Hartadinata Cetak Rekor Laba dan Pendapatan, Ini Pendorongnya

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah pada 2025. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp44,55 triliun, melonjak 144,39 persen secara tahunan dibandingkan Rp18,23 triliun pada 2024.

Laba bersih juga mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp978,49 miliar, atau tumbuh 121,29 persen dari Rp442,18 miliar pada tahun sebelumnya.

Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, menyebut capaian ini didorong oleh peningkatan volume penjualan, penguatan harga emas, serta kontribusi kuat dari segmen institusi.

“Kinerja Perseroan hingga akhir tahun 2025 menunjukkan hasil yang sangat positif, dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang signifikan. Hal ini didukung oleh peningkatan volume penjualan, penguatan harga emas, serta kontribusi yang semakin solid dari segmen institusi seperti Bullion Bank dan jaringan ritel Perseroan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).

Dari sisi profitabilitas, HRTA mencatat Return on Assets (ROA) sebesar 7,76 persen dan Return on Equity (ROE) mencapai 30,29 persen. Sementara itu, rasio utang berbunga terhadap ekuitas tetap terjaga di level 1,39 kali.

Kontribusi terbesar berasal dari segmen grosir sebesar 87,57 persen, diikuti ritel 11,68 persen dan gadai 0,32 persen.

Harga Emas Global Tertekan, Ini Penyebabnya

Di tengah kinerja positif perusahaan, harga emas global sempat mengalami tekanan dalam jangka pendek. Pada 23 Maret 2026, harga emas tercatat menyentuh USD4.100 per troy ons.

Tekanan ini dipicu oleh berbagai faktor global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga dinamika ekonomi makro.

Gangguan pasokan energi mendorong negara pengimpor menggunakan cadangan devisa untuk kebutuhan impor, sehingga mengurangi permintaan terhadap emas. Di sisi lain, negara eksportir energi juga berpotensi menjual emas untuk menutup tekanan fiskal.

Selain itu, penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta ekspektasi penundaan penurunan suku bunga turut menekan daya tarik emas sebagai aset investasi.

Aksi ambil untung (profit taking) oleh investor institusi dan pergeseran dana ke pasar saham global juga mempercepat pelemahan harga emas dalam jangka pendek.

Prospek Emas Tetap Positif, HRTA Kejar Standar Global

Meski menghadapi tekanan jangka pendek, prospek emas secara fundamental dinilai tetap positif.

Sejumlah analis global memperkirakan harga emas akan meningkat pada 2026, didukung oleh pembelian bank sentral, ketidakpastian geopolitik, serta potensi penurunan suku bunga.

Berdasarkan survei Reuters, harga emas diperkirakan berada di kisaran USD4.700 per troy ons. Bahkan, proyeksi optimistis menyebut harga dapat mencapai USD5.000 hingga lebih dari USD6.000 per troy ons.

Sejalan dengan peluang tersebut, HRTA tengah menyelesaikan proses sertifikasi dari London Bullion Market Association (LBMA) untuk meningkatkan standar kualitas dan tata kelola perusahaan.

“Kami akan terus fokus pada penguatan ekosistem emas terintegrasi, penguatan ekuitas merek, optimalisasi jaringan distribusi, serta inovasi produk untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutup Sandra.

Dengan strategi tersebut, HRTA optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama di industri emas nasional.

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |