Cerita Ibu Angkat Didatangi Prada Lucky dengan Tubuh Penuh Luka Usai Dianiaya Pakai Selang Kompresor

2 months ago 35

Liputan6.com, Jakarta Sidang lanjutan kasus kematian Prajurit Dua (Prada) Lucky Chepril Saputra Namo kembali digelar di Pengadilan Militer III-15 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam sidang tersebut, delapan saksi dihadirkan untuk memberikan keterangan atas tujuh belas terdakwa, yakni empat anggota TNI Angkatan Darat, dua orang dokter, dan ibu angkat mendiang Lucky, Maria Anselina Made.

Dalam kesaksiannya, Maria mengaku sempat mempertanyakan luka-luka di badan Prada Lucky.

"Waktu itu saya tanya, kenapa badan luka. Lucky lalu jawab kalau dia dianiaya para seniornya. Dia dipukul pakai selang kompresor," ujar Maria di hadapan majelis hakim yang dipimpin Mayor Chk Subiyatno, dengan dua hakim anggota Kapten Chk Dennis Carol Napitupulu dan Kapten Chk Zainal Arifin Anang Yulianto, serta oditur militer Letkol Yusdiharto, Nusa Tenggara Timur, Selasa (4/11/2025).

Maria kemudian bercerita. Pertama kali mengenal Lucky pada 26 Juli 2025. Saat itu, ia sering mengambil sisa makanan dari dapur batalion untuk diberikan kepada ternak babinya.

Dari sanalah perkenalan dengan Lucky terjadi. Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat hingga ia dan suaminya menganggap Lucky sebagai anak sendiri.

"Lucky sering datang ke rumah kalau sedang ada waktu izin bermalam. Ia anak yang sopan dan rajin bantu-bantu," kata Maria di persidangan.

Tangis Sepriana Paulina Mirpey pecah saat menceritakan derita putranya, Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang diduga tewas akibat penganiayaan.

Lucky Datang dengan Tubuh Penuh Luka

Dua hari setelah perkenalan itu, tepatnya 28 Juli 2025 sekitar pukul 07.00 Wita, Maria mendapati Lucky datang ke rumahnya dalam kondisi mengenakan kaus loreng, celana pendek hitam, dan tanpa alas kaki.

Saat itu, ia baru pulang mengantar anaknya ke sekolah dan menemukan Lucky sudah berada di dalam rumah.

“Langsung masuk rumah. Saat pulang, almarhum yang bukakan pintu kasih saya. Ia mengenakan kaus loreng dan celana pendek warna hitam tanpa alas kaki,” tutur Maria menjawab pertanyaan oditur Letkol Alex Panjaitan.

Lucky kemudian membuka bajunya dan menunjukkan luka-luka di tubuhnya. Ia mengaku kepada Maria bahwa dirinya dianiaya oleh para senior di barak menggunakan selang kompresor dengan cara dicambuk. Namun, ia tidak menyebutkan siapa pelaku penganiayaan tersebut.

“Lucky membuka bajunya ada bekas luka. Waktu itu tidak kasih tahu (nama) pelaku. Kami ngobrol di ruang tamu,” ucap Maria.

Maria menambahkan, Lucky juga sempat meminta dibuatkan teh panas dan lalu dia beristirahat di kamar. Maria sempat memberikan obat pereda nyeri serta meminta bantuan tetangga untuk mengompres luka-luka di tubuh Lucky.

Sebelum beristirahat, Lucky sempat berpesan agar Maria tidak memberitahukan keberadaannya kepada siapa pun, termasuk para seniornya di batalyon.

“Lucky sempat bilang, kalau ada yang tanya, jangan kasih tahu kalau dia ada di rumah saya,” ujar Maria.

Senior Datang Menjemput Lucky Meski Kondisinya Lemah

Tak lama setelah itu, Maria menerima telepon dari seseorang yang mengaku sebagai senior Lucky. Orang tersebut menelepon menggunakan ponsel Lucky yang tertinggal di barak.

Awalnya, Maria tidak memberi tahu keberadaan Lucky, tetapi beberapa waktu kemudian ia kembali ditelepon dan akhirnya mengakui bahwa Lucky memang berada di rumahnya.

“Tidak tahu siapa yang memberitahu mereka kalau Lucky ada di rumah. Sehingga saya akhirnya kasih tahu kalau memang Lucky ada di rumah. Mereka akhirnya datang sekitar 10 orang,” kata Maria.

Saat para senior datang, Lucky sedang beristirahat dalam kondisi lemah. Mereka kemudian membawanya kembali ke barak.

“Pada saat mereka datang jemput, saya sempat berpesan agar mereka tidak lagi pukul Lucky. Saya bilang, terlepas dari apa pun kesalahan yang dia buat, tolong jangan dia dipukuli lagi karena semua badannya penuh luka,” ungkap Maria.

Maria Tak Mendengar Lagi Kabar Prada Lucky hingga Diinfokan Meninggal Dunia

Sejak saat itu, Maria tidak lagi mendengar kabar dari Lucky. Hingga pada 4 Agustus 2025, ia menerima telepon dari ibu kandung Lucky yang memberitahukan bahwa sang prajurit dirawat di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo.

“Sampai di rumah sakit, saya lihat luka di tubuh Lucky tambah banyak lagi. Lebih banyak dari yang saya lihat awal waktu dia ke rumah,” ucap Maria.

Ia terus menengok Lucky di rumah sakit hingga akhirnya prajurit muda itu meninggal dunia pada 6 Agustus 2025.

Penetapan Tersangka

Kasus kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23) menjadi sorotan publik. Prada Lucky yang bertugas di Batalion TP 834/Waka Nga Mere meninggal dunia setelah diduga kuat menjadi korban penganiayaan oleh para seniornya.

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto menyampaikan bahwa sebanyak 20 personel TNI telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk seorang perwira, dan seluruhnya telah ditahan untuk proses hukum lebih lanjut.

Komandan Brigade Infanteri (Brigif) 21/Komodo, Letkol Inf Agus Ariyanto, turut membenarkan kabar kematian Prada Lucky dan menyatakan bahwa TNI berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini secara transparan sesuai hukum militer yang berlaku.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |