Liputan6.com, Jakarta - Mukromin hanya bisa pasrah. Gelombang tinggi menghancurkan jalan bambu satu-satunya akses warga untuk bisa masuk ke kampung mereka di Timbulsloko.
"Sekarang bisa masuk kampung, tapi jalan kaki. Jalan kaki juga harus hati-hati, air laut tinggi," katanya berusaha tegar.
Tak hanya merusak akses jalan, gelombang laut yang terjadi awal Maret lalu itu juga menghancurkan enam rumah warga. Saat ini warga Timbulsloko hanya bisa pasrah sambil menunggu perhatian pemerintah. Sementara yang lainnya memilih meninggalkan desa, mengubur mimpi dan kenangan yang ada di dalamnya.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada 2020 jumlah KK di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak, tercatat sebanyak 220 KK. Jumlah itu terus menyusut hingga pada 2024, jumlah KK di desa tersebut hanya tinggal 120 KK yang tinggal di 85 rumah.
Mesti diakui, apa yang terjadi di Timbulsloko merupakan cerminan kegagalan kita (sebut: orang Indonesia) dalam menata ruang dan merespons krisis iklim. Betonisasi, reklamasi, dan proyek infrastruktur yang cenderung dipaksakan, bukan menjadi solusi, malah makin merusak daya dukung ekologis.
Executive Summary Walhi Jateng yang dirilis akhir Februari 2026 membeberkan fakta mencengangkan. Banjir berulang di pesisir Semarang-Demak bukan lagi karena penyebab tunggal: rob, melainkan sudah menjadi bencana yang sifatnya permanen dan sistemik.
Data Walhi Jateng mengungkap, wilayah itu mengalami fenomena double threat, di satu sisi permukaan laut meningkat imbas dari perubahan iklim, dan di sisi lainnya terjadi juga penurunan muka tanah yang sangat cepat. Tiap tahun penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah itu mencapai 10-20 cm. Yang mengkhawatirkan, angka itu jauh melebihi kenaikan air laut secara global yang hanya 0,5 cm per tahun.
Dari catatan kritis itu, Walhi Jateng juga mengungkap beberapa faktor penyebab utama yang memperparah laju penurunan muka tanah di wilayah tersebut, yakni eksploitasi gila-gilaan air tanah oleh sektor industri, beban bangunan berat di atas tanah lunak yang melampaui daya dukung lingkungan, dan hilangnya benteng hijau (mangrove) akibat pembangunan yang tidak ramah alam.
Namun mengutuk keadaan tanpa tindakan nyata tidak akan menghasilkan apa-apa. Itu yang diyakini salah satunya oleh Sururi, 'profesor mangrove' dari pesisir Mangkang. Abrasi parah di sepanjang Pantura membuatnya membuka mata tentang pentingnya pelestarian alam di pesisir. Bersama beberapa orang kawan nelayan, awalnya Sururi pelan-pelan berusaha menyadarkan banyak orang dengan gerakan awal menanami kembali mangrove untuk melawan laju abrasi yang kian parah.
"Tahun 90-97 abrasi parah, baru berhenti itu 2011 saat kami mulai menanam dan lebih dulu dibuati sabuk pantai. Kita juga berterima kasih dengan pemerintah dan juga pihak swasta, termasuk Bakti Lingkungan Djarum Foundation yang banyak berperan," katanya.
Sabuk pantai merupakan struktur pelindung pantai dengan menggunakan teknologi Karung Geotekstil Memanjang, berbahan dasar geotekstil non moven yang diisi campuran air dan pasir. Gunanya adalah untuk menahan laju abrasi. Namun sabuk pantai tak bertahan lama, malah kalah dengan 'sabuk pantai' alami yang disebut mangrove. Dari sini, Pak Sururi makin yakin mangrove adalah masa depan kehidupan pesisir, maka harus dijaga dan dilestarikan.
Jika dihitung-hitung, Pak Sururi bersama warga yang terlibat sudah menanam mangrove hingga jutaan bibit, dari ujung ke ujung pesisir Mangkang. Hal ini sangat berpengaruh untuk menahan laju abrasi yang ratusan meter dari bibir pantai.
"Menanam mangrove itu paling bagus itu 70 persen saja yang hidup. Sisanya akan mati atau terbawa arus. Itu harus disulami terus. Kalau menanam saja tanpa peratawan ya akan mati. Menanam saja semua terus ditinggal semua orang bisa, yang jarang bisa terus merawatnya," kata Pak Sururi.
Atas kesadaran itu, Pak Sururi kemudian mulai menggerakan ekonomi masyarakat dari hasil budidaya Mangrove. Selain menghasilkan bibit jenis mangrove unggulan yang banyak dicari, yaitu jenis rhizopora, hingga memasok untuk sebagian besar wilayah Jawa dan Bali, istri Pak Sururi juga mulai mengembangkan mangrove dan tambak ikan sebagai bahan dasar kuliner, seperti sirop dan olahan kerupuk.
"Kalau kami nanam kami berjuang ke lingkungan. Kami sudah mengarah ke ekonomi, biar hari tua saya, saya bisa dapat pensiun dari hasil pembibitan. Namanya kerja, tidak boleh ada yang sia-sia, kuncinya itu," katanya.
Atas kerja keras itu, Pak Sururi diganjar Kalpataru 2024 pada kategori Perintis Lingkungan. Penghargaan tertinggi bagi para pahlawan lingkungan ini diterima Pak Sururi atas jerih payahnya membudidayakan dan melestarikan mangrove selama hampir tiga dekade di kawasan Mangkang, Jawa Tengah.
Abrasi di Pesisir Semarang
Jika menilik kembali sejarah abrasi parah di pesisir Pantai Semarang, Prof Sudharto yang juga Guru Besar Manajemen Lingkungan Hidup Universitas Diponegoro saat ditemui Liputan6.com menceritakan, awal abrasi di pesisir utara Semarang terjadi mulai dari perbatasan Kendal dan yang paling ujung perbatasan dengan Sungai Bringin.
"Parah panjangnya 1,5 kilometer, jadi sekitar 250 hektare tambak itu rusak," katanya.
Dalam kondisi seperti itu, kata Prof Sudharto, pesisir tidak bisa langsung ditanami mangrove, maka dulu dibangunkan sabuk pantai dari bantuan pemprov 300 meter, lalu dibangun lagi sampai akhirnya 1,3 kilometer sabuk pantai. Lalu dari situ baru diperkuat dengan menanam mangrove.
"Dan ternyata sekarang sabuk pantainya yang rusak, mangrovenya malah tidak, pantainya tidak jadi terabrasi. Itu bukti bahwa mangrove itu sebagai penangkal gelombang itu sangat penting," kata Prof Dharto.
Selain sebagai penangkal gelombang, mangrove juga punya peran penting sebagai habitat dari berbagai biota air, seperti bandeng, udang, kepiting, hingga rajungan, sehingga memudahkan bagi nelayan sekitar untuk memanfaatkannya. Apa yang terjadi di Mangkang bertolak belakang dengan yang terjadi di pesisir Kota Semarang, tepatnya di kawasan kota lama Semarang.
Menurut pandangan Prof Dharto, fenomena yang terjadi di Kota Lama Semarang adalah kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah yang dipicu dua faktor, yaitu pengeboran air tanah secara masif dan beban bangunan yang berlebihan, mengingat di kawasan itu banyak industri, pelabuhan, perumahan dan sebagainya.
"Itu range penurunan muka tanah di kota lama antara 2-12 cm per tahun. Jadi ada penurunan tanah ada kenaikan muka air laut, ketika terjadi kenaikan muka air laut, air itu akan mencari dataran yang rendah, jadi di Semarang itu tanpa ada hujan bisa banyak genangan," katanya.
Dari panjang pesisir pantai Semarang yang 13,7 kilometer, hanya ada tiga titik yang ada mangrovenya, kota lama menjadi satu-satunya pesisir Pantai Semarang yang tidak ada mangrovenya karena sudah ada industri.
"Enam puluh lima persen panjang pantai di Kota Semarang itu dikuasai swasta. Makanya mangrove di Mangkang ini seperti oase di antara padang pasir," katanya.
Selama menemani Pak Sururi membudidayakan mangrove, Prof Dharto menyebut luas lahan mangrove di Mangkang terus berkembang hingga sekarang mencapai luas 2,7 hektare, dengan jumlah spesies mangrove ada 27 jenis. Belum lagi untuk flora, baik yang sudah teridentifikasi maupun yang belum lewat penelitian.
Pentingnya keberadaan kawanan pohon mangrove perlu dikampanyekan kepada generasi muda. Dengan kolaborasi anak muda, masalah lingkungan, seperti permasalahan abrasi di wilayah pesisir misalnya, bisa terselesaikan dengan cepat, berdampak besar dan berkelanjutan. Apalagi mangrove bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat pesisir dan sekitarnya, namun juga bagi semua orang yang ada di bumi.
Dari sisi ekologis, mangrove punya fungsi sebagai pelindung pantai, yaitu penghalang alami yang melindungi garis pantai dari erosi akibat gelombang laut dan badai. Akar mangrove yang kuat dan saling terkait mampu menahan tanah dan mengurangi dampak gelombang, sehingga mencegah kerusakan pantai yang masif, bahkan saat gelombang tsunami datang.
Mangrove sebagai Benteng Terakhir
Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesis (IABI) Dr Daryono, saat dihubungi tim Regional Liputan6.com mengatakan, ada cukup banyak bukti empirik yang menyebut mangrove dapat mereduksi energi gelombang tsunami, meski kata Daryono, efeknya sangat bergantung pada ketebalan hutan, kerapatan pohon, dan kondisi topografi.
“Salah satu rujukan paling sering dikutip berasal dari kajian pasca Gempa dan Tsunami Samudra Hindia 2004,” katanya.
Studi yang dilakukan Food and Agriculture Organization, kata Daryono, serta peneliti seperti Danielsen Finn (2005), menunjukkan bahwa desa-desa di Tamil Nadu yang memiliki sabuk mangrove atau vegetasi pantai mengalami kerusakan dan korban jiwa yang lebih rendah dibanding wilayah terbuka tanpa vegetasi.
“Di Indonesia sendiri, observasi lapangan di Aceh juga memperlihatkan pola serupa. Beberapa area yang masih memiliki hutan mangrove atau hutan pantai yang relatif utuh menunjukkan tingkat kerusakan yang lebih kecil dibandingkan wilayah yang sudah terdegradasi. Ini diperkuat oleh laporan UNEP dan berbagai studi akademik pascatsunami,” ungkap Daryono.
Daryono menjelaskan secara spesifik bagaimana mekanisme fisik mangrove bekerja sebagai 'peredam alami' gelombang laut. Struktur akar yang rapat meningkatkan gesekan terhadap aliran air, sehingga mengurangi kecepatan dan energi gelombang.
“Studi eksperimental dan pemodelan, termasuk oleh Japan International Cooperation Agency, menunjukkan bahwa sabuk mangrove dengan ketebalan puluhan hingga ratusan meter dapat menurunkan tinggi dan kekuatan gelombang secara signifikan, meskipun tidak sepenuhnya menghentikan tsunami besar,” katanya.
Studi menunjukkan, kata Daryono, hutan mangrove dengan kerapatan tinggi dan diameter batang 20–25 cm mampu menyerap energi gelombang hingga 50% jika ketinggian tsunami berada di bawah 6 meter. Secara mekanisme fisik, mangrove dapat mengurangi kecepatan aliran gelombang dengan akar napasa dan batang pohonnya yang memberikan gesekan sehingga menghambat laju air. Tak hanya mengurangi laju air, mangrove juga terbukti mampu menurunkan ketinggian gelombang saat vegetasinya yang rapat mendistribusikan volume air ke kanal-kanal alami yang ada di dalam kawasan mangrove.
Daryono kemudian menunjuk beberapa lokasi di Aceh yang memiliki vegetasi mangrove (bakau) saat tsunami 2004 terjadi. Temuan-temuan ini menjadi bukti kuat bahwa mangrove punya peran besar dalam mereduksi dampak tsunami 2004 yang melanda Aceh.
Misal di Desa Lhok Pawoh dan Desa Ladang Tuha (Aceh Selatan), kedua desa di pesisir barat ini dilaporkan selamat dari kerusakan parah saat tsunami 2004 menerjang, karena terlindungi oleh vegetasi pantai yang masih asri saat itu.
“Lokasi lainnya adalah Simeulue. Pulau ini secara umum mengalami dampak yang lebih ringan dibandingkan daratan Aceh saat tsunami 2004 terjadi. Salah satunya berkat kearifan lokal ‘Smong’ dan keberadaan ekosistem pesisir termasuk mangrove yang membantu memecah energi gelombang sebelum mencapai permukiman,” kata Daryono.
Sementara di Ulee Lheue dan Alue Naga (Banda Aceh), kata Daryono, meskipun daerah ini mengalami kerusakan parah akibat ketinggian gelombang yang ekstrem (7–12 meter) saat tsunami 2004, sisa-sisa vegetasi di sini sempat memberikan hambatan mekanis bagi aliran air. Saat ini, kawasan ini menjadi pusat rehabilitasi mangrove intensif sebagai benteng pertahanan alami di masa depan.
Menanti Peran Anak Muda
Keberadaan tanaman mangrove juga menjadi habitat alami bagi banyak spesies, termasuk ikan, burung, dan hewan invertebrata lainnya. Sehingga bisa dibilang mangrove punya peran penting dalam menjaga ekosistem di pesisir pantai. Selain itu, mangrove juga punya kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dioksida dalam jumlah besar, lebih tinggi dibandingkan dengan hutan daratan. Kemampuan ini membantu mengurangi dampak perubahan iklim dengan menyerap gas rumah kaca dari atmosfer.
Tak hanya manfaat ekologis, dari sisi ekonomis, seperti yang diceritakan Pak Sururi, mangrove juga menyediakan sumber daya yang penting bagi kehidupan ekonomi banyak orang, seperti kayu bakar, bahan bangunan, dan produk non-kayu lainnya. Keberadaan mangrove juga mendukung industri yang dihasilkan dari budidaya ikan atau tambak udang. Keunikan tanaman mangrove juga menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan, sehingga berpotensi menjadi sumber pendapatan warga lokal melalui ekowisata dan penelitian.
Sementara dari sisi sosial, mangrove punya peran besar melindungi garis pantai dan mengurangi dampak bencana alam. Dengan kata lain, mangrove menjadi benteng terakhir yang berkontribusi pada ketahanan dan keamanan komunitas pesisir. Mangrove juga membantu menjaga kualitas air dengan menyaring polutan dan sedimen.
Hal itu juga yang diyakini konten kreator Jerhemy Owen, anak muda pegiat lingkungan ini, bersama Bakti Lingkungan Djarum Foundation ikut menanam mangrove bersama Pak Sururi dan mahasiswa lainnya. Pemilik akun Instagram @Jerhemynemo itu mengatakan, perlu ada kesadaran anak-anak muda untuk menjaga alam pesisir dengan ikut menanam (kembali) mangrove dan melestarikannya secara masif.
"Anak muda sebenarnya sudah peduli, tapi mereka bingung caranya seperti apa, cara simpelnya seperti apa. Jadi di video-video aku juga aku jelasin, hal-hal simpel yang bisa mereka kerjain, contohnya misal bawa tambler pas lagi pergi, kita bawa tas kita pas belanja. Kita ngabisin makan aja itu sudah salah satu cara untuk ramah lingkungan. Dari hal-hal seperti itu harusnya kita lebih sadar lagi," katanya.
Tanpa dukungan anak-anak muda, keberadaan hutan mangrove bakal menghadapi ancaman serius dari aktivitas manusia, seperti penebangan liar, konversi lahan untuk pertanian dan pembangunan, serta polusi. Maka kolaborasi dengan anak-anak muda, menjadi upaya pelestarian yang dapat dilakukan melalui penanaman kembali, pengelolaan berkelanjutan, pendidikan masyarakat, dan penguatan kebijakan perlindungan lingkungan. Dengan tindakan yang tepat, kita bersama-sama dapat menjaga ekosistem mangrove agar terus memberikan manfaat bagi bumi dan manusia.
Referensi:
Data BPS dan Walhi Jateng
Wawancara Mukromin, korban banjir rob Timbulsloko
Wawancara Sururi, pegiat hutan mangrove pesisir Jateng
Wawancara Prof Sudharto, Guru Besar Manajemen Lingkungan Hidup Universitas Diponegoro
Wawancara Dr Daryono, Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesis (IABI)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541439/original/097363300_1774862795-Wakil_Ketua_KPK_Fitroh_Rohcahyanto_saat_memberi_paparan_di_depan_bupati_dan_wali_kota_serta_ketua_DPRD_se-Jawa_Tengah_di_Semarang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541374/original/050193200_1774860486-Ribuan_ASN_dan_kepala_desa_di_Sulsel_menjalani_latihan_dasar_militer_Komcad.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541165/original/057366200_1774854343-Anggota_TNI_Praka_Farizal_Rhomadhon_gugur_dalam_serangan_Israel_di_Lebanon.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538582/original/001009300_1774526238-Pelaku_pencurian_di_Lampung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540338/original/007632200_1774708239-Polda_Bali_ajukan_red_notice_ke_Interpol.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540327/original/097500200_1774704103-unnamed__45_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539827/original/048770200_1774626565-Gerbang_Tol_Kalikangkung_Semarang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539538/original/099738000_1774604206-Kondisi_jalan_Lintas_Sumatera_di_Lampung_gelap_gulita.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538501/original/039601400_1774520198-Wakil_Menteri_PPPA_Veronica_Tan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538333/original/093407100_1774512657-WhatsApp_Image_2026-03-26_at_13.44.15__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537841/original/020270100_1774468938-IMG_20260313_113512_559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537833/original/008774200_1774468315-IMG-20260315-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537605/original/044126500_1774428572-Orang_utan_di_pusat_rehabilitasi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537188/original/092888700_1774413512-Permukiman_Baru_Kawasi_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2822934/original/063927000_1559665584-Malam-Takbiran6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535249/original/034328500_1773971510-GERBANG_TOL_PUROMARTANI___06.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535114/original/096853300_1773915452-1002517670.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534824/original/030165700_1773894649-Ogoh-Ogoh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533535/original/052931500_1773740651-Tiga_WNA_produksi_video_porno_di_Bali.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2408415/original/054935400_1542192174-Pasar-saham-Indonesia5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436709/original/045635800_1765183427-380f79ba-6a45-41f0-bc7a-194e2d36b504.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429246/original/032997300_1764578532-Mazda_CX-5-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3068178/original/077295500_1583319244-20200304-Dilanda-Corona_-IHSG-Ditutup-Melesat-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429203/original/063551200_1764577249-03-CHANGAN-unveils-DEEPAL-S05-and-showcases-advanced-NEV-lineup-at-46th-Bangkok-International-Motor-Show.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1503744/original/055901900_1486724745-20170210--IHSG-Ditutup-Stagnan--Bursa-Efek-Indonesia-Jakarta--Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4215634/original/079831800_1667629579-Antusias_Warga_Perpanjang_SIM_di_Pelayanan_SIM_Keliling_Polresta_Bogor_Kota-Aida-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5314846/original/077748700_1755142924-1200x0_1_autohomecar__chxpvmib8ycascqnaaliuaxe-2c894-large-1-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460685/original/076880100_1767264471-close-up-man-preparing-steal-motorcycle.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5182875/original/042479600_1744109077-20250408-Penutupan_IHSG-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3356531/original/022216000_1611299595-20210122-IHSG-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4938277/original/097146100_1725613636-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_15.36.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4220931/original/010439400_1668038510-Laba_Rugi_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5433830/original/062587600_1764903535-Banjir_Sukabumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456712/original/049195100_1766922993-bandung_zoo.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384514/original/093137400_1760785093-Kepala_Eksekutif_Pengawasan_Perilaku_Jasa_Keuangan__Edukasi_dan_Perlindungan_Konsumen_OJK_Friderica_Widyasari_Dewi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344976/original/094862600_1757498720-4.jpg)