Ketika Kepala BGN Menikmati MBG

7 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Ada suasana berbeda di SDK St Arnoldus Penfui, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (16/9/2026). Di tengah riuh suara anak-anak, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena duduk bersama para siswa. Tidak ada jarak. Mereka menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam satu suasana yang hangat dan penuh keceriaan.

Kehadiran Kepala BGN di sekolah tersebut disambut antusias para siswa. Sejak kedatangannya, anak-anak terlihat bersemangat mengikuti setiap rangkaian kegiatan.

Sudaryono bahkan menyempatkan diri berinteraksi langsung dengan siswa melalui sesi tanya jawab.

Tangan-tangan kecil terlihat terangkat. Anak-anak berebut kesempatan menjawab pertanyaan yang diberikan Kepala BGN.

Beberapa siswa yang berhasil memberikan jawaban dengan tepat mendapatkan hadiah. Sontak, suasana semakin meriah.

Namun, kegembiraan anak-anak belum berhenti di sana.

Saat waktu makan tiba, Sudaryono bersama Gubernur NTT memilih duduk bersama anak-anak untuk menikmati menu MBG.

Di hadapan mereka tersaji nasi putih, ayam goreng, sayur dan semangka.

Menu sederhana itu disantap bersama. Anak-anak terlihat menikmati makanan mereka, sembari sesekali memperhatikan para pejabat yang berada di tengah-tengah mereka.

Bagi sebagian anak, makan bersama tersebut bukan sekadar menikmati makanan. Kehadiran Kepala BGN dan Gubernur NTT di meja makan menjadi pengalaman yang berbeda dan berkesan.

Rachel, salah seorang siswa, mengaku senang bisa makan bersama Kepala BGN dan Gubernur NTT.

“Makanannya enak. Ada ayam goreng, sayur dan buah semangka. Kami senang dan kenyang,” ujarnya.

Di balik suasana penuh kegembiraan tersebut, Sudaryono memastikan pelaksanaan MBG tidak hanya berbicara mengenai makanan yang sampai ke meja siswa.

Keamanan dan kualitas makanan, kata dia, harus menjadi perhatian sejak makanan selesai dimasak hingga disantap anak-anak.

“Dari mulai matang, diporsi, sampai mau diangkut, itu semua sudah diuji. Artinya sudah diperiksa oleh petugas di dapur,” kata Sudaryono.

Setelah makanan tiba di sekolah, pemeriksaan kembali dilakukan oleh penanggung jawab atau PIC sebelum makanan diterima dan diberikan kepada siswa.

“PIC-nya harus mencicipi dulu sebelum menerima. Dia cicipi, aman, baru diterima,” ujarnya.

Sudaryono juga mengingatkan guru untuk tidak memberikan makanan kepada anak apabila ditemukan kondisi yang mencurigakan.

“Kalau Bapak-Ibu guru waktu mau memberikan kepada anak-anak dirasa aneh, misalnya bau, kecut, atau asam, jangan diberikan,” tegasnya.

Ia juga menekankan adanya batas waktu maksimal konsumsi makanan. Apabila makanan telah melewati batas waktu yang ditentukan, makanan tersebut tidak boleh diberikan kepada siswa.

“Setiap porsi yang diterima itu ada batas maksimal waktu untuk dikonsumsi. Kalau sudah melewati batas waktu tersebut, jangan diberikan kepada anak-anak,” katanya.

Untuk memperkuat pengawasan, BGN juga tengah menyiapkan sistem penilaian terhadap dapur MBG yang melayani sekolah.

Melalui sistem tersebut, kepala sekolah nantinya dapat memberikan penilaian terhadap kinerja dapur, termasuk kualitas makanan dan pelayanan.

“Jadi nanti kepala sekolah bisa menilai dapur yang melayani sekolah itu. Apakah kooperatif atau tidak, makanannya enak atau tidak,” ujar Sudaryono.

Penilaian tersebut nantinya menggunakan sistem bintang, mulai dari satu hingga lima bintang.

“Seperti pesan online. Kepala sekolah bisa memberikan bintang satu sampai bintang lima. Dari situ kami bisa memonitor performa dapur tersebut,” katanya.

Sudaryono memperkirakan sistem itu membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk dipersiapkan sehingga seluruh kepala sekolah dapat memberikan penilaian terhadap dapur yang melayani sekolah mereka.

“Kalau ada yang memberikan bintang satu, saya akan tanya-tanya,” ujarnya.

Bagi BGN, keterlibatan sekolah dan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan program MBG berjalan dengan baik.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |