Belajar dari Gejolak Bursa Saham di Korea Selatan

18 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Korea Selatan menjadi perhatian pada 2026. Ketidakstabilan dan fluktuasi pasar yang tajam membuat langkah di bursa saham tidak selalu membuahkan hasil karena harga saham sering kali bergerak merespons setiap berita utama yang signifikan.

Ketidakstabilan itu paling terasa pada indeks acuan Kospi. Indeks saham di Korea Selatan ini didominasi sektor teknologi. Indeks acuan itu secara luas dianggap sebagai indeks saham paling fluktuatif di dunia.

Mengutip BBC, Minggu, (23/8/2026), euforia global seputar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah memicu fluktuasi ekstrem pada nilai saham perusahaan pembuat cip terbesar di Korea Selatan.

Indeks Kospi mengalami koreksi paling tajam pada Juni-Agustus 2026. Wee Khoong Chong dari perusahaan jasa keuangan BNY menuturkan, penurunan yang terjadi di indeks Kospi setara dengan masa pandemi COVID-19 dan krisis keuangan Asia pada 1997.

Nilai indeks itu sempat melonjak lebih dari dua kali lipat sejak awal tahun hingga melampaui 9.000 poin pada pertengahan Juni, sebelum akhirnya anjlok ke level 5.500 dalam hitungan minggu.

"Salah satu penyebab utama aksi jual dalam beberapa pekan terakhir adalah kekhawatiran mengenai besarnya dana yang digelontorkan untuk pengembangan AI,” Chong menambahkan.

Penurunan tajam ini berdampak besar bagi banyak investor individu di Korea Selatan yang telah membeli saham teknologi selama setahun terakhir.

Salah satunya yang dialami Yongjoon Kim. Pegawai bank ini kehilangan 20 juta won Korea Selatan atau US$ 14.000 di bursa saham Korea Selatan. Nilai itu setara Rp 247,05 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.650).

Cerita Investor di Korea Selatan

Uang itu akan dipakai untuk membantu membeli rumah. Mengingat ia akan melangsungkan pernikahan sekitar akhir 2026. Namun, nilai investasi sektor teknologi justru merosot sekitar 25% pada Juli.

"Ini sangat menyakitkan dan saya harus bekerja sangat keras untuk memulihkan kerugian ini,” ujar Kim.

"Namun, bagi mereka yang mengambil risiko lebih besar, dampaknya akan jauh lebih berat,” ujar dia.

Ia menceritakan, banyak temannya mengalami nasib lebih buruk dan kini berada dalam situasi “putus asa” setelah mempertaruhkan seluruh tabungan.

Banyak investor meski berbondong-bondong membeli saham teknologi, fluktuasi pasar tajam yang membuat hal itu tidak selalu membuahkan hasil.

Bagi Woongsa Kim, melihat aplikasi perdagangan saham menjadi pengingat yang menyakitkan akan keuntungan yang sempat ia raih. Akan tetapi, hal itu kemudian hilang akibat investasi di pasar saham Korea Selatan. Pada awal tahun, ia memakai sekitar separuh dari bonus kerja untuk membeli saham perusahaan teknologi raksasa SK Hynix.

Nilai saham itu sempat melonjak hingga empat kali lipat sebelum sebagian besar keuntungan itu lenyap. Akibatnya, nilai investasi kini tinggal sekitar 300 juta won, atau kira-kira separuh dari nilai puncaknya.

“Memikirkannya saja membuat saya ingin menangis,” ujar Kim kepada BBC.

Aksi Jual

Analis Investasi Tobias Roger menuturkan, aksi jual besar-besaran ini terjadi setelah saham-saham teknologi melonjak selama berbulan-bulan yang menciptakan euforia luar biasa hingga mendorong sebagian investor individu untuk mengambil pinjaman demi investasi.

Dampaknya paling parah dirasakan oleh mereka yang menggunakan leverage, sebuah metode penggunaan dana pinjaman dalam pasar keuangan.

Leverage memungkinkan investor mengendalikan jumlah saham yang lebih besar daripada yang sebenarnya mampu mereka beli dengan uang tunai sendiri sehingga menghasilkan keuntungan lebih besar jika harga saham naik.

Namun, jika harga saham turun melampaui batas yang disepakati, hal itu dapat memicu apa yang disebuat sebagai margin call, situasi ketika broker menuntut pelunasan utang.

Hingga akhir Juli, diperkirkaan 1,2 juta akun investor individu di Korea Selatan telah menghadapi margin call. Jumlah ini setara dengan sekitar satu dari setiap 30 orang dewasa usia kerja di Korea Selatan.

Head of Asia Equity Strategy di Financial Services Group Societe Generale, Franks Benzimra menuturkan, perdagangan dengan leverage merupakan tren yang kian berkembang di kalangan investor perorangan dan juga marak di pasar seperti Taiwan dan Amerika Serikat (AS).

“Hal ini meningkatkan risiko terkait saham-saham yang berhubungan dengan kecerdasan buatan (AI),” ia menambahkan.

Penurunan yang Sangat Menyakitkan

Chanyong Park yang bekerja di bidang pemasaran investasikan sebagian besar keuntungan it uke saham SK Hynix setelah saham Nvidia miliknya yang terdaftar di bursa saham Amerika Serikat (AS) melonjak lebih dari 1.000%. Namun, langkah itu berujung buruk karena nilai saham turun sekitar US$ 10.000 atau Rp 176,47 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.650).

“Ini adalah uang yang saya investasikan sebagai tabungan sebelum berencana keluar dari pekerjaan sekitar Oktober untuk memulai bisnis sendiri. Namun, kini saya benar-benar ragu apakah dananya akan cukup,” ujar dia.

Park berencana untuk tetap mempertahankan saham SK Hynix miliknya dengan harapan harga akan kembali naik, meskipun fluktuasi belakangan ini membuatnya ragu untuk menambah investasi. "Pergerakan pasar tidak selalu terasa didorong oleh alasan rasional terkadang hal itu lebih terasa seperti perjudian," ujarnya.

Investor lain, Youngji Park mengambil langkah "all-in" dengan menginvestasikan sebagian besar dana tunainya ke saham Samsung, yang sempat mencapai nilai total 45 juta won Korea Selatan atau Rp 572,44 juta (asumsi won Korea Selatan terhadap rupiah 12,72).

Namun, Park menuturkan, investasinya kini mengalami penurunan drastis yang sangat memukul perasaannya.

Ia pun berencana untuk tetap mempertahankan sahamnya dengan harapan nilainya akan kembali naik.

"Saya merasa bodoh karena memercayai pasar saham Korea," ujarnya.

"Sekarang ini menjadi permainan jangka panjang. Saya hanya perlu bersabar menunggu,” ia menambahkan.

Seorang mahasiswa bernama Soomin Yi mengatakan, ia mengumpulkan uang bersama seorang teman untuk berinvestasi di SK Hynix setelah merasa terkena sindrom "FOMO" (fear of missing out atau takut ketinggalan tren).

Namun, kini ia menyesal tidak menjual saham perusahaan tersebut saat harganya mencapai puncak tiga juta won per lembar pada bulan Juni, alih-alih termakan spekulasi bahwa harganya akan naik hingga lima juta won atau Rp 63,60 juta.

"Tidak ada orang di sekitar kami yang berpengalaman dalam investasi, dan kami tidak mempelajari investasi secara serius sebelum membeli saham tersebut," kata Yi.

Apa Dampaknya bagi Dunia?

Fluktuasi besar pada pasar saham Korea Selatan juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi pasar lain di seluruh dunia.

“Pasar yang didominasi sektor teknologi Indeks seperti Nikkei 225 Jepang tampaknya bergerak selaras dengan fluktuasi tajam Kospi,” ujar Benzimra dari Societe Generale.

Namun, ia menilai, sebagian besar pasar saham dunia kemungkinan tidak akan mengalami pergerakan ekstrem seperti itu karena mencakup komposisi perusahaan yang lebih beragam.

"Menurut saya, kita tidak akan melihat tingkat volatilitas yang sama di pasar besar yang terdiversifikasi seperti Indeks saham di Tokyo dan pasar saham AS," kata Benzimra.

Para pelaku pasar yang mendiversifikasi portofolio mereka mengatakan langkah tersebut telah membantu meredam dampak dari anjloknya pasar saham.

"Saya rasa peristiwa ini merupakan peringatan bagi investor Korea, khususnya investor muda, untuk tidak menaruh semua aset dalam satu keranjang dan sekadar berharap yang terbaik," ujar Yongjoon Kim, yang juga memiliki saham di pasar luar negeri.

Ia menambahkan, seharusnya mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dalam berinvestasi di saham teknologi.

Tunangannya, Gaeon Lee, optimistis bahwa pasar akan pulih meskipun mereka kehilangan sebagian tabungan yang telah disisihkan untuk rumah baru.

Namun, ia mengkhawatirkan kondisi Kim, seraya mengatakan bahwa keharusan untuk terus memantau investasi mereka telah membebani pikiran Kim.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |