Bursa Saham Asia Melesat Ikuti Wall Street Usai Harga Minyak Turun

2 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik melonjak pada perdagangan saham Selasa, (24/3/2026). Kenaikan bursa saham Asia Pasifik seiring tanda-tanda de-eskalasi konflik di Timur Tengah menekan harga minyak dan wall street melesat.

Mengutip CNBC, indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 3% sebelum turun menjadi 1,5%. Indeks Kosdaq menguat 1,7%.

Indeks Nikkei 225 di Jepang terbang 1,1% dan indeks Topix melesat 1,87% setelah tingkat inflasi utama Jepang menurun untuk bulan keempat berturut-turut pada Februari. Hal ini karena ekonomi mendingin berkat stabilisasi harga pangan dan subsidi bahan bakar.

Indeks harga konsumen turun menjadi 1,3% bulan lalu, menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Jepang pada hari Selasa, menandai angka terendah sejak Maret 2022 dan di bawah target bank sentral sebesar 2%, turun dari 1,5% pada bulan Januari.

Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,32%. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,62%, sementara CSI 300 naik 0,52%.

Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin telah menginstruksikan militer AS untuk menunda serangan yang direncanakan terhadap pembangkit listrik dan fasilitas energi Iran selama lima hari, setelah berdiskusi dengan para pejabat Iran.

Namun, media pemerintah Iran, mengutip seorang pejabat keamanan senior yang tidak disebutkan namanya dalam sebuah unggahan Telegram, membantah pernyataan Trump, menyangkal bahwa telah terjadi pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Harga minyak anjlok pada Senin setelah komentar Trump.

“Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat, dan Negara Iran telah melakukan selama dua hari terakhir, percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap dan totas atas permusuhan kita di Timur Tengah,” kata Trump pada Senin pekan ini dalam sebuah unggahan Truth Social.

Harga Minyak

Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei naik lebih dari 3,5% menjadi USD 103,7 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate melonjak 4% menjadi USD 91,72 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah aksi jual tajam pada Senin, ketika minyak mentah Brent turun hampir 11% menjadi sekitar USD 99 per barel setelah mencapai USD 112 pada Jumat.

Semalam di AS, pasar saham menguat. Dow Jones Industrial Average melonjak 631 poin, atau 1,38%, dan ditutup pada 46.208,47. S&P 500 naik 1,15% dan berakhir pada 6.581,00, sementara Nasdaq Composite naik 1,38% dan ditutup pada 21.946,76.

Sebelum komentar Trump, yang diposting di Truth Social pada Senin pagi, kontrak berjangka menunjukkan lebih banyak kerugian bagi pasar ekuitas yang tertekan oleh harga minyak yang meroket dan ketidakpastian tentang durasi konflik Iran. Namun, setelah komentar Trump, indeks Dow Jones berjangka sempat melonjak lebih dari 1.000 poin.

Harga emas spot turun sekitar 1,5% menjadi USD 4.340,18, sementara harga perak spot turun hampir 3%.

Bursa Asia Melemah Awal Pekan, Kospi dan Nikkei Jatuh 4%

Sebelumnya, bursa Asia Pasifik jatuh pada perdagangan Senin (23/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Indeks acuan Jepang dan Korea Selatan turun lebih dari 4 persen di awal perdagangan.

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas setelah kedua negara saling melontarkan ancaman militer saat perang memasuki pekan keempat.

Mengutip CNBC, Senin (23/3/2026), Presiden AS Donald Trump, pada Sabtu menyatakan akan “menghancurkan” fasilitas energi Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jalur tersebut merupakan salah satu jalur vital distribusi energi global.

Iran pun merespons keras. Pemerintah negara tersebut mengancam akan menargetkan infrastruktur energi serta fasilitas desalinasi di kawasan Teluk jika AS benar-benar menjalankan ultimatumnya.

Ketegangan ini langsung berdampak pada sentimen pasar, dengan investor cenderung menghindari aset berisiko.

Iran Ancam Balasan, Harga Minyak Berpotensi Melonjak

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap pembangkit listrik Iran akan dibalas dengan serangan langsung terhadap infrastruktur energi dan minyak di seluruh kawasan.

“Infrastruktur penting serta fasilitas energi dan minyak di seluruh kawasan akan dianggap sebagai target sah dan dihancurkan secara permanen, dan harga minyak akan naik dalam jangka panjang,” tulis Ghalibaf di platform X.

Pada Minggu, ia bahkan memperluas ancaman tersebut dengan menyasar pihak-pihak yang memegang obligasi pemerintah AS. Menurutnya, entitas keuangan yang membeli surat utang AS dan “membiayai anggaran militer Amerika” juga akan dianggap sebagai target sah, selain pangkalan militer.

Sementara itu, harga minyak mentah relatif stabil di awal perdagangan. Minyak Brent turun 0,25% ke USD 111,97 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,6% ke USD 97,64 per barel.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |