BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG di Lampung Buntut Keracunan Massal

2 days ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) makan bergizi gratis (MBG) di Sumberejo, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, menyusul dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah sekolah di wilayah tersebut.

Penutupan dilakukan setelah adanya laporan dugaan keracunan yang dialami siswa dari tiga sekolah penerima manfaat program MBG.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung menerima surat resmi dari BGN terkait penghentian sementara operasional dapur. Namun dalam surat itu tidak dijelaskan secara rinci hasil temuan di lapangan.

“Dalam surat hanya disebutkan berdasarkan temuan lapangan dan laporan koordinator regional Provinsi Lampung, operasional SPPG dihentikan sementara. Tidak dirinci apa saja temuannya,” kata Muhtadi, Sabtu (21/2/2026).

Menurut dia, penghentian operasional dilakukan hingga dapur MBG tersebut menjalani proses sterilisasi dan renovasi, guna memenuhi standar kebersihan yang ditetapkan.

Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung juga telah melakukan inspeksi langsung ke lokasi dapur. Dari hasil pengecekan, ditemukan sejumlah catatan yang harus segera dibenahi pengelola.

Beberapa di antaranya kondisi lantai di area penyajian yang dinilai kurang bersih serta tidak disikat secara rutin. Selain itu, penggunaan alas kaki di dalam area dapur juga harus lebih diperhatikan untuk menjaga higienitas.

Tak hanya itu, akses ruang penyajian makanan disebut belum memiliki sekat pemisah dengan ruangan lain. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi standar sterilitas karena aroma masakan maupun aktivitas lain bisa menyebar ke seluruh ruangan.

“Seharusnya ada pembatas antara ruang penyajian dan ruang lainnya agar lebih steril. Kami berharap pengelola SPPG dapat menjalankan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan,” tegasnya.

Sebelumnya, ratusan siswa, guru, hingga wali murid di Kota Bandar Lampung mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG, Rabu (11/2/2026). Mereka dilaporkan mengalami gejala diare, mual, muntah, hingga demam beberapa jam usai menyantap makanan tersebut.

Salah satu wali murid berinisial NS bercerita kepada Liputan6.com, gejala awal dialami keluarganya pada Rabu malam setelah anaknya membawa pulang menu MBG dari sekolah.

“Anak saya bawa pulang karena tidak dimakan di sekolah. Menunya nasi, telur ceplok disiram saus, ada anggur dan sayur. Sore mulai mulas, jam 9 malam sudah diare. Subuhnya bolak-balik BAB dan mual,” kata NS, Senin (16/2/2026).

NS menuturkan, istrinya sempat mencoba berobat jalan sebelum akhirnya dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara selama tiga hari. Sejak Sabtu dan baru diperbolehkan pulang pada Senin siang. NS baru mengetahui dugaan keracunan massal setelah pihak sekolah melakukan pendataan terhadap siswa dan guru yang mengalami gejala serupa.

“Pagi-pagi ada telepon dari pihak sekolah mau mendata yang mengalami mual dan diare. Ternyata tetangga saya juga kena, sama persis gejalanya,” tuturnya.

Selain soal dugaan keracunan, NS juga mengungkap adanya permintaan kepada sejumlah orang tua agar tidak menceritakan kejadian tersebut ke media sosial.

“Ada yang disuruh buat surat perjanjian, tidak boleh ngomong-ngomong atau buat video,” ungkapnya.

Menurutnya, beberapa korban yang tidak mampu memilih menahan sakit di rumah sebelum akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan. Dia berharap ada posko dan tanggung jawab dari pihak penyedia makanan untuk membantu korban, khususnya yang kurang mampu.

Tiga sekolah tersebut yakni SDN 4 Sumberejo, SD Al Munawaroh, dan SMPN 14 Bandar Lampung. Berdasarkan data Dinkes dari Puskesmas Kemiling, di SDN 4 Sumberejo tercatat 77 siswa, 9 guru, dan 1 orang tua guru mengalami keluhan diare.

Di SD Al Munawaroh, sebanyak 64 siswa, 11 guru dan penjaga sekolah, serta 1 orang tua guru turut terdampak. Total dari dua sekolah tersebut mencapai 163 orang.

Sementara itu, hasil verifikasi di SMPN 14 Bandar Lampung menunjukkan 43 orang melaporkan gejala serupa. Dari jumlah tersebut, 37 orang menjalani rawat jalan dan enam lainnya dirawat inap di sejumlah rumah sakit. Beberapa korban dirawat di RS Bintang Amin, RS Bumi Waras, dan RS Graha Husada.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |