Liputan6.com, Jakarta Saham Apple mengalami penurunan menyusul pengumuman tarif impor baru oleh Amerika Serikat terhadap sejumlah negara Asia.
India mendapat tarif sebesar 26% dari AS, Jepang mendapat bea sebesar 24%, Korea Selatan 25%, Taiwan 32%, Vietnam mendapat tarif sebesar 46%, dan Malaysia menerima tarif sebesar 24%. Sementara itu, China sekarang berada pada tingkat tarif 54% setelah kenaikan tarif sebesar 34% dari tarif 20% yang berlaku saat ini.
Mengutip CNBC International, Jumat (4/4/2025) saham Apple merosot lebih dari 9% pada hari Kamis (3/4) waktu setempat, dibandingkan dengan penurunan 6% untuk Nasdaq.
Penurunan itu mendorong nilai Apple melemah lebih dari USD 300 miliar kapitalisasi pasarnya, dan merupakan kinerja terburuk dalam satu hari untuk saham tersebut sejak Maret 2020.
"Ketika Anda melihat tarif timbal balik ke negara-negara seperti pasar seperti Vietnam, India, dan Thailand, tempat Apple mendiversifikasi rantai pasokannya, tidak ada tempat untuk melarikan diri," kata analis di Morgan Stanley, Erik Woodring.
Menurut Woodring, untuk mengimbangi harga tarif Apple mungkin harus menaikkan harga di seluruh lini produknya sebesar 17% hingga 18% di AS.
Namun, masih banyak ketidakpastian seputar langkah Apple dan bagaimana China akan membalas kebijakan Amerika Serikat, jelas Woodring.
"Dalam lingkungan seperti ini, Anda harus memikirkan skenario terburuk,"bebernya.
"Sepertinya masing-masing pihak dalam skenario geopolitik ini seperti mengalah," tambah Woodring.
Dalam beberapa tahun terakhir, Apple telah menjual iPhone buatan India, AirPods dari Vietnam, dan komputer desktop Mac yang dirakit di Malaysia kepada warga Amerika sebagai salah satu bagian dari strateginya mendiversifikasi manufaktur dari China.
Strategi tersebut sekaligus sebagai lindung nilai untuk rantai pasokannya setelah perusahaan tersebut menghadapi tarif oleh pemerintahan Trump yang pertama, masalah rantai pasokan yang terkait dengan Covid-19 dan kekurangan chip yang menunjukkan risiko yang dihadapi perusahaan tersebut dengan memproduksi terutama di China.
S&P 500 Merosot Lagi ke Level Terendah Sejak 2020
Perusahaan-perusahaan yang berada dalam bursa S&P 500 telah kehilangan total nilai pasar saham sebesar USD 2,4 triliun dalam aksi jual di Wall Street pada hari Kamis (3/4).
Mengutip US News, Jumat (4/4/2025) aksi jual tersebut mendorong kerugian harian terbesar sejak pandemi awal pandemi COVID-19 pada 16 Maret 2020.
Pada awal pekan, S&P 500 telah menurun hampir 5% setelah tarif besar-besaran yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump memicu kekhawatiran akan perang dagang habis-habisan dan resesi ekonomi global.
Pada Senin (31/3), bursa S&P 500 dan Nasdaq Composite membukukan kinerja kuartalan terburuk sejak tahun 2022. Mengutip Economistimes, S&P 500 di hari itu merosot 4,6% dan Nasdaq Composite anjlok 10,5% pada kuartal pertama 2025.
Kedua indeks acuan tersebut juga mengalami penurunan tajam pada bulan Maret 2025, mencatat persentase penurunan bulanan terbesar sejak Desember 2022, karena Presiden Donald Trump memberlakukan serangkaian tarif baru yang menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang global.
Dow Jones Industrial Average tidak kebal terhadap kegelisahan tersebut, merosot 1,3% dalam tiga bulan pembukaan.
"Investor, kurang lebih pada kuartal pertama ini menyerah, karena Anda benar-benar tidak dapat melakukan perdagangan di sekitar ini," kata Adam Turnquist, kepala strategi teknis untuk LPL Financial.
Tujuh raksasa teknologi yang mendorong kenaikan selama pasar bullish yang berlangsung sepanjang tahun 2023 dan 2024, sangat membebani pasar ekuitas AS karena investor menjual nama-nama yang sedang tumbuh.
Pada hari Senin, baik S&P 500 maupun Dow untuk sementara waktu mengabaikan ketidakpastian seputar rencana tarif mendatang pemerintahan Trump, yang akan diumumkan pada Rabu besok (2/4).
IHSG pada 24-27 Maret 2025
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan pada 24-27 Maret 2025. Kenaikan IHSG didorong aliran dana yang masuk ke saham.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (29/3/2025), IHSG melonjak 4,03 persen ke posisi 6.510,62. Pada pekan lalu, IHSG susut 3,95 persen ke posisi 6.258,17.
Kapitalisasi pasar juga melonjak 2,81 persen menjadi Rp 11.126 triliun dari Rp 10.822 triliun pada pekan lalu. Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG menguat 4,03 persen dan disertai aliran dana yang masuk mencapai Rp 3,25 triliun. Penguatan IHSG didorong sejumlah faktor. Pertama, mulai masuknya kembali aliran dana investor asing ke IHSG.
Kedua, ada aksi korporasi emiten perbankan terutama kapitalisasi besar seiring adanya pembagian dividen. “Ketiga, ada pengumuman pengurus Danantara di mana juga diperkirakan menjadi sentimen positif dan mengangkat beberapa emiten BUMN, meskipun demikian investor juga akan mencermati dan menanti akan kinerja dari Danantara sendiri,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Keempat, Herditya menuturkan, menuturkan, gejolak politik yang berkembang di dalam negeri juga menjadi perhatian investor. Kelima, waktu perdagangan yang cenderung sempit dalam menyambut libur Nyepi dan Lebaran.