Kisah Dwi Menembus Desa-desa di Gunungkidul Demi Antarkan Makanan untuk Lansia

16 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Di hari kasih sayang, sebagian orang merayakannya dengan bunga dan cokelat. Namun di sudut desa di Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, makna kasih sayang hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, dua paket makanan hangat yang diantar langsung ke rumah warga rentan.

Sosok itu bernama Dwi Lestari. Ia bukan pejabat, bukan pula figur publik. Namun namanya akrab di telinga para lansia dan penyandang disabilitas di sejumlah kalurahan.

Setiap pagi, dengan sepeda motor matic dan keronjot di jok belakang, Dwi menyusuri jalanan sempit, licin dan berbatu demi memastikan bantuan makanan sampai ke tangan yang tepat.

Wilayah Kapanewon Karangmojo memang tidak jauh dari pusat kota. Namun sebagian warga tinggal di kawasan desa dengan akses jalan menanjak dan berbatu. Saat musim hujan, jalur itu menjadi lebih licin dan menantang.

“Kalau hujan memang lebih hati-hati. Tapi saya sudah hapal jalannya. Yang penting makanannya sampai,” ujar Dwi.

Baginya, tugas ini bukan sekadar distribusi bantuan. “Kadang mereka cuma butuh ditemani ngobrol. Saya anggap seperti orang tua sendiri,” katanya.

Seperti yang dirasakan Mbah Sandep. Sejak pagi, ia sudah menunggu di depan rumahnya. Begitu suara motor terdengar, wajahnya langsung berbinar.

“Kalau Mbak Dwi datang, rasanya senang. Ada yang peduli sama saya,” tuturnya.

Dua paket makanan dari pemerintah daerah diterimanya dengan syukur. Namun lebih dari itu, ia menikmati percakapan singkat yang selalu hadir setiap kali Dwi datang.

“Saya ini lebih sering sendiri. Anak-anak dekat, tapi ya punya kesibukan. Mbak Dwi jadi tempat saya cerita,” ungkapnya.

Hal serupa dirasakan Sajiyem, lansia yang menderita glaukoma hingga kehilangan penglihatan. Ia mengandalkan suara dan sapaan Dwi setiap pagi.

“Kalau belum datang, saya tanya terus. Sudah siang belum,” ucap Sajiyem sambil tersenyum.

Bagi Sajiyem, bantuan tersebut bukan hanya soal makanan. “Alhamdulillah, bisa makan cukup. Tapi yang bikin hati senang itu ada yang datang dan ngajak ngomong,” katanya.

Program makan gratis ini merupakan inisiatif Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang menyasar 1.112 penerima manfaat, terdiri dari lansia, penyandang disabilitas, hingga anak telantar.

Peluncuran dilakukan secara simbolis di Kalurahan Gedangrejo, Karangmojo, sementara distribusi dilaksanakan serentak di seluruh wilayah sasaran.

Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membantu kebutuhan harian, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan para penerima manfaat.

“Program ini diharapkan mampu meningkatkan asupan nutrisi, gizi, serta daya tahan tubuh para penerima. Ini adalah wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pengawasan program dilakukan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gunungkidul. Sebelum bulan puasa, makanan diberikan pada pagi hari. Namun saat Ramadan tiba, penyaluran akan dilakukan menjelang sore agar menyesuaikan waktu berbuka.

Di balik data 1.112 penerima manfaat itu, ada cerita-cerita kecil yang menghangatkan. Ada lansia yang merasa ditemani.

Ada keluarga yang merasa lebih tenang. Dan ada sosok seperti Dwi Lestari, yang setiap hari menembus jalan berbatu demi memastikan bantuan tiba tepat waktu.

“Selama saya masih bisa jalan dan naik motor, saya akan terus antar. Semoga ini jadi berkah,” Pungkas Dwi.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |