Bos PTBA Belum Lirik Opsi Buyback Saham

12 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) Arsal Ismail belum merencanakan buyback saham dalam waktu dekat. Kondisi yang stabil, hingga peluang naiknya harga batu bara menjadi sebagian pertimbangan.

Arsal mengaku masih melihat pergerakan saham serta kondisi keuangan perusahaan. Stabilnya kondisi tersebut dikatakan menjadi salah satu alasan belum ada rencana buyback saham dalam waktu dekat.

"Kita melihat situasi dan kondisinya, dikaitkan dengan kondisi keuangan kita juga. Terus sama-sama kita sementara ini kan relatif masih stabil lah, jadi buyback itu itu belum kami rencanakan lah gitu kan," kata Arsal usai konferensi pers di Jakarta, dikutip Selasa (7/4/2026).

Arsal mengakui opsi buyback saham masih tetap terbuka seiring dengan perkembangan situasi kedepannya. Misalnya, ada dampak lanjutan sentimen atas Morgan Stanley Capital International (MSCI).

"Kalau kita lihat secara umum, ya masih ada gejolak naik turun kan biasa. Tapi untuk di sektor energi, kebenaran kita lagi diuntungkan kan, harga batu baranya kan relatif naik sekarang ini ya. Meskipun nanti akan diimbangin dengan biaya BBM juga akan naik," ujar dia.

Arsal juga memastikan keuangan perusahaan tersedua jika langkah pembelian kembali saham itu diambil. "Ya ada, tapi tidak begitu banyak, ada lah dananya itu ya," tandasnya.

Kantongi Laba Bersih Rp 2,93 T

Sebelumnya, PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA mencatatkan laba sebesar Rp 2,93 triliun sepanjang 2025 lalu. Angka positif itu berhasil dicatatkan meski ada penurunan harga batu bara global.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail menyadari penurunan harga jual rata-rata batu bara imbas turunnya indeks Newcastle 22%. Namun, perseroan diklaim mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 lalu.

"Pada tahun 2025 perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 6,8 triliun dan margin EBITDA sekitar kurang lebih 14%," ujar Arsal dalam Konferensi Pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Ada Pemulihan

Meski laba bersih PTBA tercatat positif, namun angka itu masih lebih rendah dari laba bersih Perseroan sepanjang 2024 sebesar Rp 5,1 triliun.

Meskipun keuntungan mengalami tekanan harga global, Perseroan menunjukkan pemulihan (recovery) yang menjanjikan secara kuartalan. Hal ini didukung oleh posisi keuangan yang, tetap kokoh, ditandai dengan kenaikan arus kas operasi yang tumbuh signifikan sebesar 24% menjadi Rp 6,26 triliun, mencerminkan fundamental bisnis yang sehat.

Pertumbuhan aset meningkat menjadi Rp 43,92 triliun didorong oleh penambahan aset tetap strategis. Realisasi belanja moda (CapEx) sebesar Rp 4,55 triliun difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim - Kramasan.

Kinerja Produksi

Sementara, PTBA sendiri tercatat meningkatkan volume produksi sebesar 9% menjadi 47,2 juta ton, serta mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 6% yang mencapai 45,4 juta ton. Volume angkutan batu bara juga naik 6% dari yang sebelumnya 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton di tahun 2025.

Arsal menekankan, ketahanan energi nasional menjadi prioritas. Ini tercermin dari mayoritas penjualan batu bara PTBA sebedar 54% untuk dalam negeri. Baru sisanya 46% dikirim ke berbagai negara.

"Kami juga melakukan diversifikasi untuk melakukan pemasaran-pemasaran yang selama ini konsentrasinya hanya ke China dan India tapi kami juga sudah mengembangkan ke Bangladesh, ke Vietnam, ke Korea Selatan dan Filipina dan juga kami juga mencoba kemarin ya ke Eropa, ini ke Spanyol dan Rumania," tutur dia.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |