Kinerja BNBR : Laba Bersih Melonjak 50,7% pada 2025

13 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), salah satu holding multi-sektor terkemuka di Indonesia merilis laporan keuangan tahun buku 2025. Perusahaan membukukan lonjakan laba bersih yang signifikan, tetapi pendapatan turun tipis.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat (27/2/2026), pendapatan turun 3,26% menjadi Rp 3,74 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 3,86 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 50,75% menjadi Rp 493,85 miliar pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 327,59 miliar.

Laba bruto turun 14,38% menjadi Rp 744,38 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 869,47 miliar. Beban usaha naik 6,97% menjadi Rp 627,52 miliar pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 586,60 miliar.

Seiring hal itu laba usaha perseroan terpangkas 58,6% menjadi Rp 116,86 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 282,87 miliar. Laba bersih tumbuh 49,60% menjadi Rp 502,74 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 336,04 miliar. Laba per saham dasar dan dilusi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 2,85 pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 2,04.

Ekuitas perseroan naik 19,42% menjadi Rp 4,67 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 3,91 triliun. Liabilitas naik 547,5% menjadi Rp 18,89 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 2,97 triliun. Aset perseroan  naik 245,08% menjadi Rp 23,56 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 6,82 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 236,65 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 168,22 miliar.

Pada perdagangan saham sesi kedua, harga saham BNBR naik 26,71% menjadi Rp 204 per saham. Harga saham BNBR dibuka naik ke posisi Rp 173 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 161 per saham. Harga saham BNBR berada di level tertinggi Rp 216 dan level terendah Rp 173 per saham. Total frekuensi perdagangan 210.194 kali dengan volume perdagangan 47.413.100 saham. Nilai transaksi Rp 927,1 miliar.

BNBR Ambil Alih 100% Tol Cimanggis–Cibitung, Targetkan Pendapatan Berkelanjutan

Sebelumnya, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memperkuat langkah ekspansi bisnis infrastrukturnya dengan menguasai penuh Tol Cimanggis–Cibitung. Aksi korporasi ini dilakukan melalui anak usaha, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), yang resmi menyelesaikan pengambilalihan 100 persen kepemilikan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham (Sale & Purchase Agreement/SPA) dilakukan antara BTI, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI, dan PT Waskita Toll Road (WTR) di Jakarta. Direktur Utama & CEO BNBR, Anindya N. Bakrie, menyebut akuisisi ini muncul dari peluang strategis untuk menguasai seluruh saham CCT.

Sebelumnya, BNBR memiliki 10 persen saham CCT, baik langsung maupun melalui BTI. Dengan divestasi SMI dan WTR, perseroan menilai momentum ini ideal untuk melakukan konsolidasi penuh atas aset tol strategis tersebut.

“Pertimbangan utama dilakukannya transaksi ini adalah untuk memperkuat posisi Grup Usaha Perseroan dalam sektor infrastruktur nasional, sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang Perseroan,” ujar Anindya dikutip dari Antara, Sabtu (29/11/2025).

Dengan kepemilikan penuh, BNBR optimistis dapat meningkatkan sinergi bisnis, memperkuat kontrol operasional, serta mendorong kontribusi pendapatan berkelanjutan bagi grup.

Pembelian 72 Juta Lembar Saham

Wakil Direktur Utama BNBR, A. Ardiansyah Bakrie, menjelaskan bahwa pengambilalihan CCT dilakukan melalui pembelian 72 juta lembar saham atau setara 90 persen dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Rinciannya, 55 persen saham diambil dari SMI dan 35 persen dari WTR, dengan total nilai akuisisi Rp 1 triliun.

Selain saham, BTI juga mengambil alih piutang kepada CCT senilai Rp 2,565 triliun, yang merupakan pinjaman pemegang saham dari SMI dan WTR.

Ardi menegaskan ruas Tol Cimanggis–Cibitung memiliki nilai strategis tinggi sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan, terutama di Tol Jakarta–Cikampek. “Selain itu, menjadi bagian penting dalam meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan kawasan industri di Jabodetabek,” ujarnya.

Tol ini berperan mendukung kelancaran lalu lintas sekaligus meningkatkan efisiensi logistik di berbagai kawasan industri utama.

Masa Konsesi 45 Tahun

PT Cimanggis Cibitung Tollways merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengelola ruas sepanjang 26,184 km dengan masa konsesi 45 tahun hingga 10 Agustus 2061. CCT bertanggung jawab atas pendanaan, perencanaan teknis, pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaan seluruh ruas Tol Cimanggis–Cibitung.

Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), jalan tol ini resmi beroperasi penuh sejak diresmikan Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, pada 9 Juli 2024.

Ruas tol ini terintegrasi dalam jaringan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2 yang menghubungkan Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bekasi. Selain itu, ruas ini terhubung langsung dengan Tol Jagorawi, Tol Trans Jawa Jakarta–Cikampek, Tol Cinere–Jagorawi, dan ke depan akan tersambung dengan Tol Jakarta–Cikampek 2 Selatan.

Kehadiran tol ini diharapkan memperkuat konektivitas antarkawasan, meningkatkan efisiensi transportasi, dan mempercepat distribusi barang di kawasan industri setempat.

Profil dan Strategi Bisnis BNBR

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) didirikan pada 13 Maret 1951, dan telah berkembang menjadi perusahaan holding multi-sektor terkemuka di Indonesia. Perseroan bergerak di berbagai bidang seperti perindustrian, perdagangan, jasa, dan investasi. BNBR memiliki visi untuk mewujudkan pertumbuhan dengan melayani masyarakat dan negara, serta mendukung karyawan dan masyarakat luas.

Pendekatan portofolio investasi BNBR berfokus pada penguasaan bisnis potensial dan pengembangan sinergi usaha jangka panjang. Selain itu, BNBR juga merancang dan mengimplementasikan strategi penciptaan nilai bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan. Perusahaan ini berkomitmen untuk berperan aktif dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Salah satu unit usaha BNBR yang bergerak di bidang infrastruktur adalah PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN), yang didirikan pada tahun 2008. BIIN berinvestasi pada proyek jalan tol, tenaga listrik, minyak dan gas, pelabuhan, dan telekomunikasi. Ini menunjukkan diversifikasi bisnis BNBR yang luas dalam sektor-sektor strategis.

BNBR juga aktif mengembangkan sektor energi berkelanjutan, termasuk bisnis kendaraan listrik, terutama bus listrik. Sejak tahun 2018, perseroan telah menjalin kerja sama dengan BYD Auto untuk mengembangkan industri bus listrik di Indonesia. Inisiatif ini menegaskan komitmen BNBR terhadap inovasi dan keberlanjutan di masa depan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |