Emiten BNII Sebar Dividen 2025 Rp 7,61, Cek Tanggal Pembagiannya

6 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 Rp 580,07 miliar. Seiring pembagian dividen itu, pemegang saham mendapatkan Rp 7,61 per saham.

Perseroan membagikan dividen itu sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 April 2026. Pembagian dividen mempertimbangkan data keuangan per 31 Desember 2025 antara laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 1,65 triliun, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 18,66 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 33,08 triliun.

Berikut jadwal pembagian dividen perseroan tahun buku 2025:

  • Tanggal efektif pada 17 April 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 27 April 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 28 April 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 29 April 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 30 April 2026
  • Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 29 April 2026 waktu 16:00
  • Tanggal pembayaran dividen pada 13 April 2026

Berdasarkan data google finance, Kamis, 23 April 2026, harga saham BNII naik 0,93% menjadi Rp 216 per saham. Saham BNII berada di level tertinggi Rp 216 dan terendah Rp 214 per saham. Kapitalisasi pasar saham Rp 16,28 triliun.

Kinerja 2025

Sebelumnya, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) membukukan laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali (PATAMI) sebesar Rp1,66 triliun sepanjang 2025, melonjak 48,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini ditopang penurunan biaya provisi serta pengelolaan beban yang lebih efisien.

Laba sebelum pajak (PBT) turut meningkat 38,9 persen secara tahunan menjadi Rp2,22 triliun.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyatakan 2025 menjadi fase penting dalam memperkuat profitabilitas dan fundamental bisnis di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan.

“Di sepanjang 2025, kami berfokus untuk meningkatkan kualitas pendapatan yang mumpuni serta berkelanjutan pada sejumlah lini bisnis kami yang terus menunjukkan perkembangan. Kami juga secara disiplin mengelola biaya serta mengoptimalkan struktur pendanaan, dengan pengelolaan risiko yang kuat, sehingga profitabilitas kami meningkat, diiringi kualitas aset yang semakin sehat, serta neraca yang lebih resilien,” ujar Steffano dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (27/2/2026).

Dari sisi pendapatan, net interest income (NII) tumbuh 1,6 persen secara tahunan, didorong penerapan risk-based pricing serta pergeseran struktur pendanaan ke sumber dana yang lebih efisien. Net interest margin (NIM) tercatat 4,3 persen.

Penyaluran Kredit

Pendapatan nonbunga (NOII) meningkat 8,1 persen, terutama berasal dari perbaikan kinerja Global Markets yang menyumbang Rp441 miliar, serta kontribusi asset recovery dan wealth management. Dengan capaian tersebut, gross operating income (GOI) naik 3,1 persen menjadi Rp9,55 triliun.

Beban overhead terkendali dengan kenaikan 2,4 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya. Efisiensi operasional mendorong rasio BOPO turun ke 86,3 persen. Laba operasional sebelum provisi (PPOP) naik 4,8 persen menjadi Rp3,10 triliun, sementara beban pencadangan turun 28,7 persen berkat pengelolaan kredit yang lebih prudent.

Dari sisi intermediasi, total kredit per Desember 2025 tercatat Rp123,64 triliun, turun 3,1 persen secara tahunan akibat rebalancing portofolio korporasi Global Banking yang terkontraksi 18,4 persen. Namun, segmen Large Local Corporates tumbuh 13,1 persen secara kuartalan dan menjadi fokus pengembangan selanjutnya.

Total Aset

Total aset mencapai Rp193,72 triliun, turun 1,8 persen sejalan dengan penurunan kredit. Dana murah (CASA) tumbuh 6,3 persen sehingga rasio CASA meningkat menjadi 57,6 persen dari 52,9 persen setahun sebelumnya. Total simpanan nasabah tercatat Rp116,19 triliun.

Kualitas aset membaik dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross 2,2 persen dan net 1,3 persen, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Saldo NPL menyusut 19,5 persen sepanjang 2025.

Permodalan tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) 27,3 persen dan common equity tier 1 (CET1) 26,1 persen. Likuiditas juga terjaga, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) 90,3 persen, liquidity coverage ratio (LCR) 175,8 persen, serta net stable funding ratio (NSFR) 112,4 persen.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |