3 Faktor Bursa Saham Korea Selatan Lebih Bergejolak Ketimbang Bitcoin

8 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Investasi di bursa saham Korea Selatan telah menghasilkan keuntungan besar pada 2026. Akan tetapi, sepanjang 2026, indeks Kospi di Korea Selatan bergejolak. Bahkan gejolak Kospi dinilai lebih tinggi dibandingkan bitcoin (BTC).

Mengutip the Strait Times, Selasa (21/7/2026), volatilitas pada indeks acuan Kospi telah mencapai lebih dari 60%, hampir dua kali lipat dari Nikkei 225 Jepang. Bahkan telah mengalahkan bitcoin.

Pergerakan yang bergejolak ini telah memaksa Bursa Efek Korea Selatan untuk mengaktifkan mekanisme “pemutus sirkuit” (circuit breaker), yang menghentikan sementara perdagangan untuk mencegah penurunan tajam dan kepanikan investor. Mekanisme itu diaktifkan sebanyak tujuh kali hingga pertengahan Juli 2026.

Mengutip the Strait Times dari laporan Bloomberg, tidak ada penghentian seperti itu pada 2025, dan hanya satu kali pada 2024.

Berikut beberapa alasan volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya di bursa saham Korea Selatan:

1.Fenomena Samsung-SK Hynix

Dua perusahaan yang mempengaruhi kinerja saham Korea Selatan yang bergejolak yakni Samsung Electronics dan SK Hynix.

Keuntungan perusahaan meningkat pesat karena mereka memasok chip memori yang dibutuhkan untuk sistem kecerdasan buatan generasi baru.

Ledakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah mendorong harga saham melonjak, dan begitu cepat sehingga menyumbang lebih dari 50% dari Kospi.

Afiliasi yang terdaftar dari kedua perusahaan itu bahkan menambah pangsa pasar lebih tinggi lagi. Akibatnya, dana yang melacak indeks Kospi telah menjadi taruhan besar pada AI.

Ketika Kospi ditutup pada rekor tertinggi pada akhir Juni 2026. Hal ini seiring lebih dari 650 dari 831 saham konstituen turun.

Selain itu, valuasi perusahaan terkait AI bergantung pada perubahan sentimen investor. Ratusan miliar dolar AS diinvestasikan ke platform AI dan pusat data. Hal ini dengan harapan kemampuan transformasi teknologi ini akan menghasilkan keuntungan besar.

Untuk saat ini, AI belum menghasilkan pendapatan yang cukup dari pengguna akhir untuk menutupi biaya pembangunannya.

2.ETF dengan Leverage (Utang)

Exchange-traded funds (ETF) dengan leverage sangat populer di Korea Selatan, dan sangat berisiko. Pelaku pasar memakai derivatif, dan utang memperkuat pengembalian harian dari indeks dan aset yang mendasarinya, biasanya dengan dua faktor.

Kecanggihan dan risiko ETF yang memakai leverage, di sebagian besar dunia, ETF terutama dibeli oleh pelaku pasar dan investor.

Di Korea Selatan, ETF ini secara aktif dipakai oleh individu yang menginvestasikan tabungan. Individu itu sebagian besar seringkali kurang memiliki pelatihan formal di bidang keuangan.

Ledakan ETF yang memakai leverage di Korea Selatan berakar pada 2010. Saat itu, Samsung Asset Management meluncurkan KODEX Leverage, produk KOSPI 200 oleh perusahaan dan media Korea Selatan digambarkan sebagai ETF yang memakai leverage pertama di Asia.

Selama lebih dari satu dekade, pasar ETF yang memakai leverage di Korea Selatan, sebagian besar tetap terikat pada indeks.

Regulator keuangan Korea Selatan menyadari risikonya ketika mencoba untuk mengekang permintaan investor lokal terhadap ETF leverage asing pada 2025.

Akan tetapi, 2026, regulator mengizinkan pembentukan lebih dari selusin produk semacam itu yang melacak Samsung dan SK Hynix, 90% di antaranya dipegang oleh investor ritel.

Seiring meningkatnya kekhawatiran atas dampak destabilisasi, otoritas Korea Selatan mengumumkan pada 16 Juli, pencatatan baru produk leverage saham tunggal akan dihentikan sementara.

Bersama dengan dua saham pembuat chip yang mereka lacak, ETF itu baru-baru ini menyumbang lebih dari 70% dari nilai perdagangan harian di pasar senilai US$ 4 triliun atau Rp 71.560 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.890).

3.Investor Ritel

Warga Korea Selatan telah lama berkecimpung di pasar saham, tetapi kegilaan terhadap artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang fokus pada Samsung dan SK Hynix membuat euforia.

Investor individu lokal telah investasi lebih dari 100 triliun won atau 88 miliar dolar Singapura. Nilai itu setara Rp 1.210 triliun (satu dolar Singapura terhadap rupiah 13.870).

Uang investor itu membantu menurunkan biaya modal perusahaan, mendukung rencana ekspansi yang ambisius. Namun, hal itu juga menambah volatilitas harga saham.

Para penjual seringkali adalah investor asing, khususnya, fund manager yang wajib mengurangi posisi mereka di Samsung dan SK Hynix untuk memastikan portofolio saham mereka tidak terlalu terpapar pada kedua perusahaan tersebut.

Aksi Jual Investor Asing

Investor asing telah menjual saham Kospi senilai sekitar US$ 108 miliar atau Rp 1.932 triliun pada 2026. SK Hynix mengalami penarikan lebih dari US$ 40 miliar atau Rp 715,92 triliun.

Investor institusional lebih cenderung bertahan dengan perusahaan yang sedang mengalami masa sulit dan memiliki pandangan yang lebih jelas tentang nilai fundamentalnya selama gelombang euforia.

Para pelaku pasar ritel di Korea Selatan seringkali haus akan keuntungan dan bersedia mengambil risiko. Mereka dikenal secara lokal sebagai "semut" karena kecenderungan mereka untuk bertindak serempak.

Ketika harga saham turun, hal itu dapat memicu kepanikan dan aksi jual massal. Ketika harga saham naik, hal itu dapat memicu gelombang pembelian dengan harga yang melambung tinggi oleh investor kecil yang cemas agar tidak ketinggalan.

Ledakan ETF jadi Beban

Ledakan ETF yang menggunakan leverage hanya memperburuk keadaan.

Analis Goldman Sachs Group menulis pada akhir Juni, aset yang diinvestasikan dalam ETF yang menggunakan leverage di Korea Selatan yang melacak indeks dan saham tunggal telah melonjak menjadi lebih dari US$ 40 miliar dari US$ 5 miliar atau Rp 89,4 triliun pada awal 2026.

"ETF yang menggunakan leverage adalah risiko utama yang perlu dipantau," tulis mereka dalam catatan terpisah tertanggal 5 Juli.

Meskipun jumlah utang margin, pinjaman untuk membeli saham  telah berkurang dalam beberapa minggu terakhir dari puncaknya pada bulan Juni, jumlahnya tetap jauh di atas level setahun yang lalu.

Ketika pasar saham ditopang oleh uang pinjaman, hal itu dapat meningkatkan risiko penjualan panik ketika harga mulai turun.

"Mengingat bahwa leverage merupakan pendorong signifikan reli saham-saham sektor memori pada kuartal kedua, kami tetap berhati-hati dalam menyebutkan titik terendah,” ujar Manajer Portofolio di Allspring Global Investments, Gary Tan.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |