Dari Jakarta ke Jogja, Penjual Dawet Ini Bertahan Jalankan Usaha Selama 15 Tahun

16 hours ago 9

Liputan6.com, Yogyakarta - Menyusuri Malioboro dan Pasar Beringharjo di akhir pekan, tempat favorit di Yogyakarta ini selalu ramai dengan wisatawan. Penjual makanan dan minuman pun ada beragam, mulai dari soto, sate hingga es dawet.

Ditemui saat sedang menjaga lapak jualanannya pada Minggu (21/6/2026), Utami (45) salah satu penjual es dawet di Malioboro berbagi cerita tentang perjalanan usahannya yang sudah dirintis sejak 15 tahun tepatnya sekitar tahun 2010.

"Udah lama neng, ada lah sejak 15 tahun," kata Utami sambil membuat es teh untuk pembeli.

Utami berjualan di Malioboro dari pukul 09.00 hingga 16.00. Setelah jam tersebut karena harus bergantian dengan penjual gudeg, sang suami yang berjualan keliling di sekitar Jalan Malioboro hingga titik 0 kilometer sampai pukul 18.30.

Mengawali Usaha di Jakarta

Dari Banjarnegara hingga merantau ke beberapa kota, Utami konsisten berjualan es dawet yang merupakan racikannya sendiri. Sebelum merantau ke Yogyakarta pada tahun 2017, Utami pernah berjualan es dawet di Jakarta.

"Di Malioboro dari sebelum covid, tahun 2018. Dulu sempat di Jakarta jualan dawet juga," kata Utami.

Ketika berada di Jakarta, Utami bersama sang suami menjalankan usaha di wilayah Tangerang. Ia cukup lama menetap dan berjualan di ibu kota, yakni sekitar 13 tahun. Sejak awal menikah, Utami langsung memutuskan untuk merantau ke Jakarta bersama suaminya.

"Ada 13 tahunan. Dari awal saya nikah sama suami langsung ke Jakarta, di daerah Tangerang Ciledug," cerita Utami.

Alasan Utami dan suami memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta adalah agar lebih dekat ketika harus pulang kampung. Ketika di Jakarta ia harus menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam ketika ingin pulang kampung, sementara dari Jogja waktu tempuhnya cukup singkat yaitu sekitar 3 jam perjalanan.

"Pengen lebih deket kalau pulang ke Banjarnegara," kata Utami sembari tersenyum.

Keinginan sang anak untuk melanjutkan pendidikan di Kota Pelajar, Yogyakarta, menjadi salah satu alasan Utami bersama keluarga memutuskan untuk pindah. Setelah menetap di Yogyakarta, Utami tinggal di kawasan Bantul.

"Anak pengen sekolah disini. Pengennya merantau ke yang lebih dekat," tambahnya.

Sembari menawarkan pengunjung yang melewati gerobaknya untuk istirahat sejenak sambil menikmati es dawetnya, Utami melanjutkkan ceritanya. Konsisten berjualan es dawet dengan sang suami, modal awal Utami menjalani usaha tersebut adalah sekitar Rp 3 juta. Perkiraan tersebut sudah termasuk gerobak hingga perlengkapan yang dibutuhkan untuk berjualan dawet.

"Kalau sama gerobak, semuanya, sama perabotan sekitar Rp 3 jutaan," jelas Utami saat ditanya modal awal berbisnis dawet.

Pelaku usaha makanan dan minuman tentu sering menghadapi kondisi pemasukan yang naik turun, termasuk Utami. Memulai usaha es dawet dengan modal sekitar Rp3 juta, kini Es Dawet Bu Utami mampu meraih omzet kurang lebih Rp 3 juta dalam sebulan.

"Omzetnya rata-rata, namanya jualannya ya mbak, dan ini kan pedagang kecil ya. Paling dihitungnya kayak UMR Jogja aja lah," kata Utami sembari menghitung kasar pemasukan sebulannya.

Kenaikan Harga Bahan Pokok Memengaruhi Harga Es Dawet

Berjualan es dawet selama 15 tahun membuat Utami merasakan berbagai perubahan harga bahan pokok yang turut memengaruhi biaya produksi. Tidak hanya bahan utama pembuatan es dawet, harga perlengkapan pendukung seperti gelas plastik yang digunakan untuk berjualan juga mengalami perubahan.

"Tadinya cup sama tutup yang ukuran 14 oz Rp 10.000 sudah satu, sekarang Rp 20.000," kata Utami.

Untuk perubahan harga, Utami menyesuaikannya dengan kondisi pasar dan jumlah permintaan. Saat penjualan sedang sepi, ia memilih mempertahankan harga agar tetap terjangkau bagi pembeli. Sementara ketika pembeli mulai ramai, harga es dawet dapat disesuaikan.

"Namanya jualan, kadang kalau lagi liburan kayak gini sih orang mau aja dinaikin, kayak tamu-tamu wisata. Kalau lagi sepi gak ada acara, tetep aja pake harga lama Rp5.000 daripada gak laku," kata Utami.

Selama 15 tahun berjualan, Utami telah mengalami berbagai perubahan harga bahan maupun harga jual es dawet. Es dawetnya pernah dijual dengan harga Rp1.500 per cup, kini harganya telah mencapai sekitar Rp6.000 per cup. Selain kenaikan harga plastik, Utami juga merasakan peningkatan harga bahan utama lainnya seperti gula merah dan kelapa.

"Gula merah sama kelapa, semuanya sih, sembako kan juga naik," kata Utami sembari menawarkan es dawetnya kepala wisatawan Malioboro yang melewati gerobak jualannya.

Penerapan QRIS BRI Sejak 2025

Es Dawet Bu Utami sudah menerapkan pembayaran digital dengan QRIS dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak tahun 2025. Awalnya ditawarkan, kini adanya QRIS tersebut memudahkan pembayaran bagi pembeli yang tidak membawa uang tunai, khususnya anak muda.

"Sekarang seimbang sih. Anak-anak muda sekarang pada pakai semua. Sekarang juga kalau yang udah tau QRIS, ibu-ibu juga pada pakai," kata Utami.

Sebelum mendapatkan tawaran, Utami sebenarnya sudah memiliki rencana untuk memasang QRIS. Ketika kemudian ada pihak yang menawarkan layanan tersebut, ia pun langsung menerima karena pembuatannya cukup mudah tanpa harus langsung datang ke bank.

"Iya sih udah ada rencana ya, terus kebetulan ada yang menawarkan, kita ga usah ke bank," jelas Utami.

Setahun memasang QRIS di lapak jualannya, Utami mengungkapkan tidak ada kendala dan sejauh ini aman. Jika ada pembeli melakukan pembayaran dengan QRIS, Utami biasanya tidak langsung mengecek dan percaya dengan pelanggan.

"Masalah saya kan gaptek, kadang-kadang kalau mau ngecek yang per transaksi gak ngerti ya, mereka (pembeli) cepat kayak gitu. Kadang biarin aja gitu. Gak sih ada sih (tidak ada kendala), aman," jelas Utami.

Kesan Pembeli Menikmati Es Dawet Bu Utami

Fifi (29), salah satu pembeli Es Dawet Bu Utami, sedang berlibur ke Jogja bersama temannya. Saat itu, ia menyempatkan diri menyantap soto sekaligus membeli es dawet Bu Utami. Lokasi penjual soto dan Es Dawet Bu Utami yang berdekatan membuat pembeli dapat menikmati keduanya.

"Iya sedang liburan ke Jogja sejak dua hari yang lalu," kata Fifi.

Saat membayar es dawet, Fifi melakukan transaksi secara tunai. Ia mengungkapkan bahwa dirinya lebih sering menggunakan uang tunai ketika berbelanja di pedagang kaki lima, terutama jika sudah menyiapkan uang dengan nominal yang pas.

"Lebih suka bayar tunai kalau beli di kaki lima, terutama kalau uangnya. Jadi lebih mudah saat transaksi," ujar Fifi.

Registrasi BRImo Kini Tersedia di 15 Negara

Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun Instagram BRI pada 6 Juni 2026, layanan registrasi BRImo kini dapat dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang berada di 15 negara.

Fasilitas pendaftaran ini hadir untuk memudahkan WNI di luar negeri dalam mengakses layanan perbankan digital, baik dari Indonesia maupun negara lain seperti Hong Kong, Jepang, Arab Saudi, Korea Selatan, Kuwait, Malaysia, Singapura, Taiwan, Uni Emirat Arab, Jerman, Amerika Serikat, Timor Leste, Brunei Darussalam, hingga Australia.

Untuk mendaftar BRImo, pengguna cukup menyiapkan beberapa dokumen dan data pendukung, seperti nomor handphone dengan kode negara yang sesuai, alamat email aktif, e-KTP, serta mengikuti proses verifikasi wajah.

Kehadiran layanan ini membuat masyarakat Indonesia di berbagai negara dapat melakukan registrasi BRImo dengan proses yang lebih praktis, mudah, dan dapat dilakukan tanpa batasan lokasi.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |