Sentimen Timur Tengah dan The Fed Membayangi IHSG, Apa Saja yang Dicermati April 2026?

13 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Sentimen global dan domestik mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir Maret 2026. Hal itu terutama dari perkembangan konflik Timur Tengah.

Berdasarkan catatan Syailendra Research mingguan, dikutip Senin, (30/3/2026),  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga 6 April 2026. Di sisi lain, Houthi, kelompok militan yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan kedua terhadap Isarel pada 29 Maret 2026.

"Hal ini mengkonfirmasi konflik Amerika Serikat, Iran dan Israel yang belum kunjung membalik,” demikian seperti dikutip dari Syailendra Research.

Selain itu, Iran memberikan izin terhadap enam negara untuk melewati Selat Hormuz yakni China, Rusia, India, Pakistan, Irak dan Bangladesh.

Dari kebijakan moneter, the Federal Reserve (the Fed) menahan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) di level 3,5%-3,75% pada Federal Open Market Committee (FOMC) pada Maret 2026.

"Ekspektasi pemotongan suku bunga pada 2026 menjadi 1 kali dari sebelumnya dua kali dengan tingkat inflasi yang diperkirakan naik ke 2,7% dari sebelumnya 2,4%, demikian seperti dikutip.

Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyuntikkan tambahan likuiditas Rp 100 triliun ke sistem perbankan terutama Bank Himbara dan Bank DKI. “Tambahan dana itu diharapkan meningkatkan likuiditas sembari mengontrol pergerakan yield SBN tenor 10 tahun,” demikian seperti dikutip.

Seiring sentimen itu bagaimana dampaknya ke nilai tukar, obligasi dan saham global dan domestik?

Sepanjang 13 Maret-27 Maret 2026, nilai tukar rupiah melemah 0,12% ke posisi 16.909 terhadap dolar Amerika Serikat. Koreksi itu membuat rupiah menjadi mata uang terlemah dibandingkan negara Asia lainnya. Sebaliknya indeks dolar AS turun 0,37% ke level 100,19.

Data Ekonomi

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun terus naik dan kini berada di level 6,87% yang diikuti aliran dana asing keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar USD 50 juta. Hal ini melanjutkan aliran dana keluar pada 6-13 Maret 2026 sebesar USD 667 juta. Selain itu, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik signifikan ke 4,42% dalam periode sama.

Bagaimana pasar saham?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 15,46% pada 13 Maret-27 Maret 2026 ke level 7,097 dengan aliran dana keluar sebesar USD 1,21 miliar. Sementara itu, tiga indeks acuan di Amerika Serikat kompak tertekan. Indeks Nasdaq melemah 3,2%, indeks S&P 500 susut 2,3% dan Dow Jones tergelincir 1,3%.

Seiring sentimen pekan lalu, apa saja yang data ekonomi yang akan dicermati pekan ini terutama pada April 2026:

  • 1 April: Global Manufakturing PMI, neraca perdagangan dan inflasi Indonesia
  • 1 April: Penjualan ritel Year on Year (YoY) di Amerika Serikat dan Global Manufacturing.
  • 2 April: Neraca perdagangan Amerika Serikat, Initial Jobless Claims
  • 3 April: Tingkat pengangguran Amerika Serikat dan nonfarm payrolls.

Kinerja IHSG 25-27 Maret 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun terbatas usai libur panjang Nyepi dan Lebaran 2026, tepatnya pada perdagangan saham 25-27 Maret 2026. Analis menilai, pergerakan IHSG sepekan itu didorong sentimen global dan domestik.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (28/3/2026), IHSG turun 0,14% menjadi 7.097,05 dari pekan sebelumnya 7.106,83. Kapitalisasi pasar BEI melemah 0,24% menjadi Rp 12.516 triliun dari Rp 12.547 triliun pada pekan sebelumnya.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menuturkan, IHSG sepekan ini didorong kombinasi sentimen global dan domestik. Hal itu dimulai dari ketegangan geopolitik yang memicu tekanan jual yang tinggi, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), hingga pelemahan rupiah yang memicu aliran dana keluar.

“Di sisi lain, koreksi big caps terutama perbankan memperbesar tekanan indeks karena bobotnya dominan,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sektor Saham

Selain itu, investor asing melepas saham Rp 22,37 triliun pada pekan ini. Rendy menilai, aksi jual asing yang cukup besar lebih mencerminkan rebalancing global fund dan beralih ke aset yang risiko lebih rendah, bukan karena fundamental domestik yang memburuk drastis.

Untuk pekan depan, ia menuturkan, IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan sideways cenderung melemah, tetapi peluang technical rebound tetap terbuka jika tekanan eksternal mereda dan valuasi mulai dianggap menarik untuk akumulasi jangka pendek

Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini turun 4,81% menjadi 28,31 miliar saham dari 29,74 miliar saham pada pekan sebelumnya.

Di sisi lain, kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar 15,27% menjadi Rp 23,33 triliun dari Rp 20,24 triliun pada pekan sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian BEI sebesar 9,01% menjadi 1,73 juta kali transaksi dari 1,59 juta kali transaksi pada penutupan pekan sebelumnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |