Perjalanan 24 Tahun Yanti Batok Craft, dari Titik Balik Gempa Jogja dan Covid hingga Mendunia

13 hours ago 7

Liputan6.com, Yogyakarta - Suara mesin pemotong batok kelapa terdengar di sebuah gang kecil Dusun Jaron, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Dari tempat produksi yang sederhana, Yanti Batok Craft sukses tembus pasar internasional.

Membangun usaha sejak tahun 2002 dan sulap limbah batok kelapa yang ada di sekitar menjadi kerajinan yang bernilai, Yanti Batok Craft kerap kali dikunjungi mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) hingga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk pemenuhan tugas dari dosen.

Ditemui di kediamannya pada (21/6/2026), Hariyanti atau yang akrab disapa Yanti (55) menceritakan tentang perjalanan usaha batok kelapa yang ia jalani bersama sang suami. Yanti Batok Craft Jogja merupakan nama baru dari usaha yang ia jalankan, yang mulai digunakan sejak tahun 2014 bersamaan dengan perpindahan tempat usaha.

"Dan berdiri disini (tempat yang kini ditinggali) itu tahun 2014. Jadi sebelumnya tidak disini, dan juga nama lain. Kita pindah disini tuh, ganti nama dengan nama Yanti Batok Jogja," kata Yanti.

Memilih Bisnis yang Memiliki Nilai Jangka Panjang

Salah satu yang melatar belakangi Yanti membangun bisnis batok kelapa adalah karena Yanti ingin menjalankan bisnis yang tidak cepat rusak. Sebelumnya, Yanti sempat menjalankan bisnis makanan ringan, namun memiliki kendala ketika produk tidak habis terjual karena harus diretur atau dikembalikan.

"Yang latar belakangnya yaitu, pertama saya berpikir untuk berbisnis yang biarpun sekarang ini belum laku, tapi tidak basi," kata Yanti.

Munculnya ide untuk memilih batok sebagai bahan baku memulai usaha berawal dari pikiran sepintas Yanti saat melihat kancing bajunya dari batok kelapa. Ide yang tiba-tiba ini membawa Yanti dan sang suami kini telah menjalankan usaha selama 24 tahun.

"Kemudian kita sepintas lihat, kancing baju saya itu batok, dari batok ini kan dari batok. Dan di sekitar kita kan dulu batok berlimpah, karena memang warung-warung itu kan juga batok dibuang kan," cerita Yanti.

Yanti dan suami perlahan membangun usaha dimulai dengan merekayasa alatnya. Yanti mengungkapkan jika alatnya belum dijual pada kala itu, bahkan saat ini pun alatnya belum ada untuk yang bermotif.

"Alat-alat itu juga belum dijual di toko-toko juga. Sampai sekarang pun juga belum sebenarnya kalau yang bermotif," kata Yanti.

Produk pertama yang dibuat Yanti dari batok kelapa ada kancing baju. Mulai dari ukuran 1,3 hingga 5 cm, produknya kemudian dibawa Yanti ke konveksi dan toko alat jahit untuk menawarkan kancing batok kelapa.

Pesanan yang semakin meningkat membuat usaha Yanti terus berkembang dengan menghadirkan berbagai motif baru, termasuk bros dan gantungan kunci. Seiring bertambahnya permintaan, Yanti kemudian membuat alat produksi tambahan dan mengajak para tetangga untuk membantu proses pembuatan produk.

Memperluas Pasar Melalui Pameran

Pada tahun 2003, Yanti mulai mengurus legalitas usahanya. Setelah mendapatkan legalitas, Yanti mulai ikut berbagai pameran seperti Bantul Expo hingga Jakarta Expo. Mendapatkan banyak atensi dari pengunjung pameran, permintaan custom produk pun mulai berdatangan karena pada saat itu produk Yanti Batok Craft sudah bervariasi seperti fashion hingga wall décor.

Melalui pameran yang sering ia ikuti, Yanti kemudian bertemu dengan pembeli yang berasal dari Jamaika. Bahkan sampai saat ini pembeli dari Jamaikan tersebut masih terus membeli produk Yanti Batok Craft.

"Buyer-nya itu dari Jamaica, kemudian dia order tas-tas bulat. Dan sampai sekarang juga masih, dari Jamaica itu. Kemudian kita sering pameran, kita sering pameran gratis seperti di Ambon, di Batam, di Bali, kemudian di Malaysia, kemudian di Belanda. Semuanya gratis dari partner kita, dari pemerintah," cerita Yanti.

Menciptakan Desain dari Inspirasi Pribadi dan Sekitar

Sejak 2002, sudah banyak desain produk yang diciptakan oleh Yanti Batok Craft. Yanti mengungkapkan jika ide desain tersebut didapatkan dari berbagai pihak, dari diri sendiri, karyawan, atau bahkan pelanggan setianya.

Terus memperkenalkan usahanya lewat berbagai usaha, Yanti Batok Craft pernah mengikuti lomba desain. Berhasil menyabet juara dua, Yanti Batok Craft mendapatkan didampingi untuk membuat desain dari batok tersebut selama tiga bulan.

"Kemudian setelah itu juga kita tidak pernah berbayar sama sekali, bahkan kita dikasih sangu. Jadi kita waktu itu memang benar-benar senang karena memang Alhamdulillah terpilih sebagai pemenang desain," cerita Yanti.

Tekstur batok kelapa yang keras, Yanti mengungkapkan jika hal tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan usaha tersebut. Untuk satu produk biasanya memakan waktu pembuatan selama tiga hari hingga satu minggu.

Memulai Usaha dengan Modal Terbatas, Kini Raih Omzet Rp10 Juta per Bulan

Ditemani suara karyawan yang sedang bekerja, Yanti melanjutkan ceritanya. Pebisnis berusia 55 tahun ini mengungkapkan jika hampir tidak ada modal yang ia keluarkan ketika memulai usaha karena kala itu batok mudah ditemukan dan harganya murah.

"Waktu pertama kali kita bergerak itu, modalnya ya karena baduknya waktu itu juga enggak beli kan. Waktu itu kan juga warung-warung diminta batok langsung "oh iya mbak", malah bersih gitu," cerita Yanti.

Memulai usaha tanpa modal, kini Yanti Batok Craft berhasil meraup omzet sekitar Rp 10 juta sebulan. Bahkan kini ia bisa memperkerjakan lima karyawan yang juga merupakan tetangganya.

"Kalau omzet sih, karena kita industri kecil, apa namanya, jadi ya belum banyak. Rata-rata ya sekitar 3 sampai 10 kadang-kadang. Jadi ya, kita juga nggak muluk-muluk yang penting kita tetap jalan dan bisa membantu orang," kata Yanti.

Titik Batik Yanti Batok Craft Setelah Gempa 2006 dan Pandemi Covid-19

Tragedi gempa Jogja tahun 2006 memaksa Yanti untuk berhenti beroperasi sementara selama dua tahun. Pada tahun 2008, usaha Yanti Batok Craft perlahan mulai stabil dan mencetuskan inovasi baru yaitu produk tas.

"Setelah gempa itu 2006 ya. 2007-2008 lah. 2008 kita udah Insya Allah udah stabil lagi," kenang Yanti tragedi 20 tahun yang lalu.

Usaha berjalan stabil selama beberapa tahun setelahnya, kemudian pada tahun 2020 Yanti Batok Craft terpaksa harus tutup sementara lagi karena pandemi Covid-19 selama kurang lebih tiga tahun.

"Karena COVID itu saya berhenti 2-3 tahun. Karena ini kan tersier. Bukan makanan atau minuman. Atau juga fashion ya. Jadi kayak dikesampingkan. Nggak butuh lah," kata Yanti.

Ikut Pelatihan BRIncubator hingga Digitalisasi Pembayaran dengan QRIS BRI

Yanti Batok Craft merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) unggulan alumni BRIncubator tahun 2025. Yanti mengungkapkan jika ia mengikuti program tersebut sebanyak dua kali. Bahkan ia ungkap senang bisa mendapatkan pelatihan dari BRI.

BRI Incubator (BRIncubator) merupakan program pelatihan, pendampingan, dan pengembangan usaha yang diinisiasi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mendukung pertumbuhan UMKM. Program ini berorientasi pada peningkatan kapasitas UMKM melalui digitalisasi, modernisasi bisnis, penguatan literasi keuangan, serta persiapan menuju pasar internasional melalui proses validasi ekspor 

"Saya ikut BRIncubator itu dua kali. Iya, dua kali ikut. Tahun 2025 sama tahun 2023 atau tahun 2024 ya. Ternyata alhamdulillah itu juga dapat apresiasi," kata Yanti.

Selain pernah mengikuti program BRIncubator, Yanti juga merupakan nasabah BRI yang memanfaatkan fasilitas KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk mendukung kebutuhan produksi dalam mengembangkan usahanya.

"Dari BRI udah. Dari BRI itu udah dua kali. Suami pernah pinjam, saya juga pernah pinjam. Untuk usaha ini juga," kata Yanti.

Ketika mengunjungi rumah Yanti, terlihat juga QRIS BRI yang terletak di atas etalase kaca produk batok kelapanya. Yanti Batok Craft sudah membuat QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) tersebut sejak pertama kali diluncurkan yaitu pada tahun 2020.

"QRIS-nya BRI. Udah dari awal. Maksudnya awal ada QRIS," kata Yanti.

Karyawan Senior di Yanti Batok Craft

Widodo (50) merupakan karyawan Yanti Batok Craft yang paling senior. Ditemui saat sedang bekerja, Widodo mengungkapkan jika ia sudah bekerja bersama Yanti sejak sekitar tahun 2008 atau setelah 5 tahun Yanti Batok Craft berdiri.

"Sebenernya kan udah 5 tahunan. Jadi terus kita gabung," kata Widodo mengingat tahun tepatnya bergabung dengan Yanti Batok Craft.

Bekerja dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB, satu hari Widodo biasanya mengerjakan satu produk. Namun untuk produk yang ukurannya kecil, dalam satu hari bisa dikerjakan dalam jumlah banyak.

"Ya cuman satu produk.  Tapi kalau yang kecilnya mungkin selesai langsung ganti yang lain," kata Widodo.

Agar pesanan dapat selesai lebih cepat, Widodo juga mengerjakan proses produksi di rumah. Sembari memperlihatkan proses pemotongan batok kelapa, Widodo mengungkapkan bahwa di rumahnya juga terdapat empat mesin yang digunakan untuk membantu proses produksi.

Modifikasi Alat untuk Mendukung Proses Produksi

Yanti mengungkapkan bahwa alat produksi yang digunakan dalam usahanya berjumlah lebih dari sepuluh jenis. Beberapa alat tersebut dibeli dari toko, kemudian dimodifikasi agar dapat digunakan sesuai kebutuhan dan mampu menghasilkan produk sesuai dengan yang diinginkan.

"Karena itu kalau alat-alat itu kan kita beli memang di toko, tapi kan masih kita modifikasi lagi. Kalau alat banyak mbak, lebih dari sepuluh ada," jelas Yanti.

Alat untuk memotong batok kelapa dibuat sendiri oleh suami Yanti, yaitu Yani. Ditemui di sela-sela aktivitasnya bekerja, Yani menceritakan bahwa mesin hingga pisau yang digunakan untuk memotong kelapa dibuat sendiri.

"Yang penting mata pisaunya. Mata pisaunya itu kita yang buat," kata Yanti ditemui di tempat terpisah.

Sukses membangun bisnis selama lebih dari 20 tahun, Yanti kerap dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai acara. Tidak sedikit peserta yang tertarik untuk mencoba menjalankan bisnis serupa. Bahkan, beberapa di antaranya juga mendapatkan tawaran pembuatan mesin untuk mendukung usaha yang ingin mereka kembangkan.

"Kalau memang itu mesin dari saya dan pernah saya latih, tidak masalah, aman. Kita tahu cara pasangnya, cara kerjanya," tambahnya.

LinkUMKM BRI Tembus 16,46 Juta Pengguna

Berdasarkan unggahan Instagram BRI pada 29 April 2026 yang dikutip pada 13 Juni 2026, BRI terus memperkuat komitmennya dalam mendorong perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia melalui berbagai program pemberdayaan, salah satunya LinkUMKM.

Hingga April 2026, tercatat sebanyak 16,4 juta pelaku UMKM telah memanfaatkan platform LinkUMKM BRI untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan usaha mereka.

LinkUMKM menyediakan beragam fasilitas pendukung, mulai dari UMKM Smart, Self Assessment, lebih dari 690 modul pelatihan, komunitas usaha, etalase digital, hingga layanan pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB) yang terintegrasi.

Berbagai fitur tersebut dirancang untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas bisnis, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta memperkuat daya saing di pasar.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |