Jejak Perlawanan Warga Pati, Dari Supriyono Botok hingga Samin Surosentiko

9 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Gerakan warga Kabupaten Pati Jawa Tengah kembali menorehkan sejarah, ketika Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di bawah kepemimpinan Supriyono Botok dan Teguh Istiyanto, membawa aspirasi masyarakat Pati ke Gedung DPR di Jakarta.

Gerakan ini menjadi bagian dari perjalanan panjang perlawanan warga Pati, dalam menyuarakan kepentingan rakyat kepada pemerintah dan lembaga negara.

Aksi AMPB di Jakarta tidak berdiri sendiri. Gerakan tersebut memiliki latar belakang panjang. Mulai dari gelombang protes terhadap pemerintahan Bupati Pati Sudewo, yang saat ini telah mendekam di penjara tersandung dugaan korupsi.

Sejarah perlawanan masyarakat di wilayah Bumi Mina Tani terhadap bentuk penindasan memang cukup panjang. Mulai dari Pegunungan Kendeng, aksi cor semen di depan Istana Negara, hingga tradisi perlawanan Samin Surosentiko pada masa kolonial dan pada zaman kerajaan.

Di bawah kepemimpinan Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto, AMPB menjadi salah satu wadah gerakan masyarakat Pati yang membawa persoalan daerah ke tingkat nasional.

Gedung DPR menjadi salah satu tujuan penting. Karena lembaga tersebut merupakan tempat masyarakat menyampaikan aspirasi politik kepada wakil rakyat.

Bagi AMPB, membawa persoalan Pati ke Jakarta merupakan upaya agar tuntutan warga tidak berhenti di tingkat kabupaten. Aspirasi tersebut ingin disampaikan langsung kepada lembaga negara dan wakil rakyat di tingkat pusat.

Gerakan ini juga menjadi kelanjutan dari rangkaian aksi warga Pati, yang sebelumnya berlangsung di daerah. Gerakan AMPB menguat, setelah muncul gelombang protes terhadap Bupati Pati Sudewo pada tahun 2025.

Salah satu pemicunya adalah kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang sempat mencapai 250 persen. Kenaikan tersebut memicu kemarahan masyarakat Pati.

Meskipun kemudian dibatalkan, namun tuntutan warga berkembang menjadi desakan agar Sudewo mundur sebagai Bupati Pati.

Pada 13 Agustus 2025, gelombang massa besar bergerak ke kawasan Alun-Alun dan Pendopo Kabupaten Pati. Tuntutan utama yang dibawa massa adalah: “Turunkan Bupati Sudewo.”

Aksi tersebut kemudian menjadi salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah politik kontemporer Pati.

Dari Pati Menuju Jakarta

Ketika tuntutan warga berkembang, perjuangan tidak berhenti di Kabupaten Pati. AMPB membawa aspirasi tersebut ke tingkat nasional.

Jakarta menjadi tujuan berikutnya. Karena di sanalah terdapat lembaga-lembaga negara, yang memiliki kewenangan dan pengaruh terhadap kebijakan nasional.

Kehadiran AMPB di Gedung DPR, menjadi simbol bahwa persoalan Pati ingin didengar langsung oleh wakil rakyat di tingkat pusat. Gerakan tersebut menunjukkan perubahan pola perjuangan masyarakat Pati, dari aksi di jalanan kabupaten menuju ruang politik nasional.

Jika ditarik lebih jauh, gerakan AMPB bukanlah awal dari sejarah perlawanan masyarakat Pati. Jauh sebelum munculnya AMPB, masyarakat di kawasan Pati dan Pegunungan Kendeng telah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi kekuasaan.

Salah satu tokohnya adalah Samin Surosentiko. Pada masa kolonial Belanda, Samin Surosentiko membangun gerakan yang menolak berbagai aturan pemerintah kolonial. Salah satu bentuk perlawanannya adalah menolak membayar pajak.

Gerakan Samin kemudian berkembang ke sejumlah wilayah, termasuk Pati. Ajaran tersebut dikenal dengan sikap mempertahankan kemandirian masyarakat. Selain itu, menolak tunduk terhadap aturan yang dianggap tidak adil.

Perlawanan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah sosial masyarakat di kawasan Pegunungan Kendeng.

Perjuangan Pegunungan Kendeng

Tradisi perlawanan kemudian muncul kembali, dalam bentuk berbeda pada era modern. Masyarakat Pegunungan Kendeng bersama Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), melakukan perlawanan terhadap rencana pembangunan industri semen.

Persoalan yang diperjuangkan berkaitan dengan lahan pertanian, sumber mata air, kawasan karst, dan keberlangsungan kehidupan petani. Perjuangan mereka dilakukan melalui demonstrasi, audiensi, advokasi hukum, hingga aksi di Jakarta.

Salah satu aksi paling terkenal terjadi ketika para perempuan Kendeng melakukan aksi mengecor kaki dengan semen di depan Istana Negara. Aksi tersebut menjadi simbol kuat perjuangan masyarakat Kendeng.

Kaki yang dicor menggambarkan kekhawatiran masyarakat, bahwa tanah dan kehidupan mereka akan "dicor" oleh industrialisasi. Aksi tersebut membuat perjuangan masyarakat Kendeng mendapat perhatian nasional.

Bagi sejarah gerakan warga Pati, bahwa peristiwa ini penting. Sebab menunjukkan bahwa masyarakat Pati dan Kendeng, telah lama membawa persoalan daerah langsung ke pusat kekuasaan di Jakarta.

Dari Samin ke AMPB

Jika sejarah tersebut dirangkai, terlihat perubahan bentuk perlawanan masyarakat Pati. Pada masa kolonial, Samin Surosentiko melawan dengan penolakan terhadap aturan yang dianggap menindas.

Pada era modern, JMPPK dan masyarakat Kendeng menggunakan aksi massa, advokasi hukum, dan gerakan lingkungan.

Pada tahun 2016 dan 2017, perempuan Kendeng membawa perjuangan ke Istana Negara melalui aksi cor semen.

Selanjutnya pada 2025 dan tahun sesudahnya, AMPB di bawah Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto, membawa aspirasi warga Pati ke ruang politik nasional, termasuk ke Gedung DPR.

Bentuknya berubah mengikuti zaman. Namun ada satu benang merah bahwa warga Pati tidak ingin persoalan mereka berhenti di tingkat bawah, ketika merasa aspirasi mereka belum mendapatkan jawaban.

Dua Kota dalam Sejarah Perlawanan

Ada satu pola menarik dalam sejarah gerakan masyarakat Pati. Ketika persoalan dianggap tidak selesai di daerah, Jakarta menjadi tujuan perjuangan.

Dulu masyarakat Pegunungan Kendeng datang ke Istana. Kini AMPB membawa aspirasi warga Pati ke DPR RI. Perbedaannya terletak pada isu dan zamannya. Namun tujuannya sama: membawa suara masyarakat kepada pusat kekuasaan.

Gerakan AMPB yang dipimpin Supriyono Botok dan Teguh Istiyanto di DPR, menjadi babak terbaru dalam perjalanan panjang perlawanan masyarakat Pati.

Gerakan tersebut tidak muncul dalam ruang kosong. Di belakangnya terdapat sejarah panjang, mulai dari Pati pada masa kerajaan, perlawanan Samin Surosentiko, perjuangan masyarakat Kendeng dan JMPPK, hingga aksi cor semen di depan Istana Negara.

Dari Samin Surosentiko, Kendeng, JMPPK, hingga AMPB, sejarah Pati memperlihatkan satu hal: ketika masyarakat merasa suaranya belum didengar, mereka mencari jalan untuk membawanya ke pusat kekuasaan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |