Perang Iran Masih Membayangi Pasar Keuangan Global

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Peristiwa global penting masih berputar di sekitar perkembangan perang di Iran, nada yang disampaikan oleh pemimpin global dan otoritas seperti bank sentral. Pemimpin tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei memberikan pesan publik pertama sejak mengambil peran resmi dan masih menerapkan sikap bermusuhan seiring untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup dan menyerukan agar pangkalan Amerika Serikat (AS) di wilayah itu menjadi sasaran.

Sementara itu, pesan public cukup ambigu seiring Presiden AS Donald Trump menyebutkan diskusi produktif dengan pihak Iran. Namun, Iran membantah negosiasi itu.

"Iran masih memakai Selat Hormuz sebagai pengaruh tetapi mungkin masih ingin menyisakan ruang untuk kemungkinan negosiasi,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Senin (29/3/2026).

Dari pihak Amerika Serikat, berita utama paling signifikan adalah penundaan serangan yang direncanakan Trump terhadap infrastruktur eneri Iran yang diumumkan Senin pekan lalu.

Efek langsungnya adalah optimisme yang mereda pada Selasa pekan lalu. Detil pentingnya adalah hanyalah jeda, dan jeda ini hanya untuk infrastruktur energi sehingga AS mungkin masih menargetkan fasilitas militer.

"Ini bukan de-eskalasi yang jelas dan mungkin merupakan strategi untuk mencoba kembali membuka meja perundingan,”

Jeda terbaru menunjukkan tenggat waktu hingga 6 April bagi Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz sebelum serangan terhadap situs energi dapat dilanjutkan.

Langkah AS

Sementara itu, AS mempertimbangkan untuk mengerahkan sekitar 10.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah yang mengirimkan sinyal ke pasar kalau konflik tersebut dapat berlanjut dan meningkatkan premi risiko.

Di sisi lain, OECD merevisi inflasi lebih tinggi untuk AS menjadi 4,2% pada 2026 karena perang Iran.

Selain itu, harga minyak awalnya turun pada Senin, hingga di bawah USD 85 per barel setelah pengumuman Trump tentang jeda. Akan tetapi, harga secara bertahap naik kembali hingga di atas USD 95.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun naik di atas 4,4% karena investor mempertimbangkan harapan perang yang berkepanjangan dan harga energi yang mendorong inflasi lebih tinggi.

Sentimen Risiko Global

Ashmore menilai, investor melihat kemungkinan kenaikan suku bunga oleh the Federal Reserve (the Fed), meskipun pengumumkan terbaru oleh ketua the Fed Jerome Powell tidka mengindikasikan langkah selanjutnya berupa kenaikan suku bunga.

“Secara keseluruhan, sentimen risiko global masih didorong oleh perkembangan perang di Iran,”

Adapun jangka pendek menunjukkan jeda hingga 6 April, tetapi serangan militer dapat berlanjut. Harga minyak lebih terpengaruh oleh harapan durasi konflik selain pasokan yang terus terbatas di pasar dengan gangguan logisti.

“Kami percaya di lingkungan saat ini mendorong pentingnya diversifikasi di antara dan dalam kelas aset,”

“Untuk obligasi kami menekankan pentingnya likuiditas dan kualitas dan tetap berpengang pada posisi defensif. Untuk saham, perusahaan yang menghasilkan pendapatan dalam dolar Amerika Serikat tetap menjadi pilihan, selain fundamental yang mendukung, sementara volatilitas tinggi,” demikian seperti dikutiP.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |