Analis Prediksi IHSG Berpeluang Sentuh 9.000 pada 2026

3 months ago 63

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang sentuh 9.000 pada 2026. Level IHSG itu tercapai asal didukung pemangkasan suku bunga global dan domestik.

"Peluang IHSG untuk tembus 9.000 masih terbuka, terutama jika didukung oleh penurunan suku bunga global dan domestik, nilai tukar Rupiah yang menguat terhadap USD, dan inflow asing,” ujar Pengamat Pasar Modal Reydi Octa saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin (28/12/2025).

Demikian juga disampaikan Fund Manager Syailendra Capital Rendy Wijaya. Ia menuturkan, IHSG masih dapat bertumbuh positif pada 2026 yang didukung sentimen global yang lebih positif. “Kondisi ekonomi domestik yang lebih baik pada tahun mendatang didukung oleh aktivitas konsumsi yang berpotensi meningkat,” ujar Rendy.

Ia menambahkan, berita aksi korporasi pada emiten konglomerasi cukup banyak pada 2025. Hal ini di tengah peningkatan harga saham yang tajam pada saham konglomerasi.

"Investor tetap harus rasional dengan selalu mempelajari kondisi perekonomian domestik dan global atau meng-analisa secara top-down agak memiliki basis yang jelas dalam memilih suatu saham,“ kata Rendy.

Terkait sektor saham, Reydi menilai sejumlah sektor saham yang dapat dicermati pada 2026 yakni sektor perbankan dan consumer baik siklikan dan nonsiklikal.

"Investor tetap harus rasional dengan selalu mempelajari kondisi perekonomian domestik dan global atau meng-analisa secara top-down agak memiliki basis yang jelas dalam memilih suatu saham,“ kata dia.

Sektor Saham

Untuk sektor saham pilihan, Reydi memilih sektor saham perbankan besar yang belum secara masif diakumulasi asing. “Sektor Energi dan komoditas yang harga acuan global nya menguat juga patut dicermati,” ujar dia.

Ia menilai, investor cenderung memfokuskan pilihan pada saham kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi, emiten dengan fundamental kuat, neraca sehat serta pertumbuhan laba berkelanjutan. “Saham mid-cap selektif yang memiliki katalis korporasi dan eksposur terhadap tema pertumbuhan struktural,” ujar dia.

Sementara itu, Rendy memilih sektor saham perbankan dan consumer baik siklikal dan nonsiklikal. Sektor saham tersebut dinlai cukup tertekan pada 2025 dan seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik, sektor-sektor tersebut dapat tumbuh positif. “Pendekatan strategi untuk 2026 dapat menggabungkan antara bottom-up dan top-down approach,” kata dia.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi

Kinerja IHSG pada 22-24 Desember 2025

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot selama tiga hari perdagangan saham pekan ini. IHSG sepekan turun 0,83% pada 22-24 Desember 2025. IHSG ditutup ke posisi 8.537,91 dari posisi 8.609,55 pada pekan lalu.Kapitalisasi pasar juga terpangkas 1,17% menjadi Rp 15.603 triliun dari pekan lalu Rp 15.788 triliun.

Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menuturkan, IHSG masih lesu seiring santa claus rally effect belum terlihat. Hal itu termasuk di bursa saham global. “IHSG masih negatif karena santa claus rally effect belum terlihat,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Selain itu, dari domestik, menurut Nafan, saham konglomerasi dan konvensional masih menguat terutama dari saham bank berkapitalisasi besar.  "Dari katalis domestik relatif minim. Data ekonomi tidak ada yang dirilis,” ujar dia.

Pada pekan depan, Nafan menuturkan, IHSG akan bergerak di level support 8.506 dan 8.448 dan level resistance 8.600 dan 8.666.

Di sisi lain, pada pekan ini, rata-rata frekuensi transaksi turun 2,23% menjadi 2,74 juta kali transaksi dari 2,80 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Selanjutnya, rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini merosot 18,44% menjadi 38,34 miliar saham dari 47 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian BEI terpangkas 30,91% menjadi Rp 23,70 triliun dari Rp 34,30 triliun pada pekan lalu. Investor asing melakukan aksi beli saham Rp 4,03 triliun selama sepekan. Aksi beli saham oleh investor ini lebih besar dari pekan lalu Rp 3,27 triliun.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |