Membaca Arah Gagasan Gus Rozin untuk PBNU

9 hours ago 8

Liputan6.com, Jombang - Pesantren menjadi salah satu fokus utama yang ditawarkan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gagasan itu berangkat dari pandangan bahwa pesantren bukan sekadar bagian dari ekosistem pendidikan Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi salah satu akar utama yang menopang keberlangsungan organisasi dan tradisi keilmuan NU.

Bagi Gus Rozin, pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan kaderisasi ulama, pembentukan karakter santri, sekaligus pewarisan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah. Karena itu, penguatan pesantren dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun masa depan NU.

"Pesantren adalah jantung Nahdlatul Ulama. Dari sanalah ulama dilahirkan, kader ditempa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah diwariskan," kata Gus Rozin, yang juga Ketua PWNU Jawa Tengah, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, perhatian terhadap pesantren tidak cukup berhenti pada pembangunan sarana dan prasarana. Pesantren membutuhkan dukungan yang lebih menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola kelembagaan, pengembangan pendidikan, pemanfaatan teknologi hingga penguatan ekonomi pesantren.

"Pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan karakter dan tradisi keilmuannya. Karena itu, penguatan pesantren harus dilakukan secara menyeluruh," ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan panjang Gus Rozin dalam dunia kepesantrenan. Pengasuh Pesantren Maslakul Huda-Kajen, Pati, Jawa Tengah, itu telah menjalani berbagai peran dalam penguatan pesantren dan pendidikan NU jauh sebelum mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.

Rekam Jejak Panjang di Dunia Pesantren

Gus Rozin pernah dipercaya sebagai Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Tengah periode 2013-2015. Setelah itu, ia dipercaya memimpin RMI PBNU pada periode 2015-2021.

Sebelum memimpin RMI, Gus Rozin juga pernah menjadi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010-2013. Pengalaman tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan pendidikan yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Selama berkhidmah di RMI, sejumlah agenda penguatan pesantren dan santri turut menjadi bagian dari kiprahnya. Di antaranya pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren pada 2014-2019, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional dan Apel Akbar Santri Nusantara.

Selain itu, terdapat pula Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren yang diarahkan untuk mendorong peningkatan kualitas lingkungan dan tata kelola kehidupan pesantren.

Pengabdian Gus Rozin di bidang kepesantrenan juga mencakup program-program yang menyentuh kehidupan santri dan masyarakat. Beberapa di antaranya Satkor Covid RMI PBNU, Kado Lebaran untuk Guru Ngaji, Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia hingga program beasiswa LPDP untuk santri.

"Penguatan pesantren bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu periode. Ini merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan, kolaborasi dan komitmen bersama," kata Gus Rozin.

Komitmen tersebut kemudian berlanjut melalui berbagai peran yang dijalaninya, termasuk sebagai Ketua Majelis Masyayikh. Posisi itu memperluas keterlibatannya dalam persoalan mutu, tata kelola dan pengembangan pendidikan pesantren.

Paling mutakhir, PWNU Jawa Tengah juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membuka Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren 2026 bagi santri asal Jawa Tengah.

Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pesantren bukan isu yang baru muncul dalam agenda Gus Rozin menjelang Muktamar ke-35 NU. Pesantren telah menjadi bagian dari perjalanan khidmahnya selama bertahun-tahun, baik melalui RMI, pendidikan NU, maupun Majelis Masyayikh.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |