Badan Geologi Naikan Status Gunung Api Bur Ni Telong Aceh dari Normal jadi Waspada

2 days ago 12

Liputan6.com, Aceh - Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) menaikkan status Gunung Api Bur Ni Telong Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak Selasa 25 November 2025 pukul 09.00 WIB.

Menurut Plt Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria, keputusan itu diambil usai peningkatan kegempaan vulkanik usai terjadinya gempa tektonik berkekuatan M 4.3 yang berpusat 15 km timur laut Kabupaten Bener Meriah, Aceh, atau berada sekitar 16 km dari kawah Gunung Bur Ni Telong.

"Kejadian gempa tersebut diikuti oleh peningkatan gempa vulkanik di Gunung Bur Ni Telong, antara pukul 00.00 – 06.00 WIB telah terekam 18 kali Gempa Vulkanik Dalam, 6 kali Gempa Tektonik Lokal, dan 6 kali Gempa Tektonik Jauh," ujar Lana, Rabu (26/11/2025).

Lana menegaskan peningkatan kegempaan saat ini dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas tektonik regional di sekitar Gunung Bur Ni Telong.

"Hal ini terlihat dengan meningkatnya jenis Gempa Tektonik Jauh maupun Gempa Tektonik Lokal di sekitar Gunung Bur Ni Telong," ucap dia.

"Kondisi ini telah terjadi sejak bulan Juli 2025 dan telah terjadi 6 kali peningkatan Gempa Vulkanik Dalam. Pengamatan visual menunjukkan aktivitas hembusan asap kawah masih tidak teramati," sambung Lana.

Lana menerangkan potensi bahaya Gunung Bur Ni Telong dapat berupa erupsi yang dipicu oleh kejadian gempa tektonik di sekitarnya atau erupsi yang terjadi tanpa ada peningkatan kegempaan yang signifikan.

Dia menjabarkan, potensi ancaman bahaya lain dapat berupa hembusan gas-gas vulkanik di daerah sekitar tembusan solfatara dan fumarol yang dapat membahayakan jika konsentrasi gas yang terhirup melebihi nilai ambang batas aman.

"Rekomendasi untuk masyarakat dan pengunjung atau pendaki tidak mendekati area kawah Bur Ni Telong dalam radius 1,5 km dan tidak berada di daerah fumarol dan solfatara pada saat cuaca mendung atau hujan karena konsentrasi gas dapat membahayakan kehidupan," terang Lana.

Gunung Api Marapi Sumatera Barat kembali erupsi, dan menyemburkan abu vulkanik setinggi 1600 meter. Erupsi ini sempat mengejutkan warga karena dentumannya yang terdengar keras.

Sempat Turun Status

Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian ESDM memutuskan tingkat aktivitas Gunung Bur Ni Telong diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal) terhitung sejak tanggal 1 November 2025 pukul 12.00 WIB.

Awal November 2025 itu, rekomendasi yang diterbitkan yaitu masyarakat dan pengunjung atau pendaki tidak bermalam di area kawah serta tidak berada di daerah fumarola atau solfatara pada saat cuaca mendung atau hujan karena konsentrasi gas dapat membahayakan kehidupan.

"Berdasarkan data pengamatan kegempaan pada bulan Oktober 2025 menunjukkan jumlah Gempa Tektonik Lokal dan Gempa Vulkanik-Dalam yang berfluktuasi. Namun secara umum terjadi penurunan jumlah Gempa Tektonik-Lokal dan Gempa Vulkanik Dalam jika dibandingkan saat terjadi peningkatan kegempaan pada tanggal 22 September 2025," ujar Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid pada saat itu.

Kondisi ini menunjukkan terjadi pengurangan tekanan regional maupun tekanan pada tubuh Gunung Bur Ni Telong. Aktivitas asap kawah hingga saat ini masih belum teramati yang menunjukkan tidak terjadi peningkatan suhu di area kawah.

Meskipun demikian aktivitas kegempaan Gunung Bur Ni Telong perlu dipantau dengan intensif mengingat lokasinya yang dekat dengan sesar aktif dan sangat terpengaruh oleh peningkatan tekanan regional atau peningkatan Gempa Tektonik Lokal.

"Pada tanggal 22 September 2025 lalu tingkat aktivitas Gunung Bur Ni Telong dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Waspada II (Waspada) berkaitan dengan peningkatan Gempa Tektonik Lokal (TL) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA)," tukas Wafid.

Hujan Perkuat Erupsi Gunung Semeru: Seperti Botol Soda yang Diguncang dan Dibuka Tiba-Tiba

Sebelumnya, hujan yang mengguyur kawasan Jawa Timur bukan hanya menyebabkan banjir lahar dingin, tapi juga memicu efek botol soda yang memperkuat erupsi Gunung Semeru.

Hal itu diutarakan Pakar vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman. Singkatnya hujan turut memperparah aktivitas erupsi Gunung Semeru.

Mirzam menjelaskan, hujan menjadi faktor eksternal yang memperkuat tekanan erupsi Gunung Semeru melalui mekanisme penggerusan tutup kawah. Hujan, katanya, memiliki peran ganda yang fatal dalam aktivitas vulkanik Semeru.

Di mana, selain memicu letusan freatik akibat air yang menyentuh zona panas, air hujan juga mencuci lapisan abu vulkanik di puncak yang selama ini berfungsi sebagai 'katup' penahan tekanan magma.

"Hujan mencuci lapisan abu penutup, membuat penahan tekanan dari bawah melemah. Ini bisa diibaratkan seperti botol minuman bersoda yang sudah diguncang, kemudian tutupnya dibuka tiba-tiba, maka isinya akan menyembur keluar dengan kuat," ujar Mirzam, Selasa 25 November 2025.

Dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi, dan Geokimia ITB itu menegaskan bahwa fenomena hilangnya beban penutup kawah akibat gerusan air hujan ini, jauh lebih sulit diprediksi dibandingkan letusan reguler yang mengikuti siklus pengisian dapur magma.

Selain mekanisme tekanan 'botol soda', Mirzam yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menyoroti ancaman spesifik di tikungan sungai yang sering luput dari perhatian masyarakat.

Menurut dia, bahaya sekunder berupa aliran lahar tidak hanya bergantung pada volume curah hujan, tetapi juga geometri sungai. Aliran lahar yang memiliki viskositas atau kekentalan tinggi memiliki keterbatasan gerak saat melewati topografi sungai yang berkelok.

"Lahar yang kental tidak bisa bermanuver saat menghadapi tikungan atau belokan sungai secara tiba-tiba. Akibatnya, area kelokan sungai menjadi lokasi dengan potensi luapan terbesar yang harus dihindari warga," ujarnya.

Terkait peningkatan status aktivitas Semeru, Mirzam menyebutkan hal tersebut didasarkan pada parameter terukur seperti intensitas gempa vulkanik, perubahan komposisi gas, kenaikan temperatur, dan deformasi tubuh gunung.

Sebagai langkah mitigasi taktis bagi warga yang masih harus beraktivitas di radius aman namun terdampak abu, ia menyarankan penggunaan masker basah daripada masker kering.

"Masker yang dibasahi memiliki daya rekat dan daya hisap yang lebih tinggi terhadap partikel abu vulkanik, sehingga lebih efektif melindungi sistem pernapasan," jelas Mirzam.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |