Pengamat: Usai Lebaran Momen Evaluasi Strategi Investasi Saham Biar Enggak Boncos

2 days ago 12
  • Mengapa investor perlu strategi hati-hati pasca Lebaran?
  • Apa langkah pertama yang disarankan bagi investor untuk menyusun ulang portofolio?
  • Strategi investasi apa yang disarankan Hendra Wardana dalam kondisi pasar yang belum stabil?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Momentum usai Lebaran kerap dimanfaatkan investor untuk kembali aktif di pasar sekaligus mengevaluasi strategi investasi. Tahun ini, langkah tersebut menjadi semakin penting mengingat kondisi pasar saham yang masih diliputi volatilitas tinggi akibat tekanan global dan domestik.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung fluktuatif membuat investor tidak bisa lagi mengandalkan strategi agresif seperti di fase bullish. Sebaliknya, pendekatan yang lebih hati-hati dan terukur menjadi kunci untuk menjaga kinerja portofolio tetap stabil.

Ia menilai, periode setelah libur panjang seperti Lebaran merupakan waktu yang tepat bagi investor untuk menyusun ulang portofolio agar lebih adaptif terhadap dinamika pasar yang ada saat ini.

"Dalam kondisi seperti ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan cenderung volatil karena investor global maupun domestik sedang menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan,” kata Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (24/3/2026).

Menurut Hendra, langkah pertama yang perlu dilakukan investor adalah mengevaluasi komposisi portofolio secara menyeluruh. Saham-saham dengan fundamental lemah atau terlalu spekulatif sebaiknya mulai dikurangi, terutama di tengah kondisi pasar yang masih rapuh.

"Dalam kondisi pasar yang masih lesu seperti sekarang, langkah utama yang perlu dilakukan investor adalah menjaga disiplin manajemen risiko. Pendekatan yang lebih rasional adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham dengan fundamental kuat ketika harga berada di area support yang menarik,” ujarnya.

Hendra menekankan, volatilitas tinggi dapat memperbesar risiko pada saham dengan likuiditas rendah. Oleh karena itu, investor perlu lebih selektif dalam memilih aset, dengan fokus pada emiten yang memiliki kinerja keuangan solid dan prospek bisnis yang jelas.

Selain itu, momentum usai Lebaran juga menjadi waktu yang tepat untuk merapikan strategi investasi, termasuk menyesuaikan target return dan toleransi risiko sesuai kondisi pasar terkini.

Strategi Bertahap Lebih Disarankan

Dalam kondisi pasar yang belum stabil, Hendra menyarankan investor untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar. Strategi akumulasi bertahap dinilai lebih aman untuk meminimalkan risiko akibat fluktuasi harga.

"Hal yang sebaiknya dihindari adalah melakukan panic selling ketika pasar mengalami penurunan tajam,” ujarnya.

Pendekatan ini memungkinkan investor memanfaatkan peluang di saat harga saham berada di area support yang menarik, tanpa harus mengambil risiko terlalu besar dalam satu waktu.

Selain itu, menjaga porsi kas dalam portofolio menjadi langkah penting. Likuiditas yang cukup akan memberikan fleksibilitas bagi investor untuk merespons peluang maupun mengantisipasi potensi koreksi lanjutan.

IHSG Masih Labil, Emas Diprediksi Kian Dilirik Investor Usai Lebaran

Sebelumnya, momentum setelah Lebaran membawa harapan baru bagi pasar keuangan, tetapi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, justru sektor emas tampil sebagai salah satu primadona. Ketika pasar saham masih bergerak fluktuatif, investor mulai melirik aset safe haven sebagai langkah perlindungan nilai.

Fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya risiko global, mulai dari konflik geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga yang belum pasti. Kondisi tersebut mendorong pergeseran preferensi investor ke instrumen yang lebih defensif, dengan emas menjadi pilihan utama.

“Dalam kondisi ketidakpastian global yang meningkat, investor global cenderung mengalihkan sebagian portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas atau obligasi pemerintah,” kata Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana kepada Liputan6.com, Senin (23/3/2026).

Ia menilai, fase pasca Lebaran tahun ini berpotensi menjadi titik awal meningkatnya minat terhadap sektor emas, terutama di tengah ketidakpastian yang belum mereda.

Hendra menjelaskan bahwa meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta fluktuasi harga energi menjadi faktor utama yang mendorong permintaan emas. Dalam situasi seperti ini, emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai yang paling aman.

“Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, sektor tambang emas justru mulai mendapatkan perhatian lebih besar dari investor,” ujarnya.

Saham Emas RI Mulai Dilirik Investor Global

Di sisi lain, sektor tambang emas Indonesia mulai mendapatkan perhatian lebih luas di kancah internasional. Sejumlah emiten emas nasional kini masuk dalam indeks global, membuka peluang masuknya dana asing.

Masuknya saham seperti Archi Indonesia, Amanah Gold Resources, dan J Resources Asia Pasifik ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index menjadi katalis penting bagi sektor ini. Indeks tersebut menjadi acuan berbagai produk investasi global, termasuk ETF berbasis tambang emas.

“Hal ini terlihat dari masuknya saham tambang emas Indonesia seperti Archi Indonesia, Amanah Gold Resources, dan J Resources Asia Pasifik ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index yang menjadi acuan berbagai produk investasi global,” ujarnya.

Menurut Hendra, pasca lebaran, peluang penguatan sektor emas dinilai masih cukup besar, terutama jika ketidakpastian global belum mereda. Dalam kondisi pasar saham yang masih cenderung volatil, emas dapat menjadi alternatif investasi yang lebih stabil.

Selain faktor global, prospek sektor emas juga ditopang oleh potensi ekspansi dari perusahaan tambang nasional. Peningkatan produksi serta eksplorasi cadangan baru menjadi faktor pendukung pertumbuhan jangka panjang.

“Dari perspektif pasar modal, inklusi ini memberikan dua manfaat penting bagi sektor emas Indonesia. Pertama adalah meningkatnya visibilitas global terhadap perusahaan tambang emas nasional,” ujarnya.

“Manfaat kedua adalah potensi masuknya arus dana pasif atau passive inflow dari ETF dan fund global yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi,” tambah Hendra.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |