Liputan6.com, Jakarta - Harapan BYD untuk masuk ke pasar pikap ramah lingkungan di Thailand kandas lebih cepat dari yang diperkirakan. Produsen mobil listrik asal Tiongkok tersebut resmi membatalkan penjualan BYD Shark 6, pikap plug-in hybrid (PHEV) andalannya, setelah jumlah pemesanan jauh dari target yang ditetapkan. Padahal, di banyak negara lain mobil-mobil BYD justru laris manis dan mampu menyaingi merek besar.
Berdasarkan laporan Paultan.org, Kamis (28/8/2025), Shark 6 pertama kali diperkenalkan di ajang Bangkok International Motor Show 2025 pada Maret lalu.
Model ini awalnya diproyeksikan hanya dipasarkan sebanyak 500 unit sebagai edisi terbatas. Namun, sambutan pasar ternyata tidak sesuai ekspektasi. Hingga periode pemesanan berakhir, total pesanan yang masuk hanya 153 unit.
Distributor resmi BYD di Thailand, Rever Automotive, bahkan disebutkan meminta pembatalan seluruh pesanan tersebut.
Menariknya, konsumen yang sempat mendaftar tidak mengalami kerugian karena tidak ada biaya booking yang dikumpulkan sejak awal.
Salah satu alasan utama mengapa BYD Shark 6 sulit menembus pasar Thailand adalah faktor harga. Mobil ini dibanderol hampir 1,7 juta Baht, atau sekitar Rp730 jutaan.
Harga tersebut membuatnya berada jauh di atas pikap konvensional populer di Thailand seperti Toyota Hilux, Isuzu D-Max, dan Ford Ranger yang selama ini mendominasi pasar.
Tingginya harga tidak lepas dari status Shark 6 sebagai mobil impor utuh (CBU) dari Tiongkok. Konsekuensinya, mobil ini harus menanggung beban pajak lebih dari 30 persen.
General Manager BYD Auto (Thailand), Ke Yubin, menjelaskan bahwa situasi tersebut membuat pihaknya sulit menawarkan harga kompetitif, meski teknologi yang dibawa tergolong unggul.
Sebagai langkah lanjutan, BYD dikabarkan akan memilih model pikap lain untuk diproduksi langsung di Thailand mulai tahun depan.
Dengan begitu, biaya produksi dapat ditekan dan harga jual bisa lebih sesuai dengan daya beli masyarakat setempat. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi model apa yang akan diposisikan sebagai pengganti Shark 6 di pasar Thailand.
Spesifikasi BYD Shark 6
Kendati gagal menembus pasar, BYD Shark 6 bukanlah produk sembarangan. Mobil ini hadir dengan dimensi besar, yakni panjang 5.457 mm, lebar 1.917 mm, tinggi 1.925 mm, serta jarak sumbu roda 3.260 mm.
Dimensi tersebut menempatkan Shark 6 sebagai salah satu pikap PHEV berukuran penuh di kelasnya.
Dari sisi performa, BYD membekali Shark 6 dengan teknologi Dual Mode Off-road Super Hybrid. Sistem ini menggabungkan mesin bensin turbo 1.5 liter dengan tenaga 184 PS/260 Nm bersama dua motor listrik: 231 PS/310 Nm di bagian depan dan 204 PS/340 Nm di bagian belakang.
Sebagai sumber energi, digunakan baterai Blade LFP berkapasitas 29,58 kWh. Kombinasi tersebut membuat Shark 6 memiliki tenaga yang sangat besar dan mumpuni, baik untuk penggunaan di jalan raya maupun kondisi medan berat.
Kontras dengan Sukses Global BYD
Menariknya, cerita Shark 6 di Thailand justru berbanding terbalik dengan kiprah BYD di pasar global. Di banyak negara, model listrik BYD laku keras, bahkan sempat mengantarkan BYD menyalip Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar di dunia.
Hanya saja, pengalaman di Thailand memperlihatkan bahwa keberhasilan di pasar internasional tidak selalu bisa diterjemahkan ke semua segmen.
Harga yang tidak kompetitif membuat konsumen pikap di Negeri Gajah Putih lebih memilih model konvensional yang lebih terjangkau, meski Shark 6 menawarkan teknologi yang lebih canggih.