Petani Lampung Dihantui Gagal Panen di Saat Harga Gabah Tinggi

10 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Kemarau yang melanda Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, mulai berdampak terhadap lahan pertanian. Sawah di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, mulai mengering akibat kekurangan air setelah hujan nyaris tidak turun selama hampir dua bulan.

Kondisi tersebut membuat petani dihantui ancaman gagal panen. Ironisnya, kekeringan terjadi ketika harga gabah tengah tinggi dan seharusnya menjadi momentum bagi petani untuk meraup keuntungan.

Kusnun, salah seorang petani setempat, mengatakan seluruh modal untuk musim tanam kali ini telah dikeluarkan, mulai dari membeli benih, pupuk, hingga membayar biaya pengolahan lahan. Namun, nasib tanaman padinya kini sangat bergantung pada turunnya hujan.

"Kalau cuaca terus seperti ini, jangankan untung, modal saja belum tentu kembali," kata Kusnun kepada Liputan6.com, Jumat (31/7/2026).

Menurut Kusnun, kemarau di wilayah tersebut telah berlangsung sekitar satu setengah hingga dua bulan. Meski belum berlangsung terlalu lama, minimnya pasokan air mulai memengaruhi pertumbuhan padi.

Tanpa air yang cukup tanaman terancam mengering sebelum memasuki masa panen. Padahal, petani sudah mengeluarkan biaya produksi yang tidak sedikit.

"Bibit sudah ditanam, pupuk sudah diberikan, tenaga kerja juga sudah dibayar. Kalau air tidak masuk, padi bisa kering semua," ujarnya.

Kusnun menggarap sawah seluas sekitar 7.000 meter persegi. Dalam kondisi normal, lahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 4 hingga 5 ton gabah dalam satu musim panen.

Hasil itu biasanya cukup untuk menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan. Namun, kondisi kemarau membuat harapan mendapatkan hasil maksimal semakin menipis.

"Kalau dibilang gagal panen memang belum tahu, tapi harapannya sudah tipis," ucapnya.

Kusnun mengaku selama menjadi petani belum pernah mengalami gagal panen total. Namun, dalam beberapa musim sebelumnya, hasil panen sempat hanya cukup untuk mengembalikan modal tanpa memberikan keuntungan berarti.

Kondisi musim tanam kali ini semakin berat karena kekeringan terjadi saat harga gabah sedang tinggi. Peluang petani mendapatkan pendapatan lebih besar pun terancam pupus akibat produksi yang berpotensi merosot.

Tidak hanya persoalan cuaca, Kusnun menyebut kerusakan bendungan turut memperparah minimnya pasokan air menuju area persawahan.

Petani sebenarnya ingin memperbaiki bendungan tersebut secara gotong royong. Namun, kebutuhan biaya yang besar membuat upaya itu sulit dilakukan secara swadaya.

"Kami ingin gotong royong memperbaiki bendungan, tetapi biayanya tidak sanggup. Modal untuk bertani saja sudah habis," keluhnya.

Kusnun juga mengaku belum pernah menerima bantuan pemerintah terkait persoalan irigasi maupun penanganan dampak kekeringan sejak mulai menggarap sawah pada 2012.

"Sejak saya bertani di sini tahun 2012 sampai sekarang belum pernah tersentuh bantuan," katanya.

Kini, Kusnun bersama petani lainnya hanya berharap hujan segera mengguyur wilayah tersebut. Pasokan air dibutuhkan untuk menyelamatkan tanaman padi sebelum kondisinya semakin mengering.

Bagi para petani, musim tanam kali ini bukan lagi sekadar mengejar keuntungan di tengah tingginya harga gabah, melainkan menyelamatkan tanaman agar modal yang telah dikeluarkan tidak ikut menguap akibat kemarau.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan sebagai langkah antisipasi apabila kekeringan semakin meluas pada musim kemarau tahun ini. Langkah tersebut disiapkan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus mencegah dampak terhadap sektor pertanian.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung Muhammad Fareza Revanza mengatakan musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya pada September 2026. Kondisi itu berpotensi memicu gagal panen apabila pasokan air terus berkurang.

"Yang paling kami khawatirkan bukan hanya kekeringan, tetapi dampak lanjutannya terhadap sektor pertanian. Kalau pasokan air terus berkurang, risikonya bisa sampai gagal panen dan itu akan berdampak pada perekonomian daerah," kata Fareza, Senin (27/7/2026). Menurut Fareza, Lampung sebagai salah satu lumbung pangan nasional memiliki komoditas unggulan seperti padi, jagung, kopi, dan berbagai hasil perkebunan yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Selain sektor pertanian, BPBD juga mewaspadai meningkatnya kebutuhan air bersih apabila hujan tak kunjung turun. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu keterbatasan pasokan air hingga potensi perebutan sumber air di sejumlah wilayah.

"Kalau kemarau berlangsung lama, bukan hanya masyarakat yang kesulitan mendapatkan air, tetapi sektor pertanian juga akan terdampak. Ini yang sedang kami antisipasi," ujarnya.

Fareza menjelaskan, operasi hujan buatan baru akan dilakukan apabila hasil pemantauan menunjukkan kekeringan terus memburuk dan memenuhi syarat berdasarkan analisis cuaca dari BMKG.

Ia mengatakan teknologi yang digunakan sama seperti operasi modifikasi cuaca saat penanganan banjir pada awal tahun. Bedanya, kali ini penyemaian awan bertujuan meningkatkan curah hujan untuk menambah pasokan air di wilayah terdampak.

"Teknologinya sama, tetapi pendekatannya berbeda. Awal tahun kita mengurangi curah hujan karena ancaman banjir, sedangkan sekarang justru menambah curah hujan untuk mengurangi dampak kekeringan," jelasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |