Tawuran Warga di Makassar, 1 Orang Tewas Diduga Tertembak Senapan Angin di Kepala

1 week ago 13

Liputan6.com, Makassar - Bentrokan berkepanjangan antara kelompok pemuda dari Kampung Borta dan Sapiria, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, memakan korban jiwa. Seorang pemuda bernama Sutte, atau dikenal dengan sapaan Civas, dilaporkan meninggal dunia diduga akibat terkena tembakan senapan angin di bagian kepala.

Belakangan, sebuah pesan berantai yang menyebut Civas adalah panglima perang dalam tawuran warga tersebut pun tersebar dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya.

"Sekadar info jangan lewat depan Boroangin Lannampu, panglimanya Sapiria meninggal dikena senapan burung. Sebentar perang besar-besaran kalau sudah dikebumikan," demikian tertulis dalam pesan berantai tersebut.

Kapolsek Tallo, Kompol Syamsuardi, membenarkan insiden tersebut. Ia menyebutkan bahwa satu orang tewas saat pertikaian pecah.

"Iya ada katanya, ada (yang meninggal saat bentrok Sapiria)," kata Syamsuardi saat dikonfirmasi, Selasa (18/11/2025).

Saat ditanya terkait pesan berantai itu, Syamsuardi mengaku akan menyelidikinya. Ia pun mengimbau warga agar tidak melintas atau mendekat di lokasi bentrokan mengingat situasi yang dinilai berbahaya.

"Saya belum tahu itu (pesan berantai), tapi saya imbau dulu jangan mendekat di situ kalau begitu ancamannya. Cari jalan lain," katanya.

Saat ini, polisi masih menyelidiki penyebab pasti kematian korban, termasuk memastikan apakah luka fatal tersebut memang berasal dari peluru senapan angin atau faktor lain.

"Untuk itu kita masih melakukan pendalaman, masih penyelidikan apakah (korban terkena) peluru itu atau bagaimana," tambahnya.

Bentrok Berkepanjangan Tanpa Solusi

Sebagai informasi, bentrok antarwarga di Kecamatan Tallo, Kota Makassar telah berlangsung lama. Bentrokan itu melibatkan sejumlah wilayah, mulai dari Kampung Sapiria, Borta, Jalan Lembo, Jalan Tinumbu Lorong 148, Jalan Layang dan sejumlah wilayah lainnya.

Polisi menyebut bentrokan itu merupakan buntut dari dendam lama yang tak pernah tuntas sejak tahun 1989. Namun spekulasi lain menyeruak, yang menyebut bahwa perang kelompok itu terjadi lantaran dugaan pengalihan perhatian dari peredaran narkotika dalam jumlah besar di kawasan utara Kota Makassar tersebut.

Polisi, TNI dan Pemerintah Kota Makassar sendiri sebenarnya tak tinggal diam atas bentrokan tersebut. Seluruh stakeholder telah berbuat banyak untuk meredam ketegangan yang terjadi.

Mulai dari melakukan mediasi antarwarga, kegiatan humanis bertajuk Ngopi Kamtibmas, hingga mempertemukan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama di wilayah setempat.

Sayangnya upaya itu tak berbuah hasil. Perang kelompok antarwarga masih saja terus terjadi tanpa henti.

Kini warga setempat menganggap bentrokan itu hanyalah hal biasa dan jadi makanan sehari-hari. Bahkan sebagian dari warga memanfaatkan bentrokan itu sebagai konten siaran langsung di TikTok.

Bentrokan sebenarnya sempat redam, saat pihak kepolisian mendirikan posko keamanan sementara yang melibatkan anggota Brimob, TNI dan Satpol PP. Namun ketika penyiagaan posko keamanan itu dihentikan, perang kelompok kembali pecah.

Dalam bentrokan yang terjadi selama sebulan terakhir, pihak kepolisian sebenarnya telah berulang kali berupaya membubarkan. Namun upaya itu ternyata mendapat perlawanan dari emak-emak yang tinggal dilokasi bentrok. Mereka diduga tak mau jika anak meraka yang terlibat bentrok ditangkap polisi.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |