Liputan6.com, Bandung - Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu destinasi wisata yang semakin populer di Indonesia. Keindahan alamnya yang masih asri dan eksotis menjadikannya tempat yang sempurna untuk mengabadikan momen berharga.
Tidak jarang banyak orang memilih Sumba untuk melakukan sesi foto kenangan hingga pre-wedding. Dengan lanskap perbukitan hijau, pantai berpasir putih, serta air terjun yang menakjubkan Sumba menawarkan latar belakang alami yang memukau bagi para fotografer.
Adapun salah satu lokasi favorit untuk foto prewedding di daerah ini adalah Bukit Wairinding. Perbukitan ini memiliki pemandangan savana yang luas dan berombak menciptakan kesan dramatis serta romantis dalam setiap jepretan.
Saat musim kemarau, bukit ini berubah warna menjadi kuning keemasan memberikan kesan eksotis yang berbeda. Sementara di musim hujan, hijaunya padang rumput menciptakan suasana segar dan alami yang sangat indah untuk diabadikan dalam foto.
Tak hanya alam, Sumba juga memiliki kekayaan budaya yang bisa dijadikan latar unik dalam sesi foto. Misalnya, Kampung Adat Ratenggaro dengan rumah-rumah tradisional beratap tinggi khas Sumba menawarkan suasana etnik yang kental.
Penggunaan kain tenun khas Sumba dalam foto prewedding juga bisa menjadi elemen menarik yang mencerminkan kekayaan budaya lokal sekaligus menambah keindahan visual dalam hasil foto.
Melalui artikel ini akan melihat lebih dalam keindahan dari Bukit Wairinding yang populer dijadikan spot berfoto terutama untuk banyak pasangan.
Mengenal Bukit Wairinding
Melansir dari beberapa sumber, Bukit Wairinding merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terletak di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Bukit ini menawarkan pemandangan perbukitan dan padang savana yang luas.
Bukit Wairinding dikenal dengan keunikan lanskapnya yang berubah warna sesuai musim. Pada musim hujan, bukit ini diselimuti oleh padang rumput hijau yang subur menciptakan pemandangan yang menyegarkan.
Sebaliknya, saat musim kemarau rumput-rumput tersebut mengering dan berubah warna menjadi cokelat keemasan, memberikan nuansa eksotis yang berbeda. Selain keindahan alamnya, Bukit Wairinding juga menjadi lokasi populer untuk fotografi.
Lanskap perbukitan yang luas dan perubahan warna padang savana sesuai musim memberikan latar belakang yang menakjubkan untuk berbagai jenis fotografi dan menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumba Timur.
Daya Tarik Bukit Wairinding
Bukit Wairinding menawarkan pesona alam yang memukau dengan hamparan padang savana yang luas dan perbukitan bergelombang. Keindahan alamnya yang masih alami menjadikan bukit ini destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama khas Sumba.
Selain itu, lokasi ini semakin dikenal setelah menjadi tempat pengambilan gambar untuk berbagai film dan sesi foto prewedding. Salah satu daya tarik utama Bukit Wairinding adalah perubahan warna padang savananya yang mengikuti musim.
Pada musim hujan, bukit ini diselimuti oleh rumput hijau yang subur dan saat musim kemarau rumput-rumput tersebut mengering dan berubah warna menjadi cokelat keemasan memberikan nuansa eksotis yang berbeda.
Perubahan ini membuat Bukit Wairinding seolah menawarkan dua pengalaman berbeda dalam satu lokasi. Keunikan lain dari Bukit Wairinding adalah bentuk perbukitannya yang jika diamati dari kejauhan menyerupai sosok manusia raksasa yang sedang tidur terlentang.
Selain panorama alamnya, Bukit Wairinding juga menawarkan interaksi budaya dengan masyarakat lokal. Seringkali, pengunjung akan bertemu dengan anak-anak Sumba yang sedang menggembalakan ternak atau bermain di sekitar bukit.
Lokasi Bukit Wairinding
Mengutip dari situs kkp.go.id Bukit Wairinding berlokasi di Desa Pambota Jara, Kecamatan Pandawai Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Bagi wisatawan yang datang dari pusat kota Waingapu maka dapat menempuh sekitar 25 km melalui rute darat.
Adapun perjalanannya bisa menggunakan jasa travel terpercaya atau transportasi bus umum. Namun, untuk perjalanan dan waktu yang tidak terbatas lebih dianjurkan dalam menyewa kendaraan agar lebih mudah.
Sementara itu, kondisi medan jalan ke tempatnya sudah cukup beraspal dan baik dilalui kendaraan. Kemudian sebagian besar wisatawan akan menempuh jalan yang berkelok-kelok sehingga persiapkan fisik dan mental cukup penting.
Masuk ke kawasan bukitnya sendiri tidak perlu tiket masuk tetapi wisatawan bisa mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya untuk warga setempat. Jam bukanya juga tidak ditentukan sehingga dapat dikunjungi kapan saja.