Menekraf Teuku Riefky Berharap JAFF Content Market Terus Bantu Ekosistem Film Nasional Mendunia

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya berharap keberadaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Content Market yang sudah berjalan dua tahun ini, secara berkelanjutan dapat membantu ekosistem perfilman nasional untuk terus mendunia.

JAFF Content Market disebutnya sebagai platform terbesar yang menjembatani kekayaan intelektual (HKI) atau intellectual property (IP) lokal, khususnya di industri perfilman menjadi produk global yang bernilai ekonomi.

JAFF Content Market yang berlangsung mulai 29 November -1 Desember di Jogja Expo Center (JEC), Daerah Istimewa Yogyakarta resmi dibuka Riefky. Sebanyak 118 tenant menjadi lokus yang mempertemukan rumah produksi dengan berbagai kekayaan intelektual lokal untuk berpeluang diadaptasi dalam film lepas, seri maupun animasi.

“Kami mengapresiasi apa yang dilakukan JAFF selama 20 tahun terakhir dan JAFF Content Market di tahun keduanya. Ini merupakan platform yang sangat membantu perkembangan ekosistem film nasional. Kemenkraf mendukung even bagi HKI seperti ini dan ekosistemnya semakin membesar,” kata Riefky, Sabtu (29/11/2025).

Dia menjelaskan, keberadaan JAFF Content Market ini memberi peluang terbukanya lapangan kerja berkualitas salah satunya melalui industri kreatif. Pemerintah juga tengah meningkatkan produk perfilman nasional dengan meningkatkan skill yang semakin kompetitif.

Baginya, industri kreatif di Indonesia sebenarnya tidak kalah kualitasnya dengan banyak negara maju. Namun apabila dibandingkan dengan yang di Hollywood, Jepang, Perancis, Inggris dan Korea yang bisa menjadikan industri kreatifnya mendunia, maka kehadiran JAFF Content Market seperti memberikan peluang.

“JAAF Content Market ini sangat penting. Di mana bertemunya para creator HKI kita dengan para produser, dengan investor, dan juga kesempatan untuk para konten kreator, supaya HKI-nya bisa dikomersialisasikan,” ujarnya.

Meski tumbuh pesat, namun Riefky melihat ada beberapa tantangan yang harus dihadapi pelaku industri perfilman. Dalam rapat kabinet bersama dengan Presiden Prabowo Subianto, dirinya menyebut salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri ini adalah akses pendanaan maupun insentif.

Tantangan kedua adalah akses pasar terutama ke layar lebar. Menurutnya saat ini keberadaan layar lebar masih sangat rendah sekali dari kebutuhan, sehingga kondisi ini menyebabkan banyak sekali film yang sudah diproduksi tidak masuk ke layar lebar.

“Nah harapannya, bisa masuk ke layar lebar itu juga secara keekonomian juga baik, tetapi sebagai kebanggaan yang sangat diharapkan,” paparnya.

Sedangkan tantang ketiga mengenai pembajakan film di platform, konten-konten atau di channel-channel digital. Kemenkraf menurut Riefky telah berkoordinasi dengan Kementerian Hukum serta Kementerian Informasi dan Digital agar tidak terlalu lambat merespons laporan mengenai pembajakan.

Diharapkan proses take down tidak membutuhkan waktu seminggu dua minggu setelah adanya laporan. Pasalnya rentang waktu ini sudah bisa digunakan pembajak untuk mengambil uang dari sekian puluh ribu atau ratusan ribu menonton film yang baru tayang di bioskop atau belum tayang di bioskop.

“Jadi, itu arahan Presiden dan kami mohon dukungan dari teman-teman semua agar dalam memperbaiki iklim dari perfilman nasional ini juga bisa semakin baik, sehingga seperti diperjuangkan oleh teman-teman melalui JAFF,” ucap Menekraf.

Head of JAFF Content Market, Robby Wahyudi menyebut even tiga hari ini menjadi momentum dan titik temu bagi sineas, produser, investor, dan pelaku industri kreatif Asia untuk berkolaborasi dan membuka peluang lintas sektor.

“Ini jembatan nyata antara aset kreatif Indonesia dan industri layar. Banyak cerita luar biasa yang lahir dari buku, lagu, atau gim lokal. Melalui platform ini, cerita-cerita itu mendapat kehidupan baru sebagai film atau serial,” ujarnya.

Sama seperti di tahun pertama, JAFF Content Market akan memilih 10 HKI terbaik yang nantinya akan difilmkan. Dari 10 HKI yang tahun kemarin terpilih, dua sudah dijadikan film dan satu dalam proses pembicaraan. Tahun ini diharapkan 10 kekayaan intelektual yang terpilih bisa menjadi film semua.

Robby memastikan 10 kekayaan intelektual lokal yang nantinya terpilih di tahun ini memiliki sesuatu yang menonjol karena orisinalitas dan potensi adaptasi ke berbagai format. Karya-karya tersebut telah melalui proses kurasi ketat oleh panel ahli dari industri film, penerbitan, hingga kreatif digital.

“JAFF Content Market menghadirkan pitching session terkurasi, business meeting, dan jejaring industri untuk mempertemukan kreator dengan produser dan investor. Inisiatif ini dirancang untuk menjembatani tahap pengembangan ide hingga realisasi di layar,” tutupnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |