Ternyata Ini Penyebab Munculnya Lubang Raksasa Misterius di Sumatera Barat

2 days ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sinkhole di kawasan pertanian Pombatan, Sumatera Barat, terjadi akibat proses erosi buluh. Fenomena ini tidak muncul secara mendadak, melainkan melalui proses alamiah yang berlangsung terus-menerus.

Menurut Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, proses ini terjadi pada batuan berbutir halus dengan intensitas curah hujan relatif tinggi.

"Proses pembentukan sinkhole ini berbeda dengan proses pembentukan sinkhole pada batugamping," ujar Lana dalam keterangannya ditulis Bandung, Selasa (6/1/2025).

Lana menjelaskan, hasil analisis Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi menunjukkan amblesan terjadi akibat rekahan di permukaan lapukan batuan tuff. Di bawahnya terdapat batu gamping malihan yang kedap air (impermeable), sehingga memicu proses tersebut.

Rekahan ini berfungsi sebagai media masuknya air ke dalam tanah. Air yang mengalir pada rekahan tanah tersebut memicu terjadinya proses erosi buluh. Akibat proses erosi buluh terbentuk rongga di bawah tanah, yang diikuti dengan runtuhnya tanah permukaan dan membentuk sinkhole.

"Lubang yang terbentuk akibat sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan membuat pagar pengaman di sekitar lubang," kata Lana.

Bila mulai terbentuk retak dan rekahan yang membesar, masyarakat perlu melakukan pemantauan dan melaporkan ke aparat setempat untuk berkoordinasi dengan instansi yang berwenang. Masyarakat setempat juga diimbau agar tetap tenang bila terdengar suara gemuruh dari permukaan tanah.

"Peristiwa seperti ini berpotensi terjadi pada lokasi lain pada lahan pertanian sekitarnya," jelas Lana.

Proses Erosi Buluh

Lana menyebut erosi buluh adalah proses pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang membentuk saluran (pipa). Dia mengutip Boucher, S.C., 1990.

Faktor penyebab erosi buluh meliputi jenis batuan seperti mineral lempung, batuan bertekstur halus dan intensitas curah hujan yang tinggi, menurut Bernatek-Jakiel, A. & Poesen, J., 2018.

"Proses kejadian terbentuk rekahan secara perlahan yang menjadi jalur aliran air bawah tanah. Tata guna lahan seperti pertanian intensif, sistem irigasi buruk, alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor penyebab. Ditambah adanya gradien hidraulik air tanah," terang Lana.

Data yang diperoleh di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, jenis batuannya berupa mineral lempung dan batuan bertekstur halus.

Lana mengatakan Formasi Tuff Batu Apung (Qpt) berupa batu apung (pumice). Bagian bawah formasi ini terdapat Anggota Batugamping Formasi Kuantan (PCkl) berupa batu gamping malihan merujuk Peta Geologi Lembar Solok, Sumatera Skala 1:250.000, Badan Geologi 1995.

"Berdasarkan foto dari laporan masyarakat menunjukkan tanah pelapukan batu apung berukuran butir lempung. Batu Gamping malihan bersifat kedap air (impermeable)," sebut Lana.

Sebelum terbentuknya sinkhole, laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di kawasan tersebut kerap terjadi hujan dengan intensitas tinggi rerata 2000 - 2500 mm/tahun.

Lubang Raksasa Misterius di Limapuluh Kota

Sebelum terjadinya sinkhole, informasi yang diperoleh Badan Geologi Kementerian ESDM yaitu terbentuknya rekahan. Sawah yang sebelumnya retak karena kemarau, tiba-tiba runtuh membentuk lubang besar. Diameternya terus melebar dan di dalamnya terdengar suara berdentam-dentam dari dalam air.

Sebagian besar kawasan di sekitar adanya sinkhole, merupakan Pertanian Pombatan yang digarap oleh masyarakat setempat. Lana membeberkan ditemukannya air dalam sinkhole, karena adanya genangan air yang bersumber dari aliran air tanah.

Fenomena amblesan (sinkhole) terjadi pada tanggal 4 Januari 2026 di Kawasan Pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Fenomena ini ditandai oleh terbentuknya lubang amblesan selebar 20 m dengan kedalaman ±15 m.

Fenomena amblesan pada umumnya terjadi pada batugamping. Fenomena amblesan di Kawasan Pertanian Pombatan, Jorong Tepi bukan terjadi pada batugamping, namun terjadi pada endapan lapukan batuan vulkanik.

Dilansir Antara, fenomena sinkhole atau tanah tiba-tiba berlubang yang muncul di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Minggu (4/1/2026) sekitar pukul 11.00 WIB semakin mencengangkan masyarakat.

Pasalnya, 24 jam setelah "lubang misterius" itu muncul tiba-tiba di dalam sawah, debit air dalam lubang semakin meluap, dan sudah menggenangi sawah yang sebelumnya retak-retak akibat kemarau.

"Iya. Air di dalam lubang, kini bertambah naik ke atas sawah. Airnya terlihat seperti air dalam telaga biru. Saya cemas, air yang naik membuat lubang tambah besar. Paman saya, Mak Etek Uwid, yang pertama kali melihat lubang muncul disertai bunyi bergemuruh, juga masih cemas," kata Adrolmios alias Si Ad, 61, pemilik sawah kepada wartawan, Senin siang (5/1).

Plt Wali Nagari Situjuah Batua Emil Nofri Ihsan Dt Rajo Simarajo, dan Kepala Jorong Tepi, Salmi, membenarkan jika air dalam lubang yang diduga sinkhole itu semakin bertambah naik. Bahkan sudah menggenangi seluruh areal sawah. Untuk antisipasi dan menjaga keamanan ribuan warga yang datang silih berganti, Polsek Situjuah Limo Nagari tak hanya memasang police line, tapi juga menerjunkan personel untuk berjaga di lokasi.

Anggota Komisi DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang berada di lokasi meminta BPBD Limapuluh Kota sebagai mitra kerjanya di Komisi II Bidang Ekonomi Pembangunan, Kebencanaan, dan Lingkungan Hidup, agar menyurati Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Langkah ini penting untuk antisipasi dan penanganan bencana.

"Koordinasi lisan yang sudah dilakukan BPBD Limapuluh Kota, perlu diiringi dengan bersurat kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian ESDM, agar menurunkan ahli untuk meneliti fenomena alam ini. Sehingga dengan kajian ahli, pemda bisa beri solusi dan ambil langkah antisipatif. Supaya warga tak cemas dan tak muncul spekulasi liar," kata Fajar Rillah Vesky.

Meski fenomena alam ini terjadi pada awal tahun anggaran pemda. Tapi, menurut Fajar Rillah Vesky, kajian cepat dan tindakan kedaruratan bencana, harus tetap diambil BPBD dan OPD pengampu SPM layanan sosial. Termasuk, memberi bantuan tanggap darurat, buat penggarap sawah yang tak bisa beraktifitas ekonomi. Karena sawahnya terus didatangi oleh ribuan masyarakat yang penasaran dengan fenomena alam ini.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |