Harga Saham GIAA Terbang 15,07% Hari Ini 26 Maret 2026

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terbang pada perdagangan saham Kamis, (26/3/2026). Kenaikan harga saham GIAA ini setelah saham GIAA keluar dari efek bersifat pemantauan khusus.

Mengutip data RTI, harga saham GIAA terbang 15,07% menjadi Rp 84 per saham. Harga saham GIAA dibuka naik 12 poin menjadi Rp 85 per saham dari sebelumnya Rp 73 per saham. Saham GIAA berada di level tertinggi Rp 96 dan terendah Rp 81 per saham. Total frekuensi perdagangan 48.615 kali dengan volume perdagangan saham 20.608.782 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 182,5 miliar. Kenaikan harga saham GIAA ini seiring keluar dari papan pemantauan khusus.

“Untuk GIAA sendiri, hari ini baru lepas dari papan pemantauan khusus,” ujar Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana saat dihubungi Liputan6.com.

Berdasarkan data BEI, saham GIAA keluar dari papan pemantauan khusus yang efektif mulai 26 Maret 2026. Sebelumnya GIAA masuk kriteria lima dalam pemantauan khusus yakni memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.

Adapun kenaikan harga saham GIAA terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lesu. IHSG terperosok 1,89% ke posisi 7.164,09. Indeks saham LQ45 turun 1,97% ke posisi 731,72. Seluruh indeks saham acuan melemah.

Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.323,70 dan level terendah 7.162,59. Sebanyak 380 saham memerah sehingga menekan IHSG. 292 saham menguat dan 148 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 1.725.786 kali dengan volume perdagangan saham 31,1 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 32,3 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.899.

Sektor Saham

Nilai transaksi harian saham cukup besar pada Kamis pekan ini seiring transaksi saham PT FAP Agri Tbk yang mencapai Rp 18,8 triliun di pasar negosiasi. Di pasar negosiasi, transaksi harian saham FAPA naik 6,12% ke posisi Rp 6.500 per saham. Harga saham FAPA berada di level tertinggi Rp 6.550 dan terendah Rp 6.500 per saham. Total frekuensi perdagangan saham FAPA sebanyak dua kali dengan volume perdagangan saham mencapai 28.870.333 saham.

Dari 11 sektor saham, hanya sektor saham transportasi naik 2,96%. Sementara itu, sektor saham energi merosot 2,91%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham basic melemah 2,27%, sektor saham industri terpangkas 2,79%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 0,18%.

Kemudian sektor saham consumer siklikal terperosok 2,3%, sektor saham kesehatan melemah 0,76%, sektor saham keuangan turun 0,64%, sektor saham properti tergelincir 0,54%, sektor saham teknologi turun 1,2% dan sektor saham infrastruktur melemah 1,63%.

Target GIAA pada Akhir 2026

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) terus memperkuat fondasi transformasi bisnisnya dengan menargetkan tahun 2026 sebagai fase turnaround kinerja Perseroan, seiring dengan pemulihan kapasitas produksi secara bertahap, penguatan struktur permodalan, serta inisiatif langkah perbaikan bisnis dan operasional sejalan dengan berbagai langkah strategis transformasi yang dicanangkan Garuda Indonesia Group.

Sepanjang tahun buku 2025, Perseroan mencatatkan pendapatan usaha konsolidasi sebesar USD 3,22 miliar, turun 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring fase konsolidasi operasional untuk memperkuat fundamental bisnis. Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025 dimana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance.

Adapun pada tahun ini Perseroan turut mencatatkan rugi bersih sebesar USD 319,39 juta yang turut dipengaruhi oleh fluktuasi kurs, serta peningkatan biaya fixed cost seiring intensitas program pemulihan serviceability armada yang belum serviceable.

Jurus Garuda Indonesia

Garuda Indonesia Group terus memaksimalkan jumlah serviceable aircraft di akhir tahun 2025 menjadi sedikitnya 99 armada dari sebelumnya sekitar 84 armada per Juni 2025. Adapun total unserviceable armada pada akhir tahun 2025 sebanyak 43 pesawat yang saat ini tengah dalam tahapan penyelesaian perawatan armada. Ditengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, tren tekanan kinerja Garuda Indonesia di tahun buku 2025 juga turut dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, tekanan nilai tukar Rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan. Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid.

Selaras dengan tantangan fundamental kinerja di tahun buku 2025, manajemen baru Garuda Indonesia yang ditunjuk Danantara di akhir kuartal IV 2025 memproyeksikan sejumlah fokus transformasi kinerja yang akan diakselerasikan di tahun kinerja 2026 ini.

Melalui penguatan struktur manajemen yang diperkuat oleh kepemimpinan baru — Direktur Utama Glenny Kairupan, Wakil Direktur Utama Thomas Oentoro, serta kombinasi talenta internal Perseroan dan profesional internasional dalam jajaran Direksi — Garuda Indonesia memproyeksikan percepatan langkah perbaikan fundamental kinerja yang mencakup 11 inisiatif transformasi guna mendorong optimalisasi kinerja perusahaan secara lebih solid sepanjang tahun 2026.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |