Merasakan Suasana Jogja Tempo Dulu di Desa Wisata Krembangan Kulon Progo

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta Suasana teduh langsung menyapa siapapun yang datang ke Desa Krembangan, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jalanan di sana sudah teraspal dan diperkuat dengan struktur beton di beberapa ruasnya. Ini tentu membuat nyaman para pengunjung yang singgah.

Belakangan wilayah ini memang menjadi tujuan pariwisata. Berdasarkan informasi yang diarsip Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) setempat, pengunjung kebanyakan berasal dari kelompok siswa sekolah, mahasiswa, sampai rombongan instansi tertentu.

Krembangan terus berupaya mengenalkan dirinya sebagai salah satu destinasi alam dan budaya di kabupaten berjuluk “The Jewel Of Java” tersebut.

Meski terbilang baru, sejumlah titik destinasinya sudah dipersiapkan dengan baik, melalui pendampingan dari Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI). Itulah mengapa, fasilitas di desa wisata Krembangan ini terbilang lengkap. Mulai dari bumi perkemahan, homestay, air terjun Goa Kebon yang eksotis, termasuk sanggar seni Wahyu Sentono Budhoyo yang menyajikan tradisi Wayang Sungging khas Jogja tempo dulu.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa mencicipi kuliner tradisional seperti masakan rumahan spesial kampung ala Pawon Srikandi, bakpia kacang hijau lembut, keripik umbi garut hingga dawet ganyong yang langka.

Goa Kebon dengan Fenomena Stalagnit Tumbuh yang Unik

Mengawali cerita dengan ramah, Kepala Unit Wisata di Desa Krembangan, Brenggadi Purwa, mengatakan bahwa saat ini Goa Kebon menjadi destinasi unggulan yang ada di Krembangan. Kunjungan pun tercatat dari berbagai latar belakang dan luar daerah.

“Seperti kemarin ada dari Institut Pariwisata Trisakti Jakarta 35 orang, lalu juga dari Persatuan Purnawirawan ABRI, lalu UNAIR juga. Biasanya wisatawan akan outbond dan main ke Air Terjun Goa Kebon,” sahut Brenggadi kepada Liputan6, Sabtu (15/11).

Akses menuju lokasi terpantau sudah bagus. Jaraknya hanya sekitar 5 menit dari area parkir. Sepanjang jalan yang dilalui, teduhnya pepohonan seolah menemani dan membantu melepaskan penat yang mengikat.

Brenggadi kemudian melanjutkan cerita. Disebutnya, bahwa, air terjun yang mulai diresmikan sejak 12 Mei 2026 ini kental dengan muatan sejarah. Mulanya, ini menjadi sumber pemenuh kebutuhan air warga. Ketika itu, genangan muncul dari rembesan dinding yang Lambat laun debitnya meningkat di sisi yang menjadi pusat air terjun sekarang.

Kehadirannya semakin eskotis lewat struktur batuan stalagnit yang kabarnya “hidup” dan terus bertumbuh setiap tahunnya.

“Kalau orang zaman dulu itu pada nyari airnya ke sini. Tebingnya dilubangi, tapi sekarang sudah ada mata air dan bebatuan stalagnitnya terus tumbuh. Ini juga tidak dalam, hanya satu meter dan anak-anak bisa bermain air, dengan tetap diawasi orang tuanya,” kata Brenggadi.

Selain kisah air terjun sebagai penyelamat kebutuhan air warga di masa lampau, terdapat juga jejak penyebar agama Islam, bernama Kiai Sholeh Al Bantani. Lokasi makamnya persis di atas tebing dan tak jauh dari sumber air bernama Kiai Pitu sebagai huju dari aliran sungai utama Goa Kebon.

Belajar Wayang Sungging dari Kulit Sapi

Semakin dalam menjelajah di Krembangan, suasana khas perdesaan Jawa kian terasa. Ini bisa dilihat dari adanya aktivitas kebudayaan di sebuah sanggar seni bernama Wahyu Sentono Budhoyo yang dikepalai seorang dalang muda bernama, Bayu Purwo Nugroho.

Pengunjung yang tertarik, bisa belajar secara langsung proses pengerjaan Wayang Sungging dengan didampingi pengelola, sekaligus membawa pulang souvenir lokal.

“Kalau wayang sungging Krembangan tempatnya di sanggar, dan memang ini jadi kekhasan budaya Jogja yang coba kami angkat. Di sana, bisa pesan wayang atau motif gantungan kunci dari kulit sapi,” tambah Brenggadi.

Siang itu, cuaca sedikit mendung. Kondisi ini rupanya tak menghalangi semangat Bayu yang sedang mengetukkan palu kayu ke paku tatah besi sepanjang 12 CM, di atas selembar kulit sapi putih pucat selebar kira-kira 30-60 cm.

Menurutnya, ini akan dijadikan wayang kulit pesanan dalang dari daerah lain. Setelah beberapa menit melakukan pemahatan di pola yang sudah dibuat. Motif wayang kemudian terbentuk, dan digoreskannya kuas kecil dengan beberapa kombinasi warna cat berpola gradasi.

“Ini namanya proses sungging atau mewarnai wayang, kombinasinya saya pakai gradasi agar terlihat hidup lewat transisi tebal tipisnya pola sesuai tokoh,” tutur pemuda 26 tahun itu.

Bayu mengenang, bahwa ia menyukai wayang sejak usia di bawah 10 tahun. Ketika itu, dirinya selalu minta ditemani menonton pertunjukkan wayang kulit di stasiun tv oleh sang bapak. Wayang ibarat telah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari kesehariannya.

“Istilahnya wayang itu seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, sebab, terdapat pelajaran berharga bagi kehidupan manusia, mulai dari politik, roman sampai persengketaan,” sebut Bayu.

Terkait aktivitas perdalangan, Bayu setidaknya telah melakukan 3 kali pentas di sekitar Krembangan saat peresmian desa wisata, termasuk di Klaten, saat mengikuti unjuk prestasi di awal karier bidang ini.

Satu hal yang mendorong dirinya ingin mengabdikan diri di kesenian Wayang Sungging dan perdalangan adalah karena kebudayaan tersebut butuh dilestarikan. Diharapkan upaya nguri-uri kabudayan yang dilakukan tidak sia-sia dan bisa berdampak juga bagi kemajuan wisata budaya di Desa Krembangan.

“Ya kalau harapannya, anak-anak generasi muda sekarang dan yang akan datang itu, mulai tertarik lagi sama wayang. Saya juga siap kalau di sini ada yang mau belajar Wayang Sungging atau bikin wayang,” tambahnya.

Menyantap Sajian Jogja Lawasan di Pawon Srikandi

Budi Wulandari, selaku Direktur BUMDES Binangun Arta Krembangan, menceritakan bahwa Konsep lokal Jogja memang sengaja diciptakan sebagai daya tarik utama pariwisata di Desa Krembangan. Ketika pengunjung datang, mereka akan langsung dijamu dengan sajian tradisional ala Pawon Srikandi dari ibu-ibu di Krembangan sebagai bagian dari paket wisata yang ditawarkan.

Ketika datang, pengunjung akan dikenalkan sajian khas Jogja lawasan seperti sayur nangka muda yang gurih bersantan, sambal ulek dengan cita rasa pedas yang pas, sampai tempe garit yang digoreng sedikit garing.

Menariknya, menu tersebut bukan disajikan di atas piring plastik atau kaca, melainkan di atas alat makan tradisional berbahan anyaman bambu yang dialasi daun jati kering. Keramahan ibu-ibu Srikandi seolah menguatkan kesan “pulang kampung” bagi pengunjung dari luar kota.

“Kearifan lokal sendiri memang jadi keunggulkan kami, terutama melalui kegiatan Pawon Srikandi sebagai penyedia jamuan tradisional, karena sudah jarang. Bagi orang kota ini mahal, dan makanan yang dibuat di pawon itu rasanya beda, lebih sedap,” ucap Wulan.

BRI Tuntun Krembangan Menuju Desa Wisata Budaya yang Profesional

Salah satu ikhtiar yang saat ini dijalankan adalah melakukan kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dari sini, peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) menjadi kuat dalam pengelolaan desa wisata dan produk UMKM di Krembangan.

Menurut Wulan, skema pendampingan dari Bank BRI membantu pihaknya bersama warga selaku pengelola, dalam menemukan identitas kebudayaan sebagai keunggulan pariwisata di Desa Krembangan.

“Bank BRI ini bantu kita buat mengangkat potensi kearifan lokal yang ada di desa, profil BUMDES, lalu penguatan laporan keuangan juga potensi-potensi lainnya yang bisa diangkat oleh Krembangan,” katanya.

Syarat penting profesionalisme suatu desa wisata tak hanya dari adanya identitas, tetapi juga melalui berbagai fasilitas yang memudahkan pengunjung serta pegiat UMKM-nya.

Salah satu unit usaha setempat yang merasakan kehadiran BRI secara langsung adalah Bakpia Aida. Sebagai salah satu UMKM di Krembangan, sang pemilik menyebut jika bank tersebut memudahkan proses transaksi dengan konsumen yang tidak memiliki uang cash saat membeli produknya sebagai oleh-oleh.

“Jadi, pembeli bisa langsung transfer ke rekening BRI saya ketika tidak membawa cash. Apalagi, di sini banyak yang pakai BRI jadi memudahkan orang yang mau beli,” kata pemilik UMKM Bakpia Aida Krembangan, Prastiwi Budi Lestari.

Sejalan dengan Mimpi Wisata Digital di Masa Mendatang

Desa Krembangan sendiri memiliki mimpi untuk menjadi salah satu destinasi wisata unggulan bertema budaya dan alam, baik di Kulon Progo juga Yogyakarta.

Selain itu, pengenalan digitalisasi keuangan juga telah dijalankan agar memudahkan transaksi bagi pengunjung sebagai penopang ekonomi di sana.Melalui peran BRILink sebagai “Bank Mini” di BUMDES Binangun Arta Krembangan, juga turut memudahkan warga sekitar yang akan tarik maupun transfer tunai, sekaligus, memudahkan pengunjung untuk menyedoalam kebutuhan uang cash secara langsung, tanpa harus ke bank atau atm terdekat.

“Bahkan, saat libur kami perwakilan BUMDes siap melayani warga agar bisa tetap transaksi, anytime, anywhere, melalui agen BRILink kami yang jaga, asal janjian dulu,” tambah Wulan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Desa Wisata Krembangan di Kulon Progo

1. Apa yang menjadi daya tarik utama Desa Wisata Krembangan?

Daya tarik utama Desa Krembangan adalah kombinasi wisata alam dan budaya. Salah satu ikon utamanya adalah Air Terjun Goa Kebon dengan fenomena stalagnit yang disebut terus tumbuh. Selain itu, wisatawan juga bisa belajar membuat Wayang Sungging serta menikmati kuliner tradisional khas Jogja lawasan.

2. Di mana lokasi Air Terjun Goa Kebon dan bagaimana akses menuju tempat tersebut?

Air Terjun Goa Kebon terletak di Desa Krembangan, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, Yogyakarta. Akses menuju lokasi terbilang mudah karena hanya berjarak sekitar 5 menit dari area parkir dan sudah tersedia jalan yang layak dilalui.

3. Apa aktivitas budaya yang bisa dilakukan wisatawan di Desa Krembangan?

Wisatawan dapat mengikuti proses pembuatan Wayang Sungging di Sanggar Seni Wahyu Sentono Budhoyo, mulai dari memahat kulit sapi hingga mewarnai wayang dengan teknik gradasi. Aktivitas ini dipandu oleh dalang muda setempat sekaligus bisa dijadikan pengalaman belajar budaya langsung.

4. Kuliner apa saja yang dapat dicicipi di Desa Wisata Krembangan?

Pengunjung dapat mencicipi hidangan tradisional khas Jogja yang disajikan oleh Pawon Srikandi, seperti sayur nangka muda, sambal ulek, tempe garit, hingga minuman tradisional seperti dawet ganyong. Selain itu terdapat produk UMKM seperti bakpia rumahan dan keripik umbi garut.

5. Apa peran Bank BRI dalam pengembangan Desa Krembangan sebagai destinasi wisata?

Bank BRI mendampingi BUMDES Krembangan dalam penguatan sistem pengelolaan wisata, keuangan, hingga branding desa. Selain itu, BRI juga memfasilitasi digitalisasi transaksi melalui BRILink sehingga memudahkan pembelian produk UMKM dan pelayanan wisata tanpa harus menggunakan uang tunai.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |