Aki Basah Bisa Awet dengan Melakukan Perawatan yang Tepat

2 months ago 44

Liputan6.com, Jakarta - Bagi para pemilik mobil atau motor yang masih menggunakan aki basah, menjaga umur pakai komponen yang penting ini bukan hanya sekadar soal kebiasaan melainkan sebuah kebutuhan. Aki basah berbeda dengan aki kering atau Maintenance Free (MF) yang relatif bebas dari perawatan. Aki jenis ini juga tetap membutuhkan perhatian secara insentif agar performanya tetap selalu maksimal.

Perawatan yang dimaksud tidak hanya tentang mengisi ulang cairan saat levelnya turun saja, tetapi juga merawat tentang kebersihan, mengecek kondisi fisik komponen, serta  memastikan semua bagian terpasang dengan benar.

Dilansir suzuki.co, Selasa (23/12/2025), perbedaan yang mendasar antara aki basah dan aki MF adalah kebutuhan perawatan. Aki basah memiliki tutup dan komponen yang bisa dibuka, sehingga pemilik dapat memeriksa cairan elektrolitnya secara berkala.

Jika cairan ini jatuh di bawah level aman, kinerja aki bisa menurun secara drastis yang akhirnya akan berdampak pada starter dan sistem kelistrikan kendaraan. Namun, memeriksa cairan saja tidak cukup dan harus menjaga kebersihan terminal serta sambungan kabel juga tak boleh luput dari perhatian.

Pentingnya pengecekan visual pada seluruh bagian aki. Perhatikan apakah ada retak pada bodi aki, tutup yang tidak rapat, atau kabel yang mulai mengelupas. Indikator-indikator ini bisa menjadi tanda dini bahwa aki perlu segera ditangani atau diganti, sebelum menyebabkan masalah kelistrikan yang lebih serius.

Periksa Kondisi Fisik dan Ketinggian Air Aki

Salah satu perawatan yang paling penting pada aki basah adalah memastikan ketinggian air aki berada pada batas yang dianjurkan. Cairan elektrolit berfungsi sebagai penghantar reaksi kimia di dalam aki untuk menghasilkan daya listrik.

Jika volumenya berkurang, kemampuan aki dalam menyimpan dan menyalurkan listrik akan menurun. Pengecekan dilakukan secara berkala, terutama jika kendaraan sering digunakan atau beroperasi dalam kondisi lalu lintas padat.

Saat volume air aki berkurang, penambahan harus menggunakan air aki yang sesuai dan tidak melebihi batas maksimum agar tidak merusak struktur internal aki.

Selain cairan elektrolit, kondisi fisik aki juga perlu diperhatikan. Pemilik kendaraan disarankan untuk memeriksa juga bagian bodi aki mengalami keretakan atau tidak, menggembung, atau terdapat tanda kebocoran. Kerusakan fisik seperti ini bisa menjadi sebuah indikasi bahwa aki sudah tidak layak pakai dan berisiko mengganggu sistem kelistrikan.

Pada bagian tutup aki juga harus dalam kondisi rapat dan terpasang dengan benar. Tutup yang longgar dapat mempercepat penguapan cairan elektroit dan menyebabkan kinerja aki menurun.

Jaga Kebersihan Terminal dan Kabel Aki

Terminal aki yang kotor atau berkarat dapat menghambat aliran listrik ke seluruh sistem kendaraan. Korosi biasanya muncul akibat reaksi kimia atau paparan kelembapan pada ruang mesin yang jika dibiarkan dapat menyebabkan sambungan listrik tidak optimal.

Membersihkan terminal aki secara berkala dan memastikan kabel terpasang kuat dapat membantu menjaga performa kelistrikan tetap stabil. Perawatan aki basah sejatinya tidak rumit, namun membutuhkan konsistensi.

Dengan rutin memeriksa cairan elektroit, memastikan kondisi  fisik aki tetap baik, serta menjaga kebersihan terminal, pemilik kendaraan dapat memperpanjang umur aki dan menjaga kenyamanan berkendara sehari-hari.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |