Liputan6.com, Jakarta Selain wisatanya yang menakjubkan, Dusun Boyong, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menjadi sorotan berkat munculnya pelaku UMKM lokal yakni Slondok Renteng Pak Mul. Produk camilan yang terbuat dari singkong ini dikenal dengan rasanya yang unik dan kemasannya yang khas dan rasanya yang gurih dan renyah.
Selama bertahun-tahun, slondok hanya dianggap sebagai camilan rumahan yang dijual musiman dan dijual saat berada. Namun melalui transformasi digital yang meresap hingga ke tingkat desa, produk ini berkembang menjadi usaha berorientasi ke pasar luas. Bahkan, produk tersebut berhasil menjadi salah satu oleh-oleh khas dusun Boyong.
Purwanto, anak dari Mulyono selaku pelaku produksi camilan ini mengatakan jika usaha tersebut mulai berdiri sejak tahun 1960-an dan usaha tersebut merupakan usaha yang turun menurun yang kini dipegang oleh Pak Mulyono sejak mulai tahun 1980 hingga saat ini.
“Poduk utama kami itu yakni slondok renteng. Produk tersebut sudah ada sejak zaman si mbah (kakek) dulu. Ini sudah turun temurun sejak tahun 1960-an lalu diteruskan oleh bapak saja mulai tahun 1980 sampai sekarang,” jelas Purwanto saat melakukan wawancara langsung dengan Liputan6.com.
Proses Pembuatan Slondok Renteng
Purwanto menjelaskan bahwa slondok buatannya berasal dari singkong yang dikupas, dikukus, lalu ditumbuk hingga halus yang dulu dilakukan secara tradisional dengan alu dan lumpang, namun kini menggunakan mesin buatannya sendiri. Adonan singkong tersebut kemudian diproses kembali melalui mesin khusus lain hingga membentuknya menjadi bulatan kecil dengan lubang di tengah seperti cincin. Setelah semua adonan terbentuk rapi, slondok dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering.
Jika sudah kering, slondok digoreng hingga mengembang dan berubah menjadi keemasan yang menggugah selera. Aroma gurih singkong langsung terasa saat slondok diangkat dari penggorengan, menandakan kematangannya yang sempurna. Setelah itu, slondok yang telah renyah disusun rapi dan dirangkai menggunakan iratan bambu hingga menjadi rentengan khas yang siap dinikmati.
“Slondok ini terbuat dari bahan singkong yang sudah di kupas terus dikukus, lalu dihaluskan. Dulunya menghaluskannya itu ditumbuk gitu pakai alu sama lumpang hingga menjadi adonan kue tapi kini kami sudah menghaluskannya pakai mesin yang sudah dirancang sendiri. Setelah dihaluskan baru dibentuk bulat-bulat seperti cincin dengan mesin satunya lagi,” ujar Pruwanto.
“Setelah itu kan, slondoknya kami jemur hingga kering lalu digoreng. Setelah digoreng matang, itu nanti direnteng pakai iratan bambu. Jadi kemasan produk kami itu menjadi kemasan tradisional. Seperti itu,“ jelasnya.
Sejarah Singkat Slondok Renteng
Slondok renteng yang kini menjadi camilan khas Boyong ternyata punya perjalanan panjang sebelum dikenal luas seperti sekarang. Purwanto mengatakan jika bentuk renteng yang menjadi ciri khasnya bukanlah tren baru, melainkan warisan cara berjualan para sesepuh sejak puluhan tahun lalu. Pada masa itu, slondok lebih sering dijajakan di acara tontonan rakyat seperti ketoprak dan hiburan keliling yang menjadi pusat keramaian warga.
Ia bercerita bahwa pada era 1960-an, plastik masih sangat langka sehingga pedagang harus mencari cara agar bisa membawa banyak slondok sekaligus.
“Sejarahnya slondok renteng itu kan dulunya pada tahun 1960 an itu si mbah si mbah dulu kan jualnya itu di tempat tontonan-tontonan rakyat, kayak ketoprak dan lain lain itu kan. Pada saat itu, plastik masih langka masih jaranglah,” terang Purwanto.
“Jadi gimana caranya biar membawa slondok itu bisa banyak, kalau misalkan pakai tangan kan, pakai genggaman itu cuma bisa bawa sedikit, jadi mereka menjadi cara supaya slondok renteng bisa dibawa banyak itu dengan cara slondok tersebut direntengi. Kayak gitu,” jelasnya.
Harga Produk danhingga Proses Penjualan
Purwanto menjelaskan bahwa slondok renteng produksinya dijual dalam beberapa jenis kemasan. Untuk kemasan besar dengan berat sekitar 400 gram, produk tersebut dibanderol dengan harga Rp14 ribu. Sementara untuk pembelian kiloan, slondok renteng dijual seharga Rp32 ribu per kilogram.
“Untuk slondok rentengan itu kami jual yaitu untuk kemasan besar yaitu berat kurang lebih 400gram kami jual itu 14 ribu. Untuk kiloan nanti kami jual seharga 32 ribu, itu yang kemasan rentengan besar.” jelasnya.
Ia bersyukur karena kini banyak reseller yang rutin mengambil produk dari rumah produksinya. Sebagian menjual langsung ke konsumen, sementara sebagian lainnya menyetorkannya ke pusat oleh-oleh di berbagai daerah.
“Jadi alhamdulillah kami banyak reseller reseller yang ngambilin di tempat kami nanti ada yang langsung dijual sendiri ada, yang di setorkan ke pusat oleh-oleh juga banyak,“ katanya.
“Kami ini yang konsisten itu kami (menjualnya) hingga ke daerah Banyumas, Purwokerto,” sambungnya.
Meski permintaan semakin meningkat, Purwanto tetap memilih fokus pada produksi dan menjaga kualitas. Ia menyerahkan penjualan online sepenuhnya kepada para reseller yang jumlahnya saat ini mencapai lebih dari 30 orang aktif.
“Kami cuma jualan offline di rumah. Jadi, kalo yang jualan online itu reseller reseller kami. Jadi kami tetap konsen ke produksinya. Jadi karena Alhamdulillah pasaran sudah ada, makanya kami fokus untuk meningkatkan mutu produksinya. Reseller kami sekitar 30-an lebih yang konsisten terus, untuk yang harian ada , ada yang seminggu 3 kali ada, seminggu sekali ada, sebulan sekali juga ada, jadi Alhamdulillah ada,” ujarnya.
Purwanto menambahkan bahwa slondok renteng produksinya memiliki daya simpan yang cukup panjang. Menurutnya, produk tersebut sebenarnya mampu bertahan hingga dua bulan setengah. Akan tetapi, ia menekankan jika produknya hanya bisa bertahan 2 bulan saja demi mempertahankan kualitas slondok itu sendiri.
“itu sampai dua bulan setengah, namun untuk lebih amannya kami 2 bulan aja dan juga produk kami juga ada ijin dari PIRT dan sertifikasi halal,” lanjutnya.
Varian Produk Lainnya
Tak hanya mengandalkan slondok renteng sebagai produk andalan saja, Purwanto bersama keluarga juga mengembangkan beberapa varian camilan lain. Di antaranya ada slondok pedas manis, keripik enthik, hingga olahan singkong tape yang dibuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar desa.
Inovasi tersebut muncul dari keinginan mereka untuk memanfaatkan potensi lokal semaksimal mungkin, sehingga tidak ada hasil panen yang terbuang percuma.
“Untuk varian rasa dan produk lainnya, kami menambah beberapa varian rasa yakni varian pedas manis, tapi itu tidak direnteng. Ada juga keripik enthik, keripik enthik sendiri itu bahan dasarnya dari keladi. Kebetulan disini banyak buah keladi, jadi kami memanfaatkan buah keladi. Ini ada juga tape, jadi disini ada singkong yang kecil kecil banyak. Sebagiannya kami buatkan jadi tape Sebagian kami buat untuk makan ternak yanvg kecil kecil. Jadi semua bisa dimanfaatkan.” sebut Purwanto.
Meski sebagian bahan berasal dari lingkungan sekitar, pasokan singkong utama tetap diperoleh dari para petani lokal yang sudah menjadi langganan lama. Purwanto menjelaskan bahwa ia mengambil singkong langsung dari sawah saat para petani selesai panen.
“Kalo singkong kami langsung ambil dari sawah. Jadi kami punya petani langganan, sewaktu mereka panen kami yang mengambilnya. Ada yang sistem borongan ada juga yang system kiloan,” ujarnya
Omzet per Hari hingga Rp2 Juta
Purwanto mengakui bahwa omzet usahanya tidak selalu stabil, namun rata-rata produksi harian berada di kisaran dua jutaan rupiah. Ia menegaskan bahwa angka tersebut merupakan keuntungan bersih setelah dikurangi biaya bahan baku dan operasional.
“Ya naik turun sih, sekitaran 2jutaan per harinya untuk produksinya. Tapikan itu ndak semuanya terjual dan kami juga harus menghitung biaya produksinya juga. 2 jutaan itu untung bersihnya lah,” kata Purwanto.
Dalam menjalankan usaha ini, Purwanto dibantu oleh anggota keluarganya yang berjumlah sekitar enam orang, termasuk kedua orang tuanya, dirinya dan sang istri, serta adik beserta pasangannya. Sementara satu orang lainnya bertugas khusus mengoperasikan mesin. Bahakan, ia juga melibatkan kerabat dekat yang ikut menjaga tradisi pembuatan slondok renteng agar tetap autentik.
“Kami sekeluarga cuma sekitar 6, ada bapak ibuk, terus saya sama istri, terus adik sama istri sama 1 orang yang mengoperasikan mesinnya itu. Itu untuk produksinya. Kemudian untuk tenaga merentengnya ada sendiri. Itu ada sekitaran 6 orang. Mereka kerja di rumah masing-masing. Kebetulan itu juga kerabat kami juga, ada bu lek ada bu de, seperti itu,” terangnya.
Turut Hadir dalam Peresmian Desa BRILiaN
Dalam kesempatan itu, Purwanto mengungkapkan bagaimana usahanya ikut dilibatkan sebagai bagian dari produk unggulan daerah saat peresmian Desa BRILiaN yang diinisiasi oleh BRI.
“Ya, kemarin pas ada di Desa BRILiaN, kebetulan kami juga termasuk UMKM yang ikut bergabung bersama BRI kan diajak gitu. Jadikan salah satu produk unggulan di daerah sini kan, kayak ada jedah tempe, ada slendok terus ada olahan-olahan kelor, ada banyak macam lah. Kemarin itu kan disini dijadikan desa BRILiaN kan kemarin ya. Jadi alhamdulillah kami juga ikut serta di dalam acaranya sebagai produk camilan khas oleh oleh disini,” ucap Purwanto.
Ia mengaku bahwa keikutsertaan mereka dalam acara tersebut memberikan dampak positif terhadap usahanya, terutama dalam hal perluasan jangkauan produk.
“Alhamdulillah banyak sekali. Jadikan lewat acara tersebut orang-orang diluar juga mengenal produk kami dan juga mempengaruhi penjualan kami pastinya,” jelasnya.
Syarat Mengikuti Program Desa BRILiaN 2025
Melansir dari website resmi BRI, adapun syarat untuk mengikuti program Desa BRILiaN 2025 sebagai berikut:
- Belum pernah mengikuti di program Desa BRILiaN.
- BUMDesa memiliki unit usaha yang aktif dan produktif yang memberikan layanan dan kontribusi pada desa dan bersedia menjadi AgenBRILink BUMDesa.
- Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) memiliki rekening simpanan BRI (Simpedes BUMDes). Jika belum memiliki akan dibantu oleh tim pemasar BRI Unit.
- Memiliki Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) baik produk UMKM, BUMDesa maupun Kelompok Usaha
- Mengisi Form Kesediaan Keikutsertaan Peserta Desa BRILiaN 2025 yang ditandatangani oleh Kepala Desa dan perwakilan peserta desa lainnya.
Peserta
- Kepala Desa dan Perangkat Desa.
- BUM Desa (Direktur dan Pengurus BUMDesa).
- Perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) atau Tokoh Masyarakat.
- Perwakilan kelompok usaha (Klaster).
- Pelaku Usaha Muda (Karang Taruna, Pokdarwis, dan sejenisnya).
Benefit
- Gratis Pelatihan dan Pendampingan.
- Peningkatan Kapasitas dan Kapabilitas Manajemen Desa.
- Hadian dan Penghargaan Nugraha Karya Desa

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425780/original/070502300_1764237713-Soto_Tahu_Kemasan_Mbah_Wongso.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427840/original/034604500_1764427484-Wali_Kota_Malang_menyerahkan_simbolis_kartu_peserta_BPJS_Ketenagakerjaan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427835/original/050060200_1764426419-Warga_di_Tapteng_jarah_minimarket.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427815/original/048729000_1764422295-Menkop_Ferry_Juliantono.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427802/original/051606200_1764420575-Direktur_LBH_Bandar_Lampung__Prabowo_Pamungkas_mendampingi_kontributor_Kompas_TV__Teuku_Khalid_Syah_usai_menjalani_pemeriksaan_lanjutan_oleh_penyidik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427781/original/052169100_1764417918-Menekraf_Teuku_Riefky_Harsya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424044/original/030657200_1764131018-52849dd0-061d-4666-bc04-84d17b11afb6.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427754/original/071713300_1764413958-Kain_khas_Banjar_sasirangan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427719/original/001336800_1764409785-Kejari_Enrekang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427078/original/086251000_1764326098-Gudeg_Mbok_Lindu__5_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427654/original/017622800_1764405244-1001250659.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427493/original/004240400_1764391254-IMG_8446.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427308/original/021516600_1764373824-Bobby_Tapteng.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5426970/original/092425800_1764322634-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427303/original/076868800_1764369660-IMG_8430.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427093/original/058674400_1764326703-1000794399.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1503744/original/055901900_1486724745-20170210--IHSG-Ditutup-Stagnan--Bursa-Efek-Indonesia-Jakarta--Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3893145/original/056566800_1641196873-20220103-Pembukaan_Awal_Tahun_2022_IHSG_Menguat-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5308006/original/092016000_1754532950-Hyundai-Ioniq-6-facelift-Korea-6-e1754452327720.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363858/original/020456500_1758978429-00004XTR_01383_BURST20250927170746.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3550569/original/020379800_1629871407-prison-553836_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307123/original/042222500_1754459147-IMG-20250806-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5299451/original/092313200_1753834571-1000012259.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3566688/original/041753800_1631185684-20210909-PPKM-IHSG-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5308152/original/095852800_1754537270-arenaev_001.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362984/original/084412600_1758878600-IMG_20250926_133459.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5303234/original/002591400_1754051852-WhatsApp_Image_2025-08-01_at_19.24.07.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5308100/original/050054800_1754535536-audi-brings-controller-free-in-car-airconsole-gaming-to-the-us_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5314624/original/007345000_1755106542-unnamed_-_2025-08-14T000834.478.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219870/original/030732300_1747234550-6b3509c8-8c66-4f8b-a4e0-2410f0c14a90.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324978/original/041094000_1755918453-1000815490.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4410634/original/016949900_1682850414-isaac-smith-6EnTPvPPL6I-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311006/original/028343100_1754811126-IMG-20250810-WA0001.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324719/original/081691500_1755859044-WhatsApp_Image_2025-08-22_at_17.28.12.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5295713/original/089477200_1753498280-VideoCapture_20250726-094705.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5330926/original/076261400_1756371149-WhatsApp_Image_2025-08-28_at_09.26.55_a1262786.jpg)