Menavigasi Portofolio Investasi Merespons Tingginya Volatilitas Pasar Keuangan

23 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik memicu gejolak di pasar keuangan global. DI tengah sentimen itu dinilai menjadi peluang investor yang memiliki profil risiko agresif dan time horizon jangka panjang untuk menerapkan strategi buy on weakness saat investasi.

Adapun platform wealth management digital khusus nasabah High Net Worth Individuals (HNWI) yang merupakan kolaborasi Bareksa dan Jagartha Advisors yakni Bareksa Prioritas kembali menyoroti arah pasar keuangan. Bareksa dan Jagaartha Advisors melihat peluang investasi strategis di kelas aset ekuitas maupun obligasi.

Peluang ini diyakini justru muncul ke permukaan saat eskalasi geopolitik sedang memicu tingkat volatilitas yang tinggi di pasar finansial global.

Sorotan utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada ketegangan di kawasan Timur Tengah beserta ancaman dari Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan chokepoint vital bagi rantai pasok energi global karena terus dilewati oleh sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya.

Sentimen ini sempat memicu kepanikan di pasar energi yang mendorong harga minyak mentah WTI dan Brent sempat melonjak mencapai level tertingginya  di sekitar USD 117,63 dan USD 113,14 per barel. Kondisi tersebut pada akhirnya kembali menghidupkan ancaman imported inflation di berbagai kawasan.

Kondisi risk off tersebut berdampak langsung pada aksi jual di pasar saham dan obligasi global termasuk di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam lebih dari 14,73% dari level sebelum peristiwa konflik terjadi pada 27 Februari 2026-16 Maret 2026, sementara yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun sempat melonjak pesat hingga menyentuh level tertinggi di 6,93%.

Dinamika makroekonomi ini juga merombak ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Probabilitas pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed kini mulai meredup imbas risiko inflasi persisten yang membuat narasi higher for longer kembali menguat.

Strategi Investasi

Menyikapi volatilitas pasar ini Bareksa Prioritas menyarankan para investor khususnya yang memiliki profil risiko agresif dan time horizon jangka panjang untuk mulai menerapkan strategi buy on weakness. Strategi ini dapat dilakukan melalui akumulasi aset secara bertahap memanfaatkan harga instrumen investasi yang sedang terdiskon.

"Gejolak geopolitik saat ini memang memicu tekanan jangka pendek tetapi secara fundamental kondisi tersebut justru menciptakan entry point yang sangat menarik mengingat valuasi pasar saham domestik menjadi jauh lebih undervalued dan instrumen obligasi juga menawarkan tingkat diskon harga yang sangat menguntungkan,” ujar Chief Investment Officer Jagartha Advisors Erik Argasetya, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).

 Meskipun valuasi aset terlihat sangat menjanjikan para investor tetap diimbau untuk mengambil keputusan secara rasional dan terukur. Langkah mitigasi risiko yang ketat menjadi sebuah keharusan di tengah dinamika pasar yang masih sulit diprediksi arah pergerakannya.

"Risiko eskalasi lanjutan masih terus membayangi sehingga kami sangat menyarankan investor untuk disiplin melakukan diversifikasi lintas kelas aset dan mengalokasikan sebagian porsi portofolio pada instrumen emas yang secara historis terbukti tangguh berfungsi sebagai safe haven sejati saat krisis melanda" ujar Managing Partner Bareksa Prioritas Citra Putri.

Investor Dapat Tetap Investasi

Kepanikan pasar seringkali memicu keputusan emosional yang berujung pada kerugian permanen jika investor memilih untuk keluar dari pasar sepenuhnya. Oleh karena itu mempertahankan posisi investasi menjadi kunci utama untuk menangkap peluang pemulihan nilai aset di masa depan.

"Investor dapat tetap stay invested karena mencoba melakukan market timing saat volatilitas tinggi justru sangat berisiko membuat kita kehilangan momentum technical rebound yang biasanya terjadi secara mendadak dan justru memberikan imbal hasil paling masif dalam satu siklus pasar" jelas Chief Executive Officer Bareksa Prioritas Ricky Rachmatulloh.

Sebagai pelengkap strategi alokasi taktis tersebut instrumen reksa dana pasar uang memegang peranan krusial yang sama sekali tidak boleh dikesampingkan.

Kelas aset ini merupakan tempat berlabuh yang sangat ideal untuk memarkir dana sementara karena menawarkan stabilitas nilai pokok sekaligus tingkat imbal hasil yang sangat kompetitif di era suku bunga tinggi.

Likuiditas yang selalu terjaga pada instrumen pasar uang ini nantinya akan berfungsi sebagai dry powder atau amunisi siap pakai. Amunisi inilah yang memungkinkan investor mengeksekusi pembelian secara cepat dan presisi saat harga aset berisiko akhirnya menyentuh titik terbawah.

Diversifikasi Investasi

Di sisi lain, Chief Operating Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari mengatakan dalam menghadapi pasar yang tidak stabil, diversifikasi menjadi salah satu strategi utama yang dapat dipertimbangkan. Tidak hanya antar sektor atau instrumen, tetapi juga lintas mata uang.

Sebagai gambaran, indeks dolar DXY sempat mendekati 100,6 uang menggambarkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama. Dari kacamata Indonesia, USD juga menguat sekitar 2,9% terhadap rupiah ke level Rp 17.140 per USD (19 Apr 2026).

“Instrumen investasi berbasis dolar AS dapat memberikan alternatif diversifikasi, terutama untuk investor yang sudah memiliki dolar AS karena memiliki potensi tambahan imbal hasil dari pergerakan nilai tukar,” kata Putu.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |