Perjuangan Remaja 14 Tahun di Kudus Melawan Tumor Otak

4 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Seragam sekolah Bima masih tersimpan. Buku-buku pelajarannya pun belum kembali menemani rutinitas sehari-hari. Sudah dua bulan berlalu, remaja 14 tahun asal Kudus, Jawa Tengah ini, tak lagi duduk di bangku sekolah bersama teman-temannya.

Bima, siswa kelas IX sebuah MTs swasta di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, kini harus lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bukan karena ia kehilangan semangat belajar, melainkan karena penyakit membuat tubuhnya belum mampu kembali menjalani aktivitas seperti remaja seusianya.

Penglihatannya kini terganggu. Tubuhnya juga masih lemah. Untuk berdiri dan berjalan, Bima harus mendapat bantuan dari orang lain.

Di usia yang semestinya dipenuhi kegiatan belajar, bermain, dan bercanda bersama kawan-kawan, hari-hari Bima justru diisi dengan kontrol medis dan proses pemulihan.

Bima merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia seharusnya bersiap menjalani tahun terakhirnya di jenjang MTs. Namun, kondisi kesehatan memaksanya untuk sementara meninggalkan sekolah.

Perjalanan panjang itu bermula saat liburan sekolah. Ketika itu, Bima mulai mengeluhkan kondisi tubuhnya. Ia mengalami mual, muntah, dan sakit kepala.

Keluhannya kemudian semakin berat. Bima bahkan mengalami kejang. “Awalnya muntah, pusing, kemudian kejang,” ujar ibunya, Mas’amah (37) saat ditemui Liputan6.com, Rabu (12/8/2026).

Melihat kondisi putranya semakin memburuk, keluarga segera membawa Bima untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis. Ia sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudus.

Penanganan kemudian berlanjut. Setelah beberapa kali mendapat perawatan, Bima dirujuk ke Rumah Sakit Mardi Rahayu. Di rumah sakit tersebut, Bima menjalani operasi pemasangan selang untuk mengeluarkan cairan dari otak. Ia kemudian harus menjalani perawatan intensif selama sekitar 30 hari.

Dari rangkaian pemeriksaan yang dilakukan, dokter menyampaikan diagnosis tumor otak.

Keluarga kemudian mendapat informasi bahwa Bima membutuhkan penanganan lebih lanjut di RSUP Dr Kariadi Semarang. Namun, rencana tersebut masih menunggu kondisi luka bekas operasi membaik.

“Katanya tumor otak. Nanti kalau lukanya sudah baik, akan dikirim ke Kariadi,” ujar Mas’amah.

Bagi Mas’amah, kabar mengenai kemungkinan tindakan lanjutan itu bukan perkara mudah. Sebagai seorang ibu, ia harus berusaha tegar ketika anaknya masih membutuhkan perawatan panjang.

Namun di balik ketegarannya mendampingi Bima, ada ketakutan yang tak mudah disembunyikan oleh ibu tiga orang anak tersebut.

Air mata Mas’amah jatuh, ketika membayangkan putranya kembali harus menjalani operasi. Bima masih begitu muda, sementara kondisi fisiknya belum sepenuhnya pulih.

“Saya takut kehilangan anak saya,” ucap Mas’amah dengan suara bergetar.

Ketakutan itu tidak membuatnya berhenti. Mas’amah tetap berada di sisi Bima, mendampingi setiap kontrol dan perawatan sembari menunggu luka anaknya membaik.

Di tengah kondisi tersebut, ada satu hal yang masih membuat keluarga sedikit lega. Kemampuan komunikasi Bima hingga kini masih baik.

Ia masih bisa berbicara dengan lancar dan makan seperti biasa. Hanya saja, penglihatannya mengalami gangguan.

“Komunikasinya bisa, lancar. Cuma penglihatannya yang terganggu,” tutur Mas’amah.

Gangguan penglihatan itu membuat ruang gerak Bima semakin terbatas. Untuk berjalan, tubuhnya masih harus ditopang. Bahkan untuk bangkit dan mengangkat tubuhnya sendiri, ia belum mampu melakukannya tanpa bantuan.

Kondisi itu pula yang membuat Bima harus melupakan sesaat untuk bisa duduk di bangku sekolah selama dua bulan terakhir.

Tempat yang sebelumnya menjadi bagian dari kesehariannya, kini hanya bisa ia bayangkan. Bangku kelas, buku pelajaran, guru, dan teman-temannya harus sementara ia tinggalkan.

Bagi Bima, kembali ke sekolah kini menjadi sebuah harapan yang harus menunggu. Ia perlu memulihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum kembali mengenakan seragam dan duduk bersama teman-temannya.

Di tengah perjuangan tersebut, biaya pengobatan Bima ditanggung melalui BPJS. Namun, keluarga tetap harus memikirkan kebutuhan lain yang muncul selama proses pengobatan, terutama biaya perjalanan untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan.

Jika nantinya Bima harus menjalani pengobatan lanjutan di RSUP Dr Kariadi Semarang, keluarga juga harus bersiap menempuh perjalanan Kudus-Semarang secara berulang.

Ayah Bima sehari-hari bekerja sebagai pekerja bangunan. Sementara Mas’amah merupakan ibu rumah tangga. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, keduanya berusaha tetap mendampingi Bima melewati setiap tahapan pengobatan.

Bagi Mas’amah, tidak ada keinginan yang muluk. Ia hanya ingin melihat putranya kembali sehat.

Ia ingin Bima bisa berdiri tanpa dipapah, berjalan sendiri, dan melihat dunia dengan lebih jelas seperti sebelumnya. “Saya hanya ingin anak saya sehat, cuma itu saja,” ucapnya.

Mas’amah juga berharap doa dari masyarakat untuk kesembuhan putranya. Di tengah panjangnya proses pengobatan yang harus dijalani, doa menjadi salah satu kekuatan yang terus ia pegang.

“Saya tidak minta apa-apa, cuma bantuan doa saja. Semoga adiknya sehat,” katanya.

Kini keluarga masih menunggu kondisi luka Bima membaik sebelum penanganan lanjutan di RSUP Dr Kariadi Semarang dapat dilakukan.

Dua bulan telah berlalu sejak Bima terakhir kali mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Buku dan seragam sekolah untuk sementara tergantikan oleh jadwal kontrol, obat-obatan, serta proses pemulihan.

Namun, harapan untuk kembali ke sekolah belum hilang. Di tengah penglihatan yang tak lagi jelas dan tubuh yang belum mampu berdiri sendiri, Bima masih memiliki keinginan sederhana: kembali menjalani kehidupan seperti remaja seusianya.

Di sampingnya, Mas’amah terus bertahan. Ia menahan cemas, menyeka air mata dan mendampingi setiap langkah pengobatan putranya.

Sebab bagi seorang ibu, harapan itu sesungguhnya sederhana. Melihat Bima kembali sehat, mampu berdiri dengan kuat, berjalan tanpa dipapah, dan suatu hari nanti kembali mengenakan seragam sekolahnya.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |