BEI Bidik 1.100 Perusahaan Melantai di Bursa, Kepercayaan Asing Digenjot

6 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan peningkatan likuiditas pasar modal tidak bisa hanya bergantung pada investor ritel domestik. Karena itu, BEI kini memprioritaskan reformasi pasar untuk mengembalikan kepercayaan investor global agar kembali berinvestasi di Indonesia.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, pasar modal yang sehat membutuhkan keseimbangan antara investor asing, investor institusi domestik, dan investor ritel. Dia menuturkan, beban penyerapan likuiditas tidak dapat sepenuhnya ditanggung oleh investor ritel.

"Penyerapannya tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada retail investor kita. Ya oleh karena itu reformasi yang kita lakukan saat ini adalah untuk menumbuhkan kembali confidence dari investor global untuk kembali masuk ke Indonesia," kata Jeffrey usai Konferensi Pers RUPST BEI, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, masuknya kembali investor asing akan menciptakan dinamika pasar yang lebih sehat apabila berjalan beriringan dengan investor institusi domestik dan investor ritel.

"Itu yang harus kita lakukan sehingga nanti investor asing bersama-sama dengan investor institusi domestik kita dan didukung oleh investor retail kita akan sama-sama menimbulkan dinamika yang sehat di pasar kita," ujarnya.

Jeffrey menambahkan, salah satu upaya yang terus dilakukan adalah menjaga komunikasi secara rutin dengan penyedia indeks global, seperti MSCI dan FTSE Russell.

Dia menuturkan, dalam evaluasi terakhir, MSCI memberikan apresiasi terhadap berbagai reformasi yang telah dilakukan Indonesia. Namun, lembaga tersebut masih menunggu konsistensi implementasi kebijakan.

"Kalau diskusi dengan MSCI maupun FTSE itu rutin kita lakukan. Kalau kita membahas pengumuman MSCI terakhir adalah yang ditunggu adalah konsistensi. Dari apa yang sudah dilakukan MSCI sudah memberikan apresiasi bahwa kebijakan itu sudah in the right direction. Yang ditunggu adalah konsistensi. Itu yang akan terus kita lakukan," jelasnya.

Bentuk Konsistensi BEI

Ia menegaskan, konsistensi tersebut akan diwujudkan melalui penyampaian data yang semakin transparan kepada publik, pengawasan terhadap pemenuhan ketentuan free float, hingga screening terhadap saham-saham yang kepemilikan pemegang sahamnya masih terkonsentrasi. Selain fokus pada peningkatan kualitas pasar, BEI juga memasang target ambisius untuk menambah jumlah perusahaan tercatat.

Jeffrey mengungkapkan, BEI menargetkan lebih dari 1.100 perusahaan tercatat pada 2030. Ia berharap target tersebut dapat dicapai dengan kehadiran perusahaan-perusahaan dari seluruh sektor industri sehingga pasar modal Indonesia menjadi semakin dalam, likuid, dan kompetitif di tingkat global.

"Target IPO tadi kami sampaikan di atas 1.100 perusahaan di tahun 2030. Ya nanti kami akan sampaikan breakdownnya tahun ke tahun. Tapi untuk hari ini yang kami sampaikan adalah targetnya di atas 1.100 perusahaan tercatat. Tentu kita harapkan dari semua sektor dan semua bisnis usaha," pungkasnya.

MSCI Pertahankan Status Indonesia, OJK: Bukti Kepercayaan Investor

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif keputusan MSCI yang kembali mempertahankan status Indonesia dalam kategori Emerging Markets pada MSCI 2026 Market Classification Review yang diumumkan pada Rabu (24/6/2026).

Keputusan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa investor global masih menaruh kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia, stabilitas sektor jasa keuangan, serta berbagai reformasi yang terus dilakukan di pasar modal domestik.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan pengakuan dari MSCI menjadi bukti bahwa langkah-langkah yang ditempuh regulator dan pelaku pasar berada di jalur yang tepat.

“Kami juga mencatat pengakuan MSCI atas berbagai langkah reformasi integritas pasar modal yang telah dilakukan. Adapun sejumlah area yang masih menjadi perhatian merupakan bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan akan terus kami tindak lanjuti bersama seluruh pemangku kepentingan,” kata Friderica di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Sebelumnya, pada Kamis (19/6/2026), MSCI telah merilis Global Market Accessibility Review 2026. Dalam laporan tersebut, tingkat aksesibilitas pasar modal Indonesia dinilai sebagai salah satu yang terbaik di antara negara-negara Emerging Markets di kawasan Asia Pasifik.

Penilaian itu menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia dinilai semakin mudah diakses oleh investor global, sekaligus mencerminkan upaya berkelanjutan regulator dalam meningkatkan transparansi dan daya saing pasar keuangan nasional.

OJK menilai capaian ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan pasar modal global yang semakin ketat.

Jadi Fondasi Penting

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan hasil penilaian MSCI menjadi pengakuan atas reformasi pasar modal yang dijalankan OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) dan seluruh pemangku kepentingan sejak awal 2026.

“Pengakuan terhadap capaian reformasi pasar modal ini tentu kita sambut positif. MSCI tidak hanya mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Markets, tetapi juga memberikan pengakuan bahwa berbagai langkah reformasi yang telah dan sedang kita jalankan berada pada arah yang tepat. Hal tersebut tercermin dari hasil penilaian market accessibility Indonesia yang terjaga baik,” kata Hasan.

Menurut dia, pengakuan tersebut menjadi fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan pasar modal yang lebih sehat dengan tata kelola, transparansi, dan integritas yang semakin kuat.

Meski demikian, Hasan mengakui masih terdapat sejumlah ruang perbaikan yang perlu ditindaklanjuti. OJK berkomitmen untuk terus memperkuat komunikasi dan keterlibatan dengan penyedia indeks global, investor internasional, serta berbagai pihak terkait.

“Tentu kami melihat masih terdapat ruang perbaikan dan berbagai masukan yang perlu dicermati secara konstruktif. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk terus memperkuat engagement dengan global index providers, investor global, serta seluruh stakeholders terkait guna semakin meningkatkan kredibilitas, integritas, dan investability pasar modal Indonesia ke depan,” ujarnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |