Modal Kecil Rp 5 Juta, Heru Pemilik Luthfi Craft Sulap Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor ke 3 Benua

6 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Sekitar dua puluh tahun lalu, Heru Budiantoro tak pernah membayangkan tanaman eceng gondok yang sering dianggap gulma justru akan membawanya menembus pasar dunia. Berbekal modal Rp5 juta dan niat sederhana agar sang istri dapat tetap bekerja dari rumah, pria asal Murtigading, Sanden, Bantul itu memulai usaha kerajinan berbahan serat alam yang kini dikenal dengan nama Luthfi Craft.

Siapa sangka, usaha rumahan yang lahir dari kebutuhan keluarga tersebut kini telah berkembang menjadi bisnis yang memberdayakan puluhan perajin dan rutin mengirim produknya ke berbagai negara di Amerika, Eropa, hingga Australia. Perjalanan Luthfi Craft bermula pada 2003. Saat itu, istri Heru bekerja di industri kerajinan. Namun ketika sang istri hamil, ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Heru pun berpikir agar istrinya tetap bisa memiliki penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah.

"Awalnya istri saya bekerja di kerajinan juga. Waktu istri hamil, saya berpikir lebih baik kalau bisa bekerja dari rumah. Akhirnya saya carikan pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah," kenang Heru.

Awalnya, pekerjaan tersebut hanya dilakukan sang istri seorang diri. Namun seiring bertambahnya pesanan, tenaga yang dibutuhkan pun semakin banyak. Heru kemudian mengajak tetangga sekitar untuk ikut membantu sekaligus mengajarkan keterampilan menganyam.

"Kerjaan semakin banyak, sementara istri saya sudah tidak mampu mengerjakannya sendiri. Saya tawarkan dan ajarkan ke tetangga, akhirnya mereka ikut membantu," ujarnya.

Dari situlah muncul ide untuk mendirikan usaha sendiri. Bermodal Rp5 juta, Heru mulai mengembangkan berbagai produk berbahan serat alam seperti eceng gondok dan pelepah pisang. 

Mengubah Gulma Menjadi Produk Bernilai Tinggi

Bagi sebagian orang, eceng gondok hanyalah tanaman liar yang mengganggu. Namun di tangan Heru, tanaman tersebut disulap menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.

Mulai dari keranjang, kotak penyimpanan, tempat tisu, hingga berbagai dekorasi rumah lahir dari tangan-tangan para perajin Luthfi Craft. Bahkan limbah sisa anyaman pun dimanfaatkan agar tidak terbuang sia-sia.

"Barang yang kecil dibuat dari limbah pendek-pendek. Jadi kalau bisa tidak ada limbah. Bahkan sisanya kalau dibakar bisa dipakai untuk pupuk," katanya.

Dengan sistem pre-order, Luthfi Craft kini memiliki lebih dari 500 jenis produk. Harganya pun beragam, mulai Rp5.000 hingga Rp500.000. Agar produknya terus diminati pasar, Heru tak pernah berhenti berinovasi. Ia mempelajari tren pasar secara otodidak dan menghadirkan desain baru setiap tahunnya.

"Setiap tahun saya cari inovasi baru, lihat pasar sedang tren apa. Otodidak saya," ujarnya.

Menembus Pasar Internasional

Kepercayaan pelanggan menjadi salah satu modal penting dalam perjalanan Luthfi Craft mengembangkan usahanya. Kualitas produk yang terjaga serta pelayanan yang baik membuat usaha kerajinan ini mendapat apresiasi dari para pelanggan.

Fauzan, salah satu pelanggan, mengaku terkesan dengan kualitas kerajinan yang dihasilkan Luthfi Craft. Menurutnya, produk-produk yang dibuat memiliki mutu yang sangat baik dan membanggakan karena kini telah berhasil menjangkau pasar internasional.

"Kerajinan tangan yang sangat bagus, barangnya sudah sampai pasar internasional" ungkap Fauzan. 

Hal serupa disampaikan Riza yang menilai Luthfi Craft sebagai supplier handycraft dan home decor yang terpercaya. Ia mengapresiasi kualitas produk yang mampu memenuhi standar ekspor serta pelayanan yang ramah dan profesional.

"Supplier handycraft dan homedecor. Kualitas bagus dan sudah ekspor sampai mana-mana. Bapaknya juga ramah" ungkap Riza. 

Pengakuan dari para pelanggan tersebut sejalan dengan perkembangan usaha yang telah dirintis Heru selama lebih dari dua dekade. Berkat konsistensi menjaga kualitas dan memanfaatkan bahan-bahan alami, produk-produk Luthfi Craft kini rutin menembus pasar mancanegara, seperti Amerika Serikat, Spanyol, dan Australia.

Menurut Heru, meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap isu lingkungan menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya permintaan produk kerajinan berbahan alami.

"Di sana plastik sudah mulai dilarang. Jadi produk seperti kami yang berbahan alami sangat dicari," ujarnya.

Saat ini, Luthfi Craft secara rutin mengirimkan pesanan ekspor dalam jumlah besar setiap bulan. Dari usaha yang dirintis secara bertahap tersebut, omzet yang diperoleh kini mencapai sekitar Rp50 juta per bulan.

Meski telah berhasil menembus pasar internasional, Heru menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak diraih secara instan.

"Awalnya memang kecil, enggak ada yang instan," katanya.

Rumah BUMN BRI Yogyakarta Membuka Jalan Pasar yang Lebih Luas

Perjalanan Luthfi Craft semakin berkembang setelah Heru bergabung dengan Rumah BUMN BRI Yogyakarta pada 2023. Informasi mengenai program tersebut pertama kali ia peroleh melalui media sosial.

"Dulu saya lihat informasi Rumah BUMN BRI Yogyakarta di Instagram. Ada link pendaftaran dan persyaratan yang harus dilengkapi. Akhirnya saya daftar dan bergabung," ujarnya.

Baginya, Rumah BUMN BRI Yogyakarta tak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bagi para pelaku usaha untuk saling berbagi pengalaman dan memperluas jaringan.

"Di grup kami sering sharing. Kalau ada pesanan khusus, biasanya ditanyakan siapa yang bisa mengerjakan. Sampai sekarang grupnya masih aktif," katanya.

Melalui pendampingan yang diberikan, Heru berkesempatan mengikuti BRILIANPRENEUR 2023. Produk anyaman berbahan eceng gondok dan pelepah pisang yang dimilikinya berhasil lolos seleksi dan dipamerkan kepada calon pembeli dari berbagai daerah.

"Kalau dari pameran biasanya ada yang tertarik lihat-lihat dulu. Kalau memang serius, nanti mereka datang lagi," ujarnya.

Dampak paling nyata yang dirasakan Heru adalah meningkatnya permintaan dari pasar domestik. Salah satunya datang dari pesanan keranjang hampers dan parcel dalam jumlah besar.

"Dulu ada yang pesan sekitar 50 pieces keranjang hampers. Lumayan banget, menambah pasar lokal," katanya.

Dari Bantul untuk Dunia

Meski telah berhasil menembus pasar internasional, Heru tetap memegang prinsip yang sama sejak awal merintis usaha. Ia bahkan selalu berpesan kepada anaknya agar memiliki usaha sendiri.

"Kalau nanti sudah selesai kuliah dan diterima kerja, saya bilang tetap harus punya wirausaha juga," ujarnya.

Kini, sekitar 50 perajin yang tersebar di sejumlah dusun ikut terlibat dalam proses produksi. Bagi Heru, memiliki usaha bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan manfaat bagi orang lain. Dari rumah sederhana di Bantul, ia berhasil membuktikan bahwa modal kecil dan ketekunan dapat melahirkan mimpi besar.

Usaha yang berawal dari niat membantu sang istri itu kini tak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga membuka peluang bagi puluhan perajin dan membawa nama Bantul hingga ke pasar dunia.

Perkembangan Luthfi Craft juga menarik perhatian berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak jarang, pelaku usaha, instansi pemerintah, hingga calon pembeli mancanegara datang berkunjung untuk melihat langsung proses produksi dan berdiskusi mengenai pengembangan kerajinan berbahan alami.

Salah satu kunjungan yang pernah diterima adalah dari Dekranasda Kabupaten Minahasa pada September 2025. Kunjungan tersebut menjadi ajang berbagi pengalaman dan inspirasi dalam mengembangkan kerajinan lokal berbasis anyaman serta memperkuat jejaring antar pelaku UMKM di Indonesia.

Selain itu, Luthfi Craft juga menerima kunjungan pembeli dari Turki yang tertarik melihat langsung kualitas produk dan proses pengerjaan kerajinan yang telah berhasil menembus pasar ekspor. Kunjungan-kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa karya para perajin lokal mampu menarik perhatian pasar global sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan industri kreatif berbasis kerajinan di Indonesia.

Rumah BUMN Yogyakarta Buka Akses UMKM ke Pasar Global

Rumah BUMN Yogyakarta saat ini memiliki sekitar 1.500 hingga 2.000 anggota aktif yang berasal dari berbagai sektor usaha. Untuk mendukung perkembangan bisnis para pelaku UMKM, Rumah BUMN menyediakan beragam program pendampingan, pelatihan, serta perluasan akses pasar.

Salah satu program unggulan yang ditawarkan adalah business matching melalui BRI UMKM Export yang sebelumnya dikenal dengan nama Brilianpreneur. Program ini menjadi wadah bagi UMKM untuk bertemu dengan calon pembeli potensial, termasuk buyer dari luar negeri.

"Kita bantu bisnis matching-nya lewat BRI UMKM Export itu, istilahnya bisa bertemu buyer-buyer potensial. Karena di BRI Expo itu BRI akan mendatangkan buyer-buyer luar negeri. Siapa tau di acara itu UMKM bisa dapet client dari luar negeri dan pihak-pihak lain. Dengan harapan UMKM bisa memasarkan produknya lebih luas lagi," ujar Fiera Dwi Hapsari selaku Koordinator Rumah BUMN Yogyakarta.

Melalui program tersebut, para pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk memperluas jaringan bisnis sekaligus menjalin kerja sama dengan calon pembeli dari berbagai negara. Kehadiran buyer internasional dalam BRI UMKM Export diharapkan dapat membuka peluang ekspor yang lebih besar serta meningkatkan daya saing produk UMKM di pasar global.

Sementara itu, bagi pelaku usaha yang ingin bergabung dengan Rumah BUMN Yogyakarta, proses pendaftarannya cukup mudah. Calon anggota hanya perlu mengisi formulir pendaftaran agar data usaha mereka dapat tercatat dalam sistem Rumah BUMN.

"Caranya gampang, isi pendaftaran aja supaya datanya ke-record di kami, nanti mereka akan gabung ke grup WA yang mereka pilih nih," jelasnya.

Setelah terdaftar, anggota dapat bergabung ke grup WhatsApp sesuai kategori usaha yang dipilih. Melalui grup tersebut, mereka akan mendapatkan berbagai informasi terkait pelatihan, pendampingan, program pengembangan usaha, hingga peluang kolaborasi yang secara rutin disediakan oleh Rumah BUMN Yogyakarta.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |