Intip Laju Saham BBCA Hari Ini

11 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih lesu pada sesi pertama perdagangan saham Jumat, (5/6/2026). Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih tertekan.

Mengutip data RTI, saham BBCA ditutup melemah 5,53% menjadi Rp 5.125 per saham. Harga saham BBCA dibuka turun 100 poin menjadi Rp 5.325 dari penutupan sebelumnya Rp 5.425 per saham. Saham BBCA berada di level tertinggi Rp 5.375 dan terendah Rp 5.100 per saham. Total frekuensi perdagangan sekitar 56.532 kali dengan volume perdagangan saham 3.343.470 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 1,7 triliun. Seiring koreksi saham BBCA, kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 631,78 triliun.

Penurunan saham BBCA jelang akhir pekan ini berlanjut setelah perdagangan kemarin saham BBCA ditutup turun menjadi Rp 5.425 per saham dari penutupan pada 3 Juni 2026 di Rp 5.525 per saham.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, koreksi tidak hanya terjadi di saham BBCA. Pihaknya memperkirakan ada risiko independensi yang menekan pergerakan emiten perbankan.

"Di sisi lain kami mencermati adanya outflow di BBCA sekitar Rp 23 triliun year to date (Mei 2026). Secara teknikal, kami mencermati masih ada ruang koreksi untuk BBCA,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, IHSG turun 2,53% menjadi 5.692,15. Indeks saham LQ45 terpangkas 2,46% menjadi 566,63. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 5.860,67 dan level terendah 5.673,92. Koreksi IHSG sesi pertama terjadi di tengah 588 saham melemah. Sementara itu, 111 saham menguat dan 109 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.322.798 kali dengan volume perdagangan saham 25,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham mencapai Rp 21,1 triliun.

Kredit Naik, BCA Kantongi Laba Bersih Rp 14,7 Triliun di Kuartal I 2026

Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sukses membukukan total laba bersih senilai Rp 14,7 triliun pada kuartal I 2027. Raihan laba bank dengan kode saham BBCA ini didorong oleh pertumbuhan kredit positif mencapai Rp 994 triliun, atau naik 5,6 persen secara tahunan (YoY).

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Hendra Lembong menyampaikan, penyaluran kredit tersebut didukung pendanaan yang solid, dengan dana giro dan tabungan (CASA) sebesar Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2 persen YoY.

Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) BCA.

"Mengawali 2026, kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan Idu Fitri yang mendukung kinerja kredit. Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden," ujar Hendra dalam konferensi pers paparan kinerja BCA Kuartal I 2026, Kamis (23/4/2026).

Kredit BCA hingga akhir Maret 2026 terutama ditopang kredit produktif sebesar Rp 760,2 triliun, meningkat 7,8 persen YoY.

Seiring komitmen menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), penyaluran kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tumbuh 10 persen YoY menjadi Rp 258,4 triliun, atau setara 26 persen dari total portofolio pembiayaan BCA. Capaian ini didukung pertumbuhan kredit UMKM sebesar 12 persen YoY dengan outstanding Rp 146 triliun.

Rp 113 Triliun Kredit Hijau

Kredit hijau BCA (green financing) tumbuh 7,7 persen YoY mencapai Rp 113 triliun. Salah satunya didukung penyaluran pembiayaan ke sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang naik 53,5 persen YoY.

Di sisi lain, rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) terjaga, masing-masing 5,1 persen dan 1,8 persen. Rasio pencadangan LAR dan NPL ada pada level solid, masing-masing 69,7 persen dan 174,6 persen.

Dari sisi pendanaan, total DPK BCA mencapai Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3 persen YoY.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |