Keterbatasan Bukan Halangan, Fauzian Abdillah Berhasil Raih Mimpi Kuliah di UGM dengan UKT Rp 0

5 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Mimpi melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi seringkali dianggap mustahil bagi sebagian anak. Hal ini yang turut dirasakan Fauzian Abdillah, remaja 19 tahun asal Bekasi, Jawa Barat, di mana dirinya sempat menempuh jalan terjal untuk berkuliah karena keterbatasan ekonomi dan lingkungan yang kurang mendukung.

Di sekolahnya, mayoritas rekan seangkatannya memilih untuk langsung bekerja selepas lulus, alih-alih melanjutkan mimpi berkuliah. Namun, ia menolak untuk berpasrah pada keadaan.  Sejak awal, Fauzian memang tidak ingin mengikuti arus lingkungan di sekitarnya. Baginya, pendidikan merupakan sebuah tangga untuk mengubah keadaan dan dapat membantunya untuk meraih mimpi sehingga menjadi lebih baik.

Tekad untuk mendobrak keterbatasan itu memang ia rawat sejak kecil. Meski tumbuh tanpa adanya role model yang pernah merasakan bangku kuliah, namun Fauzian berusaha tak gentar hingga akhirnya berhasil melalui kondisi tersulit.

"Waktu itu kondisinya memang sulit, tetapi, saya mencoba menjalaninya dengan mencari kesempatan untuk berkuliah, agar bisa menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya ke depan," kenang Fauzian saat menceritakan kondisi awal kehidupannya kepada Liputan6.com di Kotagede, Jumat (19/6). 

Ibu Jadi Sosok yang Selalu Mendukung Mimpinya

Perjalanan Fauzian sempat tergoncang ketika sang ayah berpulang pada tahun 2020. Sejak momen itu, ibunya kemudian berjuang sendirian untuk mendidik empat orang anak. Sebagai anak sulung, Fauzian bertekad agar impian besarnya untuk kuliah tidak sampai membebani pundak sang ibu yang sudah berkorban luar biasa. 

Kemandirian itu ia buktikan dengan berburu beasiswa penuh sejak menempuh pendidikan di jenjang MTs hingga MA di bawah naungan Muhammadiyah. Selama enam tahun tinggal di asrama sekolah, Fauzian juga terus mencoba untuk hidup mandiri. Di sisi lain, sang ibu selalu menempatkan diri sebagai sosok pelindung yang suportif dan mengedepankan ruang diskusi dalam setiap langkah yang diambil putra sulungnya itu.

"Jadi memang ibu saya itu supportif sekali untuk kuliah ini. Selama itu positif, membantu kemajuan saya, dan membantu mewujudkan mimpi saya, ibu akan tetap mendukung 100 persen serta memberikan doa terbaik juga," tutur Fauzian. 

Gagal Lolos UMS Namun Keterima di UGM

Sebelum kebahagiaan besar itu datang, Fauzian juga turut merasakan fase kecewa yang cukup berat. Saat itu, dirinya sempat mendaftarkan diri ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan rasa percaya diri tinggi. Bagaimana tidak, Fauzian melampirkan 10 sertifikat terbaiknya, termasuk dua prestasi tingkat nasional, empat tingkat provinsi, serta sertifikat Tahfiz Qur'an dengan nilai rata-rata 90.

Namun, rupanya rezekinya belum di sana.  Keadaan ini terjadi tepat tujuh hari sebelum pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Momen itu sempat membuat Fauzian dan ibunya terpukul hingga mereka mulai realistis dengan mengambil formulir pendaftaran kuliah di salah satu kampus di Bekasi. Namun, takdir berkata lain, karena pada tanggal 28 Mei 2025 dirinya justru resmi diterima sebagai mahasiswa Program Studi Pembangunan Wilayah UGM.

"Saya bilang, 'Mah, kalau ada barcode besar, tandanya lolos ya'. Terus pas dibuka, ada barcodenya, dan ibu saya nangis bahagia saat itu. Di sana saya tidak bisa nangis, tapi justru kaget dan tidak percaya, ini saya beneran saya jadi anak UGM?," ungkapnya ketika menceritakan momen kelulusannya di Program Studi Pembangunan Wilayah UGM dengan skor SNBT 674 dan UKT Rp0.

Tetap Yakin Meski Hanya Belajar dari Buku Paket dan LKS Sekolah

Prestasi Fauzian menembus salah satu kampus terbaik di Indonesia itu bukanlah sebuah kebetulan semata. Selama tiga tahun berturut-turut di MA Muhammadiyah 3 Bekasi, ia sukses mempertahankan predikat sebagai peringkat pertama ranking paralel.

Keberhasilan itu diraih di tengah kesibukannya yang padat dalam berorganisasi, mengikuti berbagai perlombaan, hingga menjadi relawan (volunteer) di luar lingkungan sekolah.  Puncak pembuktian akademiknya terjadi saat ia mencetak sejarah bagi sekolahnya sebagai siswa pertama yang berhasil meraih Medali Perunggu Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Nasional 2024 di Ternate, Maluku Utara, untuk bidang Geografi. Pencapaian prestisius ini ia kejar dengan penuh keterbatasan, di mana ia harus bersaing dengan siswa-siswa cerdas dari berbagai madrasah elit nasional. 

"Waktu itu kondisinya memang serba sulit untuk saya belajar. Waktu itu saya juga tidak ada laptop, sulit mengakses internert, jadi benar-benar resource belajar saya terbatas. Nah, waktu itu hanya menggunakan LKS dan buku paket sekolah saja. Dan ini saya catat, saya baca, saya pelajari berulang-ulang," jelas Fauzian.

SMART Scholarship YBM BRILiaN Jadi Pembuka Jalan Mimpinya

Titik balik penting Fauzian hadir lewat informasi dari kepala sekolahnya mengenai program beasiswa dari YBM BRILiaN yang merupakan lembaga amil zakat binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Fauzian berhasil lolos seleksi beasiswa tersebut dan terpilih sebagai salah satu awardee SMART Scholarship 2024.

Beasiswa ini memang diperuntukkan bagi siswa SMA/MA sederajat dari kelas 11 hingga lulus untuk mempersiapkan mereka menuju perguruan tinggi.  Selain mendapatkan bantuan uang saku bulanan sebesar Rp 200.000 yang sangat membantu operasional sekolah harian, Fauzian juga mendapatkan keuntungan non-materi yang jauh lebih mahal.

Melalui wadah ini, ia dipertemukan dengan jaringan luas anak-anak cerdas dari latar belakang serupa yang berhasil meraih mimpinya. Melihat para alumni beasiswa tersebut bisa magang di Chicago hingga melanjutkan studi ke Kanada, mentalitas Fauzian seketika terpacu untuk ikut terbang tinggi.

Dampak nyata dari kepedulian YBM BRILiaN dirasakan Fauzian melalui program bimbingan belajar UTBK intensif yang bekerja sama dengan platform Skolla secara gratis. Sejak bulan November hingga Juni menjelang tes, Fauzian difasilitasi modul pembelajaran yang lengkap, simulasi tryout, hingga ruang diskusi bersama para mentor. Di samping bekal akademis, YBM BRILiaN menaruh perhatian besar pada pembentukan karakter dan peta hidup para penerima beasiswanya. 

Fauzian merefleksikan bahwa sebelum mengikuti bimbingan dari para mentor beasiswa, tujuan hidup dan impian masa depannya masih sangat abstrak dan acak-acakan. Lewat kelas motivasi, ia ditantang untuk mengenali potensi diri secara mendalam, mendata mimpi, serta menyusun kiat-kiat strategis untuk mencapainya. Pembinaan inilah yang memantik semangat juangnya agar tetap menyala selama masa-masa seleksi masuk kuliah yang dianggap melelahkan.

Mimpi ke Depan dan Ingin Menjadi Contoh Baik Bagi Adik-Adik

Pilihan Fauzian jatuh pada Program Studi Pembangunan Wilayah di UGM mulanya didasarkan atas kecintaannya pada ilmu Geografi sosial sejak duduk di bangku sekolah dasar. Lahir dan tumbuh di Bekasi membuat Fauzian peka terhadap carut-marut tata kota, kemacetan, serta mulai tergesernya kebudayaan lokal di tanah kelahirannya.

Di masa depan, ia ingin sekali memanfaatkan ilmu kewilayahan yang diraihnya di UGM untuk berkolaborasi membangun Bekasi agar lebih rapi. Keberhasilan Fauzian menembus UGM dengan dukungan penuh YBM BRILiaN kemudian didedikasikan sebagai contoh hidup bagi ketiga adiknya yang masih kecil.

Sebagai anak pertama, ia ingin membuktikan kepada adik-adiknya bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk menyerah pada kondisi hidup yang kurang nyama. Kisah hidupnya yang menginspirasi banyak orang kemudian dikenalkan lewat akun resmi YBM BRILiaN binaan BRI Regional Office Yogyakarta. Dari sana, dirinya harap agar bisa menjadi motivasi yang kuat bagi anak-anak muda lain di luar sana. 

"Beranilah bermimpi walaupun mimpi itu terasa mustahil untuk diraih pada saat itu. Kalau memang yakin punya value, terus fokus saja ke kualitas diri dan konsisten," tambah Fauzian. 

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |