Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi turun tangan mengawal penanganan kasus anak yang membunuh ibu kandungnya di Medan. Kasus ini akan dikawal dengan mengedepankan prinsip kepentingan terbaik bagi anak serta memastikan seluruh hak anak terpenuhi.
"Kami menghormati proses penyidikan yang masih berlangsung oleh Polrestabes Medan yang menerapkan prinsip kepentingan terbaik bagi anak dan anak saksi. Apresiasi juga kepada para pihak lainnya yang berwenang, yang telah berupaya melaksanakan amanat Pasal 18 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA)," kata Menteri PPPA, Arifah Fauzi saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (2/1/2026). Dilansir Antara.
Arifah Fauzi menyampaikan bela sungkawa dan rasa prihatin yang mendalam atas peristiwa tragis tersebut.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas peristiwa tragis ini," katanya.
Menteri PPPA menegaskan kasus ini akan dikawal sampai tuntas. Karena kepentingan terbaik bagi anak menjadi prioritas utama. Anak saat ini berada di rumah aman agar hak-hak anak lainnya tetap dipenuhi, terutama hak atas pendidikan.
Selain itu, sesuai dengan Pasal 19 UU SPPA terkait identitas anak, Menteri PPPA mengimbau semua pihak yang terlibat dalam penanganan kasus ini wajib menjamin kerahasiaan identitas anak dalam pemberitaan. Baik di media cetak maupun elektronik.
"Kapolrestabes Medan juga memastikan pendampingan akan terus diberikan kepada anak saksi yang merupakan kakak kandung dari anak. Selama proses penanganan berlangsung, anak telah mendapatkan pendampingan psikologis dan pendampingan tersebut akan berlanjut hingga dan setelah putusan pengadilan," ujar Menteri Arifatul Choiri Fauzi.
Polrestabes Medan menetapkan A (12), putri kandung korban Faizah Soraya (42), sebagai anak berkonflik hukum dalam kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Kecamatan Medan Sunggal. Hasil penyelidikan mengungkap motif kuat berupa tekanan psikologis dan trauma berkepanjangan akibat sering menyaksikan ...
Motif Pembunuhan
Diberitakan sebelumnya, seorang anak yang duduk dibangku kelas VI SD (12) membunuh ibunya, F (42), di Kota Medan, Sumatra Utara, saat korban sedang tidur pada Rabu (10/12) subuh.
Menurut Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, hasil penyelidikan mengungkap fakta justru keluarga itu jauh dari kesan harmonis. Tak hanya itu, hasil autopsi menunjukkan ada 20 luka tusukan pisau di tubuh korban.
Berdasarkan keterangan saksi dan tersangka, motif di balik tindakan ini diduga kuat adalah tekanan psikologis yang terakumulasi selama tiga tahun terakhir. Anak ini sering menyaksikan kekerasan domestik di dalam rumahnya.
"Tersangka melihat kakaknya sering dipukuli menggunakan ikat pinggang hingga memar membiru. Ia juga berkali-kali melihat korban memarahi dirinya, kakaknya, bahkan bapaknya," ungkap Kombes Pol Jean Calvijn dalam konferensi pers, Senin (29/12/2025).
Kondisi keluarga tersebut diketahui retak di dalam. Meski tinggal satu atap, suami-istri tersebut sudah tidak harmonis, bahkan tinggal di lantai yang berbeda. Konflik yang memuncak pada malam sebelum kejadian menjadi pemantik akhir bagi anak yang baru berusia 12 tahun 37 hari tersebut.
Fakta Psikologi Mengejutkan
Kasus anak bunuh ibu kandung ini mengejutkan publik, mengingat usia pelaku masih sangat belia. Namun, di balik sosoknya yang masih anak-anak, tersimpan fakta psikologis yang mencengangkan.
Dalam konferensi pers yang digelar Senin (29/12/2025), psikolog profesional Irna Minauli mengungkapkan hasil pemeriksaan terhadap anak yang dilakukan sebanyak empat kali pertemuan. Hasilnya, anak ini diketahui memiliki tingkat kecerdasan yang superior.
"Anak ini sangat cerdas. Ia mampu mempelajari musik dan seni secara otodidak. Prestasinya selama ini juga sangat membanggakan," ujar Irna Minauli, Direktur Minauli Consulting.
Meski melakukan tindakan ekstrem, pemeriksaan psikologis menunjukkan bahwa anak ini tidak menderita gangguan mental seperti skizofrenia atau depresi.
Tidak ditemukan adanya tanda-tanda halusinasi, delusi, maupun perilaku aneh yang biasanya menyertai kasus matricide (pembunuhan ibu kandung).
Sebaliknya, Irna menjelaskan beberapa faktor krusial yang diduga menjadi pemicu ledakan emosi pelaku, seperti agresivitas tinggi, memiliki kecenderungan emosi yang meluap-luap dan tidak terkendali.
Kemudian empati rendah, rasa empati yang belum berkembang sempurna, ditambah kurangnya interaksi sosial. Lalu, bom waktu emosional, pelaku cenderung memendam amarah dalam waktu lama hingga akhirnya meledak menjadi tindakan fatal.
Juga pengaruh eksternal, diduga adanya akumulasi pengalaman kekerasan yang pernah dialami atau disaksikan, termasuk pengaruh dari konten tontonan.
Ironisnya, meski memiliki kecerdasan di atas rata-rata, A disebut tidak memahami konsekuensi hukum maupun moral dari perbuatannya. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan antara kemampuan intelektual dengan kematangan emosionalnya.
"Secara kognitif ia sangat cerdas, namun ia tidak memahami konsekuensi dari perbuatannya itu. Karena itu, saat proses pengadilan nanti, ia sangat memerlukan pendampingan khusus," pungkas Irna.
Kini, kasus Anak Bermasalah dengan Hukum (ABH) ini menjadi perhatian serius otoritas setempat, mengingat pelaku masih di bawah umur namun terlibat dalam tindak pidana berat.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461330/original/076904400_1767371828-1000888152.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461323/original/055925700_1767369827-bupati_sumedang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461318/original/026691200_1767368610-longsor_sumedang_polisi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461294/original/063942600_1767360684-WhatsApp_Image_2026-01-02_at_08.23.23.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461035/original/040167900_1767335714-37063.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456424/original/074983900_1766885583-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456795/original/022198900_1766975772-Kebakaran_Panti_Jompo_Werdha_Damai_di_Manado.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460737/original/030652300_1767277787-1001456501.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460689/original/019088300_1767265318-Juara_dua_Dangdut_Academy_7_Indosiar__Achmad_Valen_Akbar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460410/original/000442000_1767249569-Bos_travel_di_Lampung_diduga_tipu_calon_jemaah_umrah.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459991/original/084010300_1767188730-IMG_20251231_173341__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459559/original/074639600_1767164765-Unima.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460092/original/037449100_1767226623-1000026062__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459904/original/080957600_1767179310-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1855859/original/075773100_1517486603-20180201-Cuaca-Ekstrem-IA2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459839/original/083943300_1767176044-WhatsApp_Image_2025-12-31_at_17.15.43__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4723723/original/038352000_1705983003-gantunmg_diri.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459625/original/016100800_1767167163-1000880638.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363858/original/020456500_1758978429-00004XTR_01383_BURST20250927170746.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365227/original/069533300_1759147359-WhatsApp_Image_2025-09-29_at_18.52.10.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362984/original/084412600_1758878600-IMG_20250926_133459.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5184183/original/032285800_1744269683-20250410-IHSG-AFP_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5349019/original/049891800_1757909694-honda-recalls-2025-acura-rdx-for-potential-loss-of-power-steering-assist_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332473/original/046533800_1756490902-fecfb13e-42fd-4fcf-a943-f5ff91d8e60e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5341644/original/016655100_1757318935-AHM_01__3_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1503744/original/055901900_1486724745-20170210--IHSG-Ditutup-Stagnan--Bursa-Efek-Indonesia-Jakarta--Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3417790/original/054559700_1617321679-lo-lo-CeVj8lPBJSc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5344823/original/006060200_1757494390-IMG-20250910-WA0014.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5345440/original/062952500_1757563718-Mercedes-Benz-EQS-solid-state-battery-prototype-012-6-1260x709.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3356525/original/071853900_1611299590-20210122-IHSG-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1817919/original/067515000_1514865746-20180102-IHSG-FF5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364295/original/033013800_1759056277-IMG-20250927-WA0064.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377989/original/083133800_1760174471-Mobil_Sultan_HB_X_berhenti_di_lampu_merah_tanpa_pengawalan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5345819/original/015782700_1757574238-IMG-20250911-WA0018.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366029/original/021275400_1759214006-Daihatsu-Copen-Variants_edit_129823537549460.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5349646/original/086551500_1757925976-20250915_152748.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368063/original/066099000_1759334436-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)