Liputan6.com, Jakarta - Kampung Batik Giriloyo yang berlokasi di Wukirsari, Kec. Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini terus eksis sebagai salah satu destinasi wisata edukasi dan budaya yang diperhitungkan. Tak sekadar menawarkan kain batik berkualitas, desa wisata ini menjadi magnet bagi instansi, pelajar, hingga mahasiswa yang ingin mendalami teknik membatik sekaligus mempelajari manajemen pemberdayaan masyarakat.
Umi Anisah, Marketing Batik Giriloyo menjelaskan bahwa karakteristik pengunjung yang datang ke pusat kerajinan ini sangat beragam, mulai dari anak sekolah hingga rombongan mahasiswa yang ingin melakukan studi banding mengenai tata kelola koperasi desa.
“Kalau anak sekolah itu kunjungannya ke sini itu belajar membatik. Tapi kalau anak mahasiswa itu biasanya ke sini itu kayak studi banding nanti yang ditanyakan di sini kan ada perkoperasian dan nanti yang ditanyakan gimana koperasinya itu berjalan di sini kan desa wisata yang membawahi kurang lebih ada 700 pengrajin lah itu mengumpulkan ibu-ibu 700 itu seperti apa itu kan nanti dibuat studi banding sama desa wisata kalau enggak gitu ya Bumdes atau apa itu biasanya ke sini tujuannya studi banding kayak gitu,” ujar Umi Anisah saat diwawancarai.
Sejarah Singkat Batik di Giriloyo
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8381206/original/085143500_1782260018-batik2.jpeg)
Perbesar
Tradisi batik tulis di Kampung Giriloyo diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-17, bermula ketika sebagian besar penduduknya bekerja sebagai abdi dalem perawat makam raja-raja Mataram di Imogiri. Dari interaksi erat dengan kerabat Kraton Yogyakarta tersebut, para perempuan di desa ini mulai dipercaya dan diberikan pekerjaan sebagai buruh nyanthing batik.
Selama berabad-abad, profesi ini diwariskan secara turun-temurun dengan kondisi warga yang hanya menjadi buruh penyalur kain batik setengah jadi kepada juragan besar di pusat kota. Titik balik kemandirian warga baru terjadi pasca-gempa bumi Yogyakarta tahun 2006, di mana masyarakat mulai membentuk kelompok batik serta menerima berbagai pelatihan produksi dan pemasaran dari pemerintah maupun LSM.
Kini, Kampung Giriloyo telah bertransformasi menjadi sentra batik tulis autentik yang maju pesat dan mandiri. Dengan belasan kelompok batik yang aktif, hasil karya perajin setempat tidak lagi bergantung pada juragan kota, melainkan telah sukses dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia hingga menembus pasar luar negeri.
Paket Wisata Edukasi Membatik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8381207/original/094015600_1782260018-batik7.jpeg)
Perbesar
Bagi para wisatawan yang ingin merasakan langsung pengalaman membatik, Kampung Batik Giriloyo telah menyediakan fasilitas pemateri profesional. Wisatawan dibimbing untuk membuat karya mereka sendiri di atas berbagai media kain.
“Membatik terus. Kalau kunjungan ya pemateri saja. Pemateri. Pembadik itu bisa membatik shal, bisa membatik sapu tangan, taplak meja, terus sama kaos,” jelas Umi.
Untuk menikmati fasilitas edukasi ini, pihak pengelola menerapkan sistem reservasi terlebih dahulu. Harga paket yang ditawarkan pun sangat kompetitif dan disesuaikan dengan jumlah peserta dalam rombongan.
“Kalau dia itu reservasi nanti ditentukan berapa tanggal berapa, jumlahnya berapa. Jadi, semakin banyak pengunjungnya semakin harganya lebih murah gitu. Tapi kalau cuman sedikit biasanya kalau kunjungan itu Rp50.000 di bawah 30 peserta. Tapi nanti kalau di atas 30 itu biasanya Rp40.000 dan kalau 50 ke atas itu Rp30.000,” tambahnya.
Menyatukan 700 Pengrajin dalam Satu Atap
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8381208/original/002577600_1782260019-batik3.jpeg)
Perbesar
Salah satu daya tarik utama dari Kampung Batik Giriloyo dalam kacamata akademis adalah keberhasilan mereka dalam mengonsolidasikan ratusan pengrajin lokal. Kehadiran paguyuban dan koperasi ini menjadi solusi atas kendala geografis rumah-rumah pengrajin yang sulit dijangkau oleh wisatawan.
Umi mengisahkan, sistem operasional di sini dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil sebelum akhirnya disalurkan ke pusat penjualan.
“Jadi ini kan di sini ada 12 kelompok batik dengan 700 pengrajin aktif , terus dari ibu-ibunya yang di kelompok itu disetorkan ke kelompoknya masing-masing. Terus dibawa ke sini dinaungi dengan paguyupan atau berkoprasinya Badrik. Jadi ini itu Badrik dari ibu-ibu pengrajin yang ada di sini terus lewat ketuanya sama ketuanya disetorkan ke pusatnya sini.” Ujarnya
“Jadi kan rumahnya makin ke sana makin ke sana enggak terjangkau oleh tamu terus setelah itu kita membikin paguyupan kampung Badrik itu diharapkan semua apa orang yang mau belanja membatik di sini gitu pusatnya. Jadi Ini tuh namanya berbeda-beda nanti ketika laku uangnya dikasihkan ke yang punya,” tuturnya secara rinci.
Filosofi Mendalam di Balik Motif Batik Giriloyo
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8381210/original/011658200_1782260019-batik6.jpeg)
Perbesar
Batik Giriloyo dikenal kaya akan motif klasik pedalaman (klasik Mataram) yang sarat akan makna kehidupan. Setiap motif yang ditawarkan memiliki peruntukan serta doa tersendiri, terutama dalam prosesi adat pernikahan Jawa hingga simbol status sosial. Umi Anisah membeberkan beberapa motif khas yang paling sering dicari beserta filosofinya.
“Batik khas dari sini itu kalau Sido Asih itu untuk lamaran. Nah, itu filosofinya saling mengasihi. Terus kalau berarti Sido Mukti itu biasanya dipakai yang nikah. Mukti itu langgeng selamanya biar tidak ada perceraian. Terus kalau orang tuanya itu memakai Truntum filosofinya untuk menuntun. Jadi dalam rangkaian acara pernikahan itu ada maknyanya tersendiri. Terus ada juga motif Parang itu kalau yang punyanya Sri Sultan itu dia parangnya besar itu artinya wibawa yang tinggi. Jadi biasanya kalau orang ingin naik pangkat biasanya memakai Mbak Atik motif parang seperti itu.” terang Umi.
Antusias Dampingi Wisatawan Belajar Membatik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8381212/original/021123200_1782260019-batik1.jpeg)
Perbesar
Di lokasi, denyut nadi pariwisata edukasi di Kampung Batik Giriloyo kini kian terasa seiring dengan kembali ramainya kunjungan pelancong. Kebangkitan aktivitas wisata ini disambut hangat oleh para pengrajin setempat yang bertugas di garda depan, salah satunya adalah Yani, anggota paguyuban yang sehari-hari bekerja membatik sekaligus memandu para tamu.
Yani mengungkapkan rasa syukurnya melihat area kerajinan yang kini kembali riuh oleh interaksi manusia. Baginya, mendampingi para pelancong bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang rekreasi budaya yang menyenangkan.
“Sekarang wisatawan sudah mulai ramai lagi. Tentu saya merasa senang sekali dengan adanya hal ini di sini. Saya sangat menikmati pekerjaan saya karena bisa bertemu langsung dan melayani berbagai wisatawan yang unik-unik karakternya,” ujar Yani sembari melempar senyum.
Kemudahan pun diberikan pengelola agar pengalaman belajar ini terasa magis dan tanpa beban bagi para pemula. Wisatawan tidak perlu repot membawa perbekalan teknis karena seluruh akomodasi produksi telah disiapkan secara matang di lokasi.
“Selain memberikan edukasi, kami di sini juga mengajari langsung berbagai proses membatik tulis bersama wisatawan dari awal. Untuk bahan-bahan dan alat-alat membatiknya sendiri, semuanya sudah disediakan utuh oleh pihak paguyuban, jadi pengunjung tinggal datang dan praktik saja,” pungkas Yani.
BRI Siap Bawa Pengrajin Batik Giriloyo Naik Kelas lwat Digitalisasi Perbankan dan Legalitas NIB
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8381213/original/030921400_1782260019-batik5.jpeg)
Perbesar
Upaya memperkuat ekosistem usaha di sentra batik tulis tradisional kebanggaan Bantul ini mendapat sokongan kuat dari sektor perbankan. Guna mendorong para pengrajin di Kampung Batik Giriloyo agar melek finansial dan berdaya saing di era digital, Bank Rakyat Indonesia (BRI) turut mengambil peran aktif dalam mendampingi pelaku UMKM setempat.
Melalui kolaborasi bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bantul dalam program GAMPIL (Gerakan Melayani Perizinan Langsung) pada 6 Mei lalu, BRI hadir langsung menyapa para pengrajin di Kalurahan Wukirsari, Imogiri. Dalam kesempatan tersebut, BRI memberikan sosialisasi intensif mengenai berbagai produk perbankan modern yang dirancang untuk mendukung operasional bisnis lokal.
Dengan sentuhan teknologi finansial dari BRI, para pengrajin yang tergabung dalam koperasi kini diarahkan untuk mengadopsi sistem transaksi digital yang lebih praktis, aman dan efisien. Langkah modernisasi ini diharapkan dapat mempermudah proses jual-beli dengan wisatawan serta memperluas akses pasar mereka.
Tak hanya itu saja kehadiran layanan perbankan BRI ini berjalan beriringan dengan legalitas Nomor Induk Berusaha (NIB) yang didapatkan perajin menjadi modal kuat bagi UMKM Kampung Batik Giriloyo untuk naik kelas, memperluas peluang ekonomi dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8389686/original/021582800_1782269835-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_9.43.27_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8325871/original/052697300_1782195472-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_13.16.07.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8345153/original/008674300_1782217953-IMG-20260623-WA0167.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8340500/original/093006900_1782212503-1001386194.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8318681/original/055563300_1782186747-Pleno_munas_NU_sempat_memanas.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8316583/original/044709700_1782184203-Owner_Siomay_Gemoy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8314511/original/081821300_1782181920-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_09.21.02.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8312336/original/046419100_1782179483-1001384466.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8275045/original/029881500_1782128564-ChatGPT_Image_Jun_22__2026__06_42_16_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8271472/original/002326400_1782122790-WhatsApp_Image_2026-06-22_at_16.51.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4095585/original/050746000_1658365610-klara-kulikova-DUcVepObkXk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5387645/original/081425400_1761087072-Mobil_ambulans.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/3407097/original/096147600_1616320052-040722000_1454749828-20160206-Ilustrasi-Pembunuhan-iStockphoto4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8265415/original/060280300_1782111481-jangan_lupa_makan_enak_hari_ini_____________PenuhRasaPenuhCinta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8264377/original/004846700_1782108967-WhatsApp_Image_2026-06-22_at_12.51.20.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4198809/original/023479600_1666323844-ilustrasi_curanmor.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263797/original/000780500_1782014290-bawal_presto.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263684/original/067451100_1781956113-556a77fc-c4de-4e35-9872-c1914f88a4bf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263664/original/076657600_1781954437-BRIN_dan_BP_Batam_matangkan_rencana_pembangunan_kawasan_terpadu.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2408415/original/054935400_1542192174-Pasar-saham-Indonesia5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522592/original/086641300_1772769941-1001716059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5280801/original/097453400_1752281943-AP25189527502082__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1285023/original/047248200_1468217217-20160711-Layanan-Samsat-Keliling-HEL3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5873691/original/093224900_1778774366-Bukan_lilin_biasa____tapi_apa_yang_membuatnya_istimewa_____Swipe_dan_temukan_jawabannya______scentedca__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545819/original/058042400_1775210778-IMG_20260403_161322.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537841/original/020270100_1774468938-IMG_20260313_113512_559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1817916/original/096432200_1514865744-20180102-IHSG-FF2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4140041/original/079196900_1661823451-30_agustus_2022-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539459/original/042034000_1774601091-Depositphotos_233856638_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5359436/original/029861900_1758670607-WhatsApp_Image_2025-09-24_at_06.35.24_209b2d99.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3356528/original/090932500_1611299592-20210122-IHSG-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4173636/original/078085200_1664337307-bbm32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1401511/original/009072700_1478763262-20161110-Hari-ini-IHSG-di-buka-menguat-di-level-5.444_04-AY2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551789/original/055789600_1775743244-1001152736.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559452/original/026961700_1776575429-0419_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4974922/original/030934700_1729512194-IMG-20241021-WA0020.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3068178/original/077295500_1583319244-20200304-Dilanda-Corona_-IHSG-Ditutup-Melesat-6.jpg)