BEI Ungkap Banyak Investor Asing Minta Bertemu Bahas Kondisi Bursa Usai Keputusan MSCI

9 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengungkapkan, komunikasi dengan investor asing justru semakin intens di tengah dinamika pasar usai keputusan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI). Alih-alih memanggil pelaku pasar, BEI kini lebih banyak menerima inisiatif pertemuan dari investor melalui berbagai perantara, termasuk direksi bursa dan perusahaan sekuritas.

Iman menjelaskan, sejumlah investor asing meminta penjelasan langsung terkait kondisi pasar terkini serta berbagai faktor yang memengaruhinya. Diskusi dilakukan dalam berbagai forum, baik secara langsung maupun melalui kegiatan yang telah dijadwalkan sebelumnya.

"Sekarang ini justru menarik bahwa beberapa pelaku pasar menghubungi kita on behalf oleh investornya. Jadi investor-investor asing lewat beberapa direksi Bursa itu kita sekarang lakukan edukasi,” ujar Iman kepada wartawan di Gedung BEI Rabu (28/1/2026).

Dia menuturkan, pendekatan komunikasi saat ini berbeda dibanding sebelumnya yang cenderung mengumpulkan pelaku pasar. Kini, penyampaian informasi dilakukan lewat berbagai jalur, termasuk acara-acara pasar modal, pertemuan terbatas, serta melalui anggota bursa yang menjadi perantara investor.

"Jadi mereka yang minta waktu ke kita untuk kita jelaskan apa yang terjadi hari ini, fenomena hari ini. Jadi Pak Irfan dengan beberapa investor langsung yang foreign terutama melakukan diskusi-diskusi. Tentu saja kami terus edukasi juga,” jelas Iman.

BEI juga menekankan gejolak yang terjadi bukan sepenuhnya berada dalam kendali otoritas bursa, melainkan dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Dibayangi Faktor Eksternal

Karena itu, BEI berfokus memastikan investor mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai situasi yang berkembang serta langkah-langkah yang telah dan sedang ditempuh.

"Karena ini sebenarnya impact-nya adalah apa yang dilakukan oleh MSCI yang kita tidak bisa kontrol. Ini beyond our control. Ini yang kita lakukan dengan berbagai termasuk bagaimana channel distribusi lewat media ini kita sampaikan.”

Selain melalui media, BEI juga memfasilitasi sejumlah pertemuan yang diatur bersama anggota bursa untuk menjembatani komunikasi dengan investor asing. Upaya ini dilakukan agar investor global tetap memperoleh informasi langsung mengenai kondisi pasar Indonesia, sementara investor domestik dinilai relatif lebih cepat mendapatkan pembaruan informasi.

Penutupan IHSG pada 28 Januari 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada perdagangan saham Rabu, (28/1/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi setelah pengumuman MSCI untuk membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks saham.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup tersungkur 7,35% ke posisi 8.320,55. Indeks saham LQ45 terpangkas 7,26% ke posisi 812,53. Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, tekanan jual masih berlanjut dari sesi pertama, seiring panic selling setelah pengumuman MSCI yang akan membekukan pembobotan dan rebalancing dari saham Indonesia.

“Penurunan bisa berlanjut, tetapi dampaknya bisa hanya jangka pendek, karena opini saya keputusan MSCI justru dapat menahan outflow dari dana pasif asing di IHSG,” kata Reydi saat dihubungi Liputan6.com.

Adapun strategi investasi saat IHSG melemah karena pengumuman MSCI, Reydi mengatakan, investor dapat wait and see sembari melakukan akumulasi saham bertahap pada saat IHSG tertekan hingga trading halt seiring peluang kenaikan terbuka. “Peluang rebound-nya tetap terbuka,” ujar dia.

Sektor Saham

Pada perdagangan saham Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.596,17 dan level terendah 8.187,73. Sebanyak 753 saham melemah sehingga bebani IHSG. 37 saham menguat dan 16 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 3.990.870 kali dengan volume perdagangan saham 60,9 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 45,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.704.

Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham infrastruktur terpangkas 10,15%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi terpangkas 8,99%, sektor saham basic melemah 6,3%, sektor saham industri merosot 6,60%.

Selanjutnya sektor saham consumer nonsiklikal turun 3,96%, sektor saham siklikal terperosok 6,43%, sektor saham kesehatan melemah 4,84%. Lalu sektor saham keuangan turun 4,35%, sektor saham properti susut 6,35%, sektor saham teknologi melemah 7,55% dan sektor saham transportasi susut 7,36%.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |