Pendapatan Menyusut 7,8%, Saham ZATA Hadapi Tantangan Persaingan Ketat

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - PT Bersama Zatta Jaya Tbk dengan kode saham (ZATA), mencatat penurunan kinerja keuangan secara tahunan (year on year/yoy) hingga September 2025.

Wakil Direktur Utama PT Bersama Zatta Jaya Tbk, Ronny Saleh Pahlevi, memaparkan bahwa dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan perseroan turun sebesar 7,8 persen.

"Data yang disampaikan adalah data year on year September 2025 Terhadap September 2024. Dimana penjualan mengalami penurunan sebesar minus 7,8 persen," kata Ronny dalam Public Expose Insidentil PT Bersama Zatta Jaya Tbk, secara daring, Senin (26/1/2026).

Penurunan penjualan tersebut turut diikuti oleh penurunan beban pokok penjualan sebesar 3,1 persen. Meski demikian, tekanan terhadap kinerja tetap terasa pada laba bersih tahun berjalan yang tercatat menurun sebesar 15,7 persen secara yoy.

"Beban pokok penjualan juga mengalami penurunan sebesar minus 3,1 persen. Beban usaha dari Rp 65 miliar menjadi Rp 59,8 miliar atau turun minus 8,6 persen," ujarnya.

Tak hanya laba bersih, laba komprehensif tahun berjalan juga mengalami koreksi dengan persentase yang sama, yakni minus 15,7 persen. Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi perseroan di tengah dinamika industri tekstil dan ritel yang semakin kompetitif.

"Laba bersih tahun berjalan mengalami penurunan sebesar 15,7 persen. Laba komprehensif tahun berjalan pun sama, yaitu menurun minus 15,7 persen," ujarnya.

Tekanan Impor Ilegal dan Persaingan Harga Gerus Pendapatan

Ronny menjelaskan, penurunan pendapatan perseroan terutama disebabkan oleh kontraksi pada kanal kemitraan agen reseller. Faktor pertama berasal dari gempuran produk tekstil impor ilegal yang membanjiri pasar domestik.

"Penurunan pendapatan sebesar 7,8 persen terutama didorong oleh kontraksi pada kanal kemitraan agen reseller akibat tiga faktor utama, yaitu gempuran produk impor. Mitra agen di daerah mengalami persaingan harga yang tidak seimbang, dari produk tesktil impor ilegal yang membanjiri pasar," ujarnya.

Faktor kedua adalah dengan meningkatnya agresivitas kompetitor lokal yang menerapkan strategi harga murah turut menggerus pangsa pasar mitra Zatta. Persaingan yang semakin ketat ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan pertumbuhan penjualan di kanal tradisional.

Efisiensi Beban Usaha Jaga Laba Tetap Positif

Lebih lanjut, Ronny menyebut, faktor ketiga yang menekan kinerja pendapatan adalah transisi pola kemitraan bisnis. Terjadi pergeseran dari agen stokis atau pembelian grosir dalam jumlah besar menjadi sistem online affiliate tanpa stok, yang berdampak pada penurunan volume pembelian dalam jangka pendek.

"Transisi mitra bisnis mita affiliate. Terjadi pergeseran pola kemitraan dari agen stokis atau belu putus stok banyak menjadi online affiliate (Tanpa stok). Hal ini menyebabkan penurunan volume pembelian grosir secara signifikan dalam jangka pendek," ujarnya.

Di tengah tekanan penjualan tersebut, manajemen berhasil menerapkan strategi cost leadership. Manajemen berhasil melakukan efisiensi Beban Usaha sebesar minus 8,6 persen. Langkah penghematan ini krusial untuk memastikan perseroan tetap membukukkan laba bersih psoitif Rp 1,92 miliar.

Lanjut Baca:

Saham ANTM Hari Ini 26 Januari 2026 Melompat 10,96% saat Harga Emas Sentuh USD 5.000

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |