Kartini Kini di Garis Sunyi Konservasi: Cerita Pengabdian Hidup di Pedalaman Hutan Kalimantan

4 hours ago 4

Liputan6.com, Kalimantan - Nama lengkapnya Moscatia Muda. Tapi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, rekan-rekannya memanggil Dokter Oci. Pagi itu, pertengahan April 2026, Perempuan muda kelahiran Nusa Tenggara Timur ini sedang sibuk mengurus tiga bayi orang utan di kliniknya.

Ketiga bayi malang itu datang ke pusat rehabilitasi, satwa ini dalam keadaan terpisah dari induk. Rata-rata diambil dari rumah warga yang sempat memelihara satwa imut ini. Lucas, Jack, dan Hannes, nama ketiga bayi orang utan itu, masuk PPS hanya dalam rentang satu tahun.

"Hannes lebih tua dan sempat dirawat induk sehingga sifat liarnya seperti memanjat tinggi hingga membuat sarang masih ada. Lucas dan Jack banyak belajar dari Hannes," kata Oci sambil memberikan susu pada Hannes.

Hari ini, di saat banyak orang merayakan Hari Kartini dengan kebaya dan seremoni, Oci dan para perempuan di garis depan konservasi memilih jalan sunyi di pedalaman hutan Kalimantan.

Jauh dari hiruk pikuk kota, mereka menukar kenyamanan dengan dedikasi yakni merawat satwa liar yang tersisih dari habitatnya.

PPS Long Sam terletak di kawasan terpencil yakni di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Hanya saja, Long Sam tak benar-benar berada di pusat desa. Butuh waktu perjalanan menyusuri sungai ke arah hulu untuk sampai ke lokasi tersebut.

Sungai Kelay yang lebar di hilirnya mencapai 500 meter, di kampung ini sudah mulai mengecil dan berarus deras. Artinya jauh sekali ke pedalaman Kalimantan. Kawasan ini masih dikelilingi hutan primer yang lebat. Akses terbatas, sinyal nyaris tak ada.

Namun justru di tempat seperti inilah, makna pengabdian terasa paling nyata. Dokter Oci adalah salah satu penjaga kehidupan di sana. Perempuan berusia 26 tahun itu datang dengan alasan sederhana.

"Saya ingin berpetualang jauh dari rumah," jawabnya saat ditanya memilih tempat sejauh ini untuk pengabdian.

Namun yang ia temukan bukan sekadar petualangan, melainkan panggilan hidup. Sehari-hari, Oci berkutat di klinik sederhana di tengah hutan. Ia merawat bayi orangutan, memberi susu, memeriksa kondisi kesehatan, hingga memastikan setiap individu punya kesempatan untuk pulih.

Satwa yang datang ke PPS Long Sam tentu saja tidak dalam kondisi baik-baik saja. Banyak yang mengalami trauma seperti dipisahkan dari induk, dipelihara secara ilegal, atau menjadi korban konflik dengan manusia.

"Saya tidak selalu menganggap perempuan kerja di hutan rimba itu masih dianggap susah sekali. Ya, mungkin susah karena dari staminanya tentu beda sama laki-laki. Tapi kalau misalnya menyukai alam itu sebenarnya have fun saja," kata Oci.

Menjemput Satwa, Memanjat Kandang

Dokter Oci merupakan garda terdepan evakuasi satwa. Sebagai dokter hewan, dia sering ikut proses evakuasi satwa, baik di Kalimantan Timur maupun di Kalimantan Utara. Saat menjemput Bayi Orang Utan Jack misalnya, dia harus menempuh perjalanan 10 jam ke rumah yang merawat satwa itu.

Atau misalnya saat translokasi satwa di kawasan konflik, daerah pertambangan dan perkebunan, Oci harus bersedia ikut kapan saja. Memeriksa kesehatan satwa dan ikut memutuskan apakah kembali dilepasliarkan atau masuk pusat rehabilitasi.

Pekerjaannya tak berhenti di ruang klinik. Suatu waktu di PPS Long Sam, ia harus bergegas menuju kandang owa setelah menerima laporan perilaku tak biasa dari Animal Keeper. Dengan medan yang terbatas, ia memanjat kandang, masuk melalui pintu sempit, dan melakukan pemeriksaan langsung. Di tengah keterbatasan fasilitas, ketepatan diagnosis tetap menjadi tanggung jawabnya.

Bagi Oci, setiap satwa adalah pasien yang harus diperjuangkan hak hidupnya. Tak hanya orangutan, ia juga merawat owa, burung rangkong, hingga beruang madu. Stetoskop di tangannya bukan sekadar alat medis, melainkan penghubung antara harapan dan kehidupan baru bagi satwa-satwa itu.

"Mungkin tantangannya itu lebih besarnya ke diri sendiri. Seperti Bagaimana mau beradaptasi dengan alam. Bisa atau tidak kalau beberapa hari tidak ada internet. Kemudian tidak ketemu banyak orang, tiap hari sama satwa, sama pohon-pohon, sama sungai. Nah, itu bisa apa tidaknya dari situ?,” kata Oci.

Di balik sosoknya yang periang, Oci adalah gadis pada umumnya. Dia adalah seorang penikmat komik online dan bangga menyebut dirinya sebagai K-Popers generasi kedua. Namun, hobi tersebut kini ia simpan rapat di balik pintu klinik hewan yang terpencil.

"Jadi untuk perempuan yang kerja di konservasi, kemudian tinggalnya di hutan, itu menjadi salah satu hal yang menurut saya cukup beruntung bisa kerja di sini," ujarnya.

Bagi Oci, Hari Kartini adalah tentang keberanian menentukan takdir. Takdir membawanya menempuh ribuan kilometer dari kampung halaman untuk menjadi 'ibu angkat' bagi bayi-bayi orangutan yang malang. Di tangannya, stetoskop bukan sekadar alat medis, melainkan senjata terakhir untuk memutus rantai trauma satwa liar.

Dela Mawar: Perisai Kecil dari Berau

Jika Oci bertarung di meja medis, maka ada sosok lainnya yang tak kalah penting di garda terdepan konservasi Indonesia. Namanya Dela Mawar. Gadis yang biasa disapa Mawar ini adalah napas keseharian bagi satwa-satwa ini.

Di sisi lain hutan, Mawar yang baru berusia 20 tahun ini punya peranan yang tak kalah penting. Ia lahir dan besar di Berau, tak jauh dari kawasan ini.

Pagi Mawar dimulai saat kabut masih menggantung di antara pepohonan. Ia menyiapkan pakan, memastikan takaran nutrisi sesuai kebutuhan tiap satwa. Dari kandang owa, ia membangun kedekatan, memantau perilaku, sekaligus menjaga kepercayaan yang perlahan tumbuh.

Rutinitasnya berlanjut ke perawatan bayi orang utan. Ia menyiapkan makanan, lalu menggendong mereka berjalan ratusan meter menuju 'sekolah hutan'. Di sanalah, Mawar berperan sebagai pengasuh sekaligus guru. Dia mengajarkan cara memanjat, mengenal pohon, hingga melatih insting liar yang sempat hilang.

Di bawah kanopi hutan, ia mendampingi setiap proses itu dengan sabar. Menyuapi, mengawasi, dan sesekali membiarkan mereka mencoba sendiri. Baginya, keberhasilan bukan saat satwa itu jinak, melainkan ketika mereka siap kembali hidup liar.

"Di sini kita belajar banyak tentang satwa. Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki, semua bisa kerja sama," ujar Mawar.

Malam pun turun di Long Sam. Namun, bagi Oci dan Dela, pengabdian belum benar-benar tuntas. Di dalam Baby House, di bawah temaram lampu, mereka masih berjaga. Memberikan botol susu terakhir bagi bayi orangutan, menawarkan kehangatan yang seharusnya mereka dapatkan dari induk yang mungkin telah tiada.

"Saya suka berada di sini. Di sini tidak ada perbedaan antara perempuan dan lelaki, peranannya sama. Kita tetap bisa kerja sama dengan baik," kata Mawar.

Di tempat yang nihil sinyal komunikasi ini, mereka justru menemukan koneksi yang paling jujur yaitu koneksi antara manusia dan alam. Oci dan Mawar adalah wajah Kartini masa kini. Mereka yang tidak butuh panggung digital untuk menunjukkan eksistensi.

Saat lampu Baby House akhirnya dipadamkan, kegelapan menjadi saksi bahwa di tengah hutan Borneo yang sunyi, cahaya emansipasi itu terus menyala terang. Membebaskan satwa kembali ke rimba adalah perayaan kemerdekaan yang paling hakiki yang pernah ada.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |