Anti-Range Anxiety Saat Mudik, Super Hybrid System Jadi Solusi Perjalanan Jarak Jauh

9 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Periode mudik Lebaran 2026 kian dekat. Masyarakat pun mulai bersiap menghadapi perjalanan lintas provinsi dengan durasi panjang, mulai dari tol Trans Jawa dan Sumatera, kemacetan di jalur arteri, hingga rute menanjak dengan ritme berkendara yang berubah-ubah.

Karakter mudik di Indonesia menuntut kendaraan yang hemat bahan bakar, fleksibel tanpa harus antre di SPKLU, serta tetap nyaman meski terjebak macet berjam-jam. Di sinilah teknologi hybrid generasi baru semakin relevan, terutama dengan pendekatan Super Hybrid System (SHS) yang diusung lini SUV elektrifikasi JAECOO.

Head of Product JAECOO Indonesia, Ryan Ferdiean Tirto, menjelaskan bahwa sistem SHS dirancang untuk menyesuaikan penggunaan mesin bensin dan motor listrik secara otomatis sesuai kondisi jalan.

“Pola kerja adaptif ini membantu kendaraan tetap responsif saat menyalip, namun tetap irit saat merayap di tengah kemacetan. Ini sangat pas untuk karakter mudik kita yang jaraknya bisa ratusan kilometer,” ujarnya di IIMS 2026, Jumat (13/2/2026).

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan saat memilih mobil hybrid untuk mudik agar perjalanan tetap tenang tanpa dihantui range anxiety?

1. Pilih Sistem Hybrid yang Adaptif

Mudik di Indonesia berarti siap menghadapi segala medan, dari jalan tol lancar hingga macet total berjam-jam. Sistem hybrid yang ‘pintar’ akan otomatis mengatur perpaduan mesin dan motor listrik tanpa perlu pengemudi melakukan pengaturan manual.

Pendekatan ini diterapkan pada JAECOO J7 SHS-P dan JAECOO J8 SHS-P ARDIS, yang difokuskan untuk ketangguhan harian maupun perjalanan luar kota jarak jauh.

Dengan sistem adaptif, kendaraan tetap responsif saat membutuhkan tenaga ekstra, seperti saat menyalip truk di jalur pantura atau menanjak di jalur selatan. Di sisi lain, konsumsi bahan bakar tetap efisien ketika merayap dalam antrean panjang menuju gerbang tol atau rest area.

2. Pastikan Jarak Tempuh Panjang dan Fleksibel

Salah satu kekhawatiran utama pemudik yang beralih ke elektrifikasi adalah antrean di stasiun pengisian daya. Sistem SHS mengombinasikan mesin konvensional dan baterai, sehingga perjalanan tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan charging station.

Fleksibilitas ini membuat perencanaan rute mudik lebih sederhana dan waktu tempuh bisa lebih efisien. Pengemudi tak perlu waswas mencari colokan listrik di tengah kepadatan arus balik.

Bagi konsumen yang ingin beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik, JAECOO juga menghadirkan JAECOO J5 EV sebagai unit EV perdana. Model ini menawarkan opsi hiburan karaoke serta bagasi luas yang siap menampung koper hingga kardus oleh-oleh khas Lebaran.

3. Manfaatkan Fitur Elektrifikasi yang Fungsional

Fitur elektrifikasi kini bukan sekadar soal efisiensi, tetapi juga fungsionalitas. Salah satunya adalah Vehicle to Load (V2L), yang memungkinkan mobil menjadi “powerbank raksasa” berjalan.

Daya dari kendaraan bisa dimanfaatkan saat beristirahat untuk menyeduh kopi, menghangatkan makanan sahur atau berbuka, hingga mengisi daya gadget seluruh anggota keluarga. Fitur ini relevan dengan kebiasaan pemudik Indonesia yang kerap beristirahat di pinggir jalan atau rest area.

Selain efisiensi, faktor keselamatan juga menjadi perhatian utama di jalur mudik yang melelahkan. J7 SHS-P dan J8 SHS-P ARDIS dibekali hingga 19 fitur ADAS, termasuk Adaptive Cruise Control dan Traffic Jam Assist yang membantu mengurangi kelelahan kaki saat menghadapi kemacetan panjang.

Untuk kenyamanan keluarga, J8 SHS-P ARDIS menghadirkan kursi pijat di bangku penumpang depan serta sistem audio premium. Fitur ini menjadi nilai tambah ketika perjalanan mudik memakan waktu belasan jam.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |