, ia justru melihat rempah-rempah lokal sebagai hal yang masih jarang disentuh, terutama oleh generasi muda.

Kegelisahan itu semakin kuat ketika ia bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang banyak terlibat di berbagai isu sosial masyarakat serta potensi sumber daya lokal. Dari sana lah muncul keyakinan bahwa rempah Indonesia selain layak dikonsumsi, tetapi juga perlu diperkenalkan dan dikembangkan kembali sebagai bagian dari identitas lokal.

Melalui usaha minuman rempah Yoga Djaya yang ia dirikan, Santi berupaya mengajak masyarakat untuk kembali akrab dengan rempah melalui cara minum yang dahulu populer di kalangan masyarakat Jawa.

"Saya merasa sayang sekali kalau rempah yang begitu melimpah di Indonesia justru semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Padahal dulu rempah menjadi bagian penting dalam keseharian keluarga," ujar Santi, saat ditemui Liputan6.com di gerainya, kawasan Suryoputran, Kemandungan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Selasa (2/6) lalu.

Lestarikan Tradisi Minum Rempah Warisan Orang Tua

Santi menceritakan bahwa, Kecintaannya terhadap rempah sudah ada sejak sejak kecil. Saat itu, orang tuanya memang selalu menyediakan minuman rempah setiap hari, untuk menambah energi.

Berbagai racikan tradisional yang dibuat orang tuanya lantas membuat Santi akrab dengan aroma dan cita rasa tradisional hingga sekarang. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang kuat. Ketika beranjak dewasa, ia mulai menyadari bahwa kebiasaan yang dianggap biasa di rumah ternyata tidak lagi banyak ditemui di era sekarang.

Menurut Santi, perubahan pola hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab tradisi tersebut perlahan memudar. Banyak orang mengenal jahe atau kunyit hanya sebagai bahan masakan, bukan sebagai minuman yang dikonsumsi bisa secara rutin.

“Tradisi ini lantas kami pegang, ini tidak lepas dari kebiasaan sehari-hari ibu saya yang saat itu juga aktif di kampung (sebagai penyuluh). Ketika sakit, kami nggak sedikit-sedikit ke dokter. Artinya, diupayakan kesembuhannya dengan obat yang ada di alam sekitar,” kata Santi.

Pengalaman Jadi Relawan Bencana di Aceh Membuatnya Semakin Percaya Potensi Rempah Indonesia

Sebelum mengembangkan Yoga Djaya, Santi sempat bekerja di salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang banyak bergerak dalam kegiatan pemberdayaan pada 2004 lalu.

Pekerjaan tersebut mempertemukannya dengan berbagai kelompok di sejumlah daerah. Dalam berbagai kesempatan, ia melihat langsung betapa kayanya Indonesia dengan tanaman rempah dan tanaman obat yang tumbuh di lingkungan sekitar warga.

Namun di saat yang sama, ia juga melihat banyak potensi tersebut justru belum dimanfaatkan secara optimal. Tidak sedikit masyarakat yang hanya menjadikannya sebagai bumbu masak ataupun manisan saja.

"Saya melihat Indonesia sangat kaya rempah. Banyak yang tumbuh di sekitar kita, tetapi sering kali tidak disadari nilainya. Dari situ saya semakin yakin rempah perlu dikenalkan kembali," ujarnya.

Ingin Dekatkan Rempah ke Generasi Muda

Kesadaran itulah yang kemudian mendorong lahirnya Yoga Djaya pada 2019 lalu. Santi melihat ada jarak yang lebar antara generasi muda dan budaya mengonsumsi rempah. Menurutnya, banyak anak muda menganggap minuman rempah sebagai sesuatu yang kuno, identik dengan orang tua, dan kurang menarik dibanding berbagai minuman modern yang berkembang saat ini.

Padahal, rempah memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia. Komoditas inilah yang dahulu menarik perhatian bangsa-bangsa asing datang ke Nusantara dan menjadi bagian penting dalam perdagangan dunia.

Melalui Yoga Djaya, Santi mencoba memperkenalkan varian minuman rempah mulai dari Bir Mataram, Bir Pletok, Wedang Uwuh, Wedang Wengi, Wedang Secang, Wedang Seruni, Kunir Asem, Empon-Empon, Wedang Rempah, Seger Waras dan lain-lain. Agar praktis, produk-produknya ini dikemas dalam beberapa ukuran dan dijual dengan harga yang berbeda-beda, mulai dari Rp 20.000, Rp 27.500, hingga yang kemasan premium Rp 35.000 per packnya.

"Jadi memang saya di sini ingin membawa misi edukasi ya, di mana saya ingin sekali anak-anak muda itu mengenal rempah. Bisa mengidentifikasi berbagai jenis rempah-lah yang ada di sekitar kita gitu dan identik dengan Indonesia," kata Santi.

Mengajarkan Masyarakat Menikmati Rempah dengan Cara yang Benar

Selain mengenalkan berbagai jenis rempah, Santi juga aktif mengedukasi masyarakat tentang cara menikmati minuman rempah yang tepat. Menurutnya, banyak orang merasa tidak menyukai minuman rempah karena cara penyajiannya kurang tepat. Padahal, setiap rempah memiliki karakter rasa dan aroma yang perlu dikombinasikan dengan benar agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

Ia menjelaskan rempah sebaiknya direbus sekitar 10 hingga 15 menit agar senyawa aktif yang terkandung di dalamnya keluar dengan baik. Setelah itu, minuman tidak perlu langsung diminum. Aroma yang muncul saat penyeduhan sebaiknya dihirup terlebih dahulu karena memberikan sensasi relaksasi dan menjadi bagian dari pengalaman menikmati rempah.

Setelah suhu mulai turun (menjadi hangat), minuman dapat dikonsumsi perlahan-lahan. Menurut Santi, menikmati rempah berbeda seperti saat menikmati minuman pada umumnya. Baiknya, memang dikonsumsi secara perlahan.

"Rempah itu dinikmati pelan-pelan. Aromanya dihirup dulu, lalu diminum perlahan. Dari situ kita bisa merasakan manfaatnya (aromatik) dengan lebih baik," ujarnya.

Kolaborasi Yoga Djaya dengan Fakultas Farmasi Sanata Dharma Perkuat Misi Edukasi Rempah

Keseriusan Santi dalam mengembangkan minuman rempah membawanya menjalin kerja sama dengan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kolaborasi tersebut lahir dari keinginan untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan berbasis pengetahuan ilmiah yang memadai.

Melalui kerja sama tersebut, Yoga Djaya mendapatkan pendampingan terkait proses pengolahan rempah, kualitas bahan baku, teknik pengeringan hingga penyampaian informasi manfaat produk kepada konsumen. Pendekatan ini dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih tepat mengenai rempah yang mereka konsumsi.

Adapun, disampaikan Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Dr.apt. Dewi Satyaningsih, M.Sc., langkah tersebut dinilai positif karena menunjukkan kepedulian pelaku usaha terhadap kualitas produk yang diproduksi.

"Kami membantu menegakkan klaim produk melalui pendekatan akademik sehingga informasi yang diterima konsumen memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Dewi Setyaningsih.

Mengenalkan Rempah ke Sekolah hingga Berbagai Komunitas

Bagi Santi, mengenalkan rempah tidak cukup dilakukan melalui penjualan produk. Karena itu, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan edukasi yang melibatkan sekolah, komunitas dan masyarakat umum.

Pada kegiatan tersebut, peserta diajak mengenal berbagai jenis rempah, memahami manfaatnya serta mempelajari cara mengolah rempah hingga menjadi minuman yang mudah dibuat di rumah. Kegiatan semacam ini rutin dilakukan karena dianggap efektif untuk mendekatkan masyarakat dengan kekayaan hayati Indonesia.

Senada dengan itu, perwakilan akademisi dari Fakultas Farmasi, apt. Agustina Setiawati, Ph.D., mengatakan bahwa semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat rempah, maka semakin besar pula peluang pengembangan tradisi rempah di masa depan. Hal ini turut menjadi dasar Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma memberi dukungan, terkait pentingnya pengenalan rempah kepada masyarakat luas.

"Jadi sini itu, kami menyediakan tenaga ahli itu untuk mengenalkan herbal gitu ya, terkait identifikasi dan penggunaannya, di masyarakat itu bagaimana. Nah, kenapa ini akan berjalan secara lanjut, karena kemarin itu ada upaya-upaya pengembangan kemasan herbal yang ramah lingkungan dari Yoga Djaya sebagai salah satu tujuannya, " kata Agustina.

Dukungan BRI Membantu Yoga Djaya Menjangkau Pasar Lebih Luas

Perjalanan Yoga Djaya berkembang semakin luas setelah Santi mengikuti berbagai program pemberdayaan UMKM yang diselenggarakan BRI, termasuk Brilianpreneur. Melalui program tersebut, ia memperoleh banyak wawasan baru mengenai pengembangan usaha, pemasaran hingga peluang pasar yang dapat dijangkau oleh produk-produk berbasis rempah.

“Upaya lain untuk mengenalkan minuman rempah ke generasi muda, saat dulu misalnya ketika dapat Brilianpreneur 2 kali dari BRI dan diajak pameran ke Jakarta sekitar tahun 2023-2024. Pas di lokasi pameran kan banyak anak-anak muda juga, lalu, saya ajak lah mereka untuk mencicipi produk Yoga Djaya. Saya selalu tekankan bahwa jangan takut untuk megkonsumsi rempah, karena tidak pahit,” terang Santi

Santi mengaku semakin percaya diri ketika mengetahui bahwa produk yang dibuat dari bahan-bahan lokal Indonesia ternyata memiliki daya tarik di pasar internasional. Saat ini, produk Yoga Djaya telah dinikmati konsumen dari berbagai negara seperti Prancis, Belanda, Singapura, Filipina hingga Selandia Baru.

Selain membuka akses jejaring yang lebih luas, BRI juga membantu mendukung transaksi usaha melalui layanan digital yang memudahkan konsumen dalam melakukan pembayaran.

“Jadi, saya juga pakai QRIS BRI dan ini membantu sekali ya kalau ada yang membeli tanpa harus mengeluarkan uang atau mencari kembalian.

Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, Santi memilih tetap berjalan dengan misi yang ia yakini sejak awal. Melalui Yoga Djaya, ia berharap rempah-rempah Indonesia tidak hanya dikenal sebagai komoditas masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi mendatang.

"Brilianpreneur membuka wawasan saya bahwa rempah Indonesia memiliki peluang besar. Dari program itu saya semakin yakin bahwa produk lokal bisa diterima oleh pasar yang jauh lebih luas," ujar Santi.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |