Bank BNI Rombak Jajaran Komisaris: Dirjen Kemenkeu Febrio Kacaribu Resmi Gantikan Suminto

3 months ago 54

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin 15 Desember 2025, yang salah satu keputusan utamanya adalah pengukuhan pemberhentian dan pengangkatan anggota Dewan Komisaris.

Rapat yang diselenggarakan secara daring ini dipimpin oleh Komisaris Utama BNI, Omar Sjawaldy Anwar, dan dihadiri jajaran Direksi termasuk Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan.

Salah satu agenda RUPSLB bank dengan kode saham BBNI ini adalah pemegang saham secara resmi mengukuhkan pemberhentian Suminto dari posisi anggota Dewan Komisaris BNI. Pemberhentian ini menyusul penugasan baru Suminto sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ex-officio Kementerian Keuangan sejak Oktober 2025.

“Masa jabatan Bapak Suminto sebagai Komisaris Perseroan berakhir sejak 8 Oktober 2025 dan pengukuhan pemberhentiannya ditetapkan dalam RUPS Luar Biasa ini," kata Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (16/12/2025).

Seiring dengan kekosongan posisi yang ditinggalkan Suminto, RUPSLB kemudian memberikan persetujuan untuk mengangkat Bapak Febrio Nathan Kacaribu sebagai Komisaris Perseroan yang baru.

Febrio Nathan Kacaribu saat ini dikenal menjabat sebagai Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) di Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Penunjukannya diharapkan dapat memperkuat struktur tata kelola BNI dan mendukung arahan strategis di tengah dinamika regulasi dan persiapan tahun buku 2026.

Kinerja Solid

BNI menutup kuartal III 2025 dengan kinerja keuangan yang solid di tengah dinamika ekonomi global, ditopang penguatan fundamental, efisiensi pendanaan, serta transformasi digital yang berkelanjutan.

Hingga akhir September 2025, penyaluran kredit BNI mencapai Rp 812 triliun, tumbuh 10,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) dengan pertumbuhan kredit yang lebih seimbang dan sehat di semua segmen bisnis.

Kredit korporasi tumbuh 12,4% YoY menjadi Rp 451 triliun, sementara segmen menengah dan UMKM non-KUR masing-masing meningkat 14,3% YoY menjadi Rp 120 triliun dan 13,9% YoY menjadi Rp46 triliun.

Segmen konsumer juga mencatat pertumbuhan 9,6% YoY menjadi Rp 150,2 triliun, didorong oleh peningkatan permintaan KPR, personal loan, dan kartu kredit.

Pada level grup, kredit usaha anak perusahaan tumbuh 15,3% YoY menjadi Rp 17,4 triliun.

Pendanaan

Di sisi pendanaan, dana murah (CASA) tumbuh 13,3% YoY menjadi Rp 613,4 triliun yang ditopang oleh pertumbuhan solid pada Giro sebesar 14,0% YoY dan Tabungan sebesar 12,6% YoY.

Sementara itu pertumbuhan deposito mencapai 40,4% YoY menjadi Rp 320,9 triliun termasuk faktor adanya injeksi likuiditas dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Kementerian Keuangan.

Akumulasi total Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 21,4% YoY menjadi Rp 934,3 triliun di akhir September 2025.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |