Dihantam Tarif Impor AS, Toyota Pangkas Proyeksi Laba Bersih 2025

2 weeks ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Toyota Motor Corp. baru saja merevisi prediksi laba bersih untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Raksasa otomotif asal Jepang ini memperkirakan hanya sekitar 2,66 triliun yen atau sekitar Rp 294,6 triliun, turun tajam 44,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Disitat dari Xinhua, angka ini jauh di bawah proyeksi sebelumnya pada Mei 2025, yang sempat memperkirakan penurunan 34,9 persen menjadi 3,1 triliun yen.

Penurunan proyeksi keuntungan bersih Toyota ini disebabkan oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah tarif impor mobil ke Amerika Serikat (AS) yang melonjak menekan performa keuangan produsen Negeri Matahari Terbit.

Toyota memproyeksikan bahwa kenaikan tarif akan memangkas laba operasional sebesar 1,4 triliun yen, termasuk tambahan kerugian 1,2 triliun yen yang belum dihitung dalam perkiraan Mei lalu.

Meski begitu, penjualannya tetap tumbuh 1 persen, dengan target penjualan bersih sebesar 48,5 triliun yen, dan laba operasional dipertahankan di angka 3,2 triliun yen, turun 33,3 persen dari tahun sebelumnya.

Pada kuartal April–Juni, Toyota mencatat laba bersih sebesar 841 miliar yen, turun sekitar 36,9 persen secara tahunan. Di sisi lain, penjualan kuartal ini justru naik 3,5 persen menjadi 12,25 triliun yen.

Sementara itu, Toyota juga mengumumkan rencana membangun pabrik baru di Prefektur Aichi, yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2030-an. Langkah ini, untuk kapasitas produksi domestik tetap stabil, sekitar 3 juta unit kendaraan per tahun.

Soal Perang Harga di Indonesia, Toyota: Setiap Merek Punya Strategi

Perang harga yang semakin sengit tengah terjadi di pasar Indonesia. Beberapa merek roda empat, berlomba-lomba untuk menurunkan harga jual kendaraan, terlebih setelah kehadiran model baru asal Tiongkok, BYD Atto 1.

Menanggapi fenomena perang harga tersebut, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), Jap Ernando Demily mengatakan, perang harga ini merupakan strategi yang bisa dilakukan oleh setiap merek, dan tidak ada larangan untuk melakukan hal tersebut.

"Namanya kompetisi menurut saya itu normal, masing-masing orang bisa memilih strategi berbeda," ujar Ernando, saat ditemui di arena GIIAS 2025, pekan lalu.

Namun, terkait perang harga ini, Ernando mengatakan strategi terkait pengalaman memiliki sebuah kendaraan masih menjadi hal yang sangat penting.

"Pada waktu orang Indonesia beli mobil, kita tahu yang dipertimbangkan, satu produk itu sendiri, dua harga sesuai kemampuan, tiga konsumsi bahan bakar, empat perawatan, dan lima spare part. Keenam, Indonesia juga tahu, belum beli mobil sudah memperkirakan harga jual kembali," tegasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |