PTBA Kantongi Laba Rp 2,93 Triliun di 2025 Meski Harga Batu Bara Turun

3 days ago 19

Liputan6.com, Jakarta - PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA mencatatkan laba sebesar Rp 2,93 triliun sepanjang 2025. Angka positif itu berhasil dicatatkan meski ada penurunan harga batu bara global.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail menyadari penurunan harga jual rata-rata batu bara imbas turunnya indeks Newcastle 22%. Namun, perseroan diklaim mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 lalu.

"Pada tahun 2025 perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 6,8 triliun dan margin EBITDA sekitar kurang lebih 14%," ujar Arsal dalam Konferensi Pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Meski laba bersih PTBA tercatat positif, namun angka itu masih lebih rendah dari laba bersih Perseroan sepanjang 2024 sebesar Rp 5,1 triliun.

Meskipun keuntungan mengalami tekanan harga global, Perseroan menunjukkan pemulihan (recovery) yang menjanjikan secara kuartalan. Hal ini didukung oleh posisi keuangan yang, tetap kokoh, ditandai dengan kenaikan arus kas operasi yang tumbuh signifikan sebesar 24% menjadi Rp 6,26 triliun, mencerminkan fundamental bisnis yang sehat.

Pertumbuhan aset meningkat menjadi Rp 43,92 triliun didorong oleh penambahan aset tetap strategis. Realisasi belanja moda (Capex) sebesar Rp 4,55 triliun difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim - Kramasan.

Kinerja Produksi

Sementara, PTBA sendiri tercatat meningkatkan volume produksi sebesar 9% menjadi 47,2 juta ton, serta mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 6% yang mencapai 45,4 juta ton. Volume angkutan batu bara juga naik 6% dari yang sebelumnya 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton di tahun 2025.

Arsal menekankan, ketahanan energi nasional menjadi prioritas. Ini tercermin dari mayoritas penjualan batu bara PTBA sebedar 54% untuk dalam negeri. Baru sisanya 46% dikirim ke berbagai negara.

"Kami juga melakukan diversifikasi untuk melakukan pemasaran-pemasaran yang selama ini konsentrasinya hanya ke China dan India tapi kami juga sudah mengembangkan ke Bangladesh, ke Vietnam, ke Korea Selatan dan Filipina dan juga kami juga mencoba kemarin ya ke Eropa, ini ke Spanyol dan Rumania," tutur dia.

Incar Produksi

Sebelumnya, MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia konsisten mendukung agenda ketahanan energi nasional melalui penyediaan pasokan batu bara yang andal dan berkelanjutan. Melalui PT Bukit Asam Tbk (PTBA), MIND ID terus mendorong peningkatan kapasitas produksi yang menjadi salah satu penopang utama bauran energi nasional.

Saat ini, Bukit Asam memiliki kapasitas produksi sebesar 43 juta ton per tahun dan menargetkan peningkatan kapasitas hingga mencapai 100 juta ton per tahun dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Sebagian besar produksi tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, di mana sekitar 52% produksi untuk mencukupi kebutuhan listrik domestik. Ke depan, permintaan batu bara domestik diperkirakan masih akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kebutuhan listrik, ekspansi industri manufaktur, serta pengembangan hilirisasi di dalam negeri.

Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID, Tedy Badrujaman, menyampaikan bahwa kedaulatan energi merupakan kebutuhan strategis bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya energi yang besar.

MIND ID sebagai salah satu pengelola cadangan batu bara nasional terus berkomitmen mendukung pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden.

"Proyek ini merupakan fondasi penting bagi ketahanan energi nasional, dan kami akan mengawal penyelesaiannya sesuai dengan rencana,” kata Tedy dalam Kunjungan Kerjanya ke Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Kamis (12/2/2026).

Tambah Kapasitas

Untuk memastikan kelancaran pasokan tersebut, Bukit Asam memulai pembangunan fasilitas Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6–7 pada jalur angkutan batu bara relasi Tanjung Enim – Kramasan. Fasilitas ini akan menambah kapasitas angkutan hingga 20 juta ton per tahun.

Hingga periode 31 Januari 2026, progres pembangunan CHF dan TLS 6 - 7 mencapai 80,81%. Untuk memastikan penyelesaian proyek, PTBA telah memperoleh fasilitas pendanaan sebesar Rp3,56 triliun dari tiga bank HIMBARA.

Tedy menambahkan, melalui pilar strategis optimalisasi logistik, PTBA akan terus didorong untuk melakukan peningkatan kapasitas angkutan sebagai prioritas utama.

“Kami berharap melalui proyek ini kapasitas angkutan batu bara PTBA dapat meningkat, sehingga perusahaan semakin mampu memperkuat kontribusinya dalam menjaga ketahanan energi nasional,” jelasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |