Kiai NU Sulsel Buka Suara Usai Viral Asyik Nyanyi di Tempat Hiburan Malam

14 hours ago 12

Liputan6.com, Makassar - Salah satu pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan, KH MS, angkat bicara setelah dirinya viral di media sosial lantaran diberitakan berada di tempat hiburan malam (THM) di Makassar, bersama seorang lady companion (LC).

MS yang menjabat sebagai Wakil Khatib Syuriah PWNU Sulsel sekaligus dosen Universitas Islam Makassar (UIM) membantah dirinya sengaja datang ke THM untuk menikmati hiburan bersama LC. Dia mengaku berada di lokasi karena memenuhi ajakan keluarganya yang datang dari Kalimantan.

"Itu ada keluarga, tamu dari Kalimantan. Ya, dia ajak saya ketemu di hotel," kata MS saat dikonfirmasi, Senin (21/9/2026).

MS kemudian menceritakan kronologi kedatangannya ke salah satu hotel di Makassar. Menurut dia, awalnya dirinya mendapat ajakan untuk bertemu dengan tamunya di hotel tersebut, namun ketika tiba, keluarganya ternyata sudah berada di area hiburan yang terdapat di dalam hotel.

"Datanglah saya di hotel tersebut. Tetapi, saat tiba di hotel, ternyata itu ada di lantai 1 yang tempatnya THM. Jadi, saya temu di situ," ujarnya.

MS mengaku tetap menemui tamunya dan berbincang di dalam ruangan. Dia juga membenarkan sempat ikut bernyanyi karena tamunya tengah bernyanyi, tetapi membantah ikut berdansa maupun menggunakan jasa LC.

"Saya ketemu di situ berbincang-bincang. Karena dia dalam keadaan menyanyi, saya (ikut) menyanyi tapi tidak berdansa. Tidak ada LC. Tapi, saat keluar room ada LC di situ, tapi saya tidak bayar dan lain-lain. Kemudian tiba-tiba diberitakan," ungkapnya.

MS selanjutnya mempersoalkan pemberitaan yang menurutnya tidak menggambarkan kejadian sebenarnya. Dia mengaku sempat berupaya menghubungi wartawan yang menulis berita tersebut untuk memberikan klarifikasi setelah pemberitaan mengenai dirinya terbit.

Menurut MS, dalam komunikasi tersebut wartawan bersangkutan disebut menawarkan agar pemberitaan tidak ditayangkan dengan alasan kerja sama iklan. MS mengaku mendapat penawaran dengan nilai yang disebut mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

"Ada beberapa pertanyaan itu yang saya jawab sejujurnya, tidak ada menyimpang fakta. Saya ketemu lagi besoknya itu wartawan untuk konfirmasi bahwa karena sudah dimuat. Jadi dia bilang bisa tidak dimuat ini, yang penting kita kerja sama, ada penawaran iklan saya tawarkan ada Rp 80 juta, ada Rp 100 juta, ada Rp 120 juta," katanya.

MS mengaku menolak tawaran tersebut. Dia mengatakan bersedia jika bentuk kerja sama yang dimaksud merupakan iklan dengan nilai sebagaimana tarif iklan pada umumnya, tetapi tidak dengan nominal yang disebutkan kepadanya.

"Saya bilang tidak bisa dinda kalau iklan itu biasanya Rp3 jutaan, Rp5 jutaan, kalau itu saya sanggup, tapi kalau harganya seperti begitu (saya) tidak bisa," ungkapnya.

MS kemudian mengaku kembali mendapat pesan melalui WhatsApp. Dalam komunikasi tersebut, dia menyebut oknum wartawan itu mengancam akan menyebarkan video dirinya serta kembali menayangkan pemberitaan mengenai keberadaannya di THM.

"Dia WA lagi, bahwa dia sebarkan video dan menaikkan lagi beritanya. Saya jawablah bahwa itu namanya privasi. Tidak bisa, harus ada izin dari saya kalau mau sebarkan berita," jelasnya.

MS mengatakan pemberitaan mengenai dirinya kemudian kembali muncul. Dia memilih tidak memberikan respons lebih lanjut karena mempertimbangkan arahan dari pihak kampus.

"Besoknya muncul lagi beritanya yang kedua kalinya. Tapi, saya diam saja karena pak rektor," ujarnya.

Atas polemik tersebut, MS mengaku telah membawa persoalan pemberitaan itu ke ranah hukum. Dia mengatakan telah melaporkan dugaan pencemaran nama baik kepada pihak kepolisian.

Namun, hingga kini MS menyebut belum membuat laporan terpisah terkait dugaan pemerasan yang dia klaim terjadi dalam komunikasi dengan oknum wartawan tersebut.

"Saya lapor di polisi tentang pencemaran nama baik, saya belum melaporkan tentang pemerasan karena dia mau, saya tidak lapor begitu dulu karena dia sempat memeras saya, kan," pungkasnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |